Aryuu the unknowable god-Chapter 6: Bab 5: Rahasia yang Mulai Terbuka

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 6 - Bab 5: Rahasia yang Mulai Terbuka

Lonceng istirahat berbunyi, menandakan waktu makan siang telah tiba. Namun, aku tidak beranjak dari bangkuku. Pikiranku masih penuh dengan kata-kata Akeno tadi pagi.

Aryuu (dalam hati, menatap meja kosong): "Aku tahu dia mencurigaiku, tapi... bagaimana? Aku sudah sangat berhati-hati. Tidak mungkin hanya karena kejadian kemarin dia bisa menyadari sesuatu yang lebih besar..."

Aku menghela napas panjang.

Aryuu (dalam hati, menyandarkan kepala ke kursi): "Tidak. Aku tidak boleh panik. Aku hanya perlu... mencari tahu seberapa banyak yang dia tahu."

Namun, sebelum aku bisa menyusun rencana, suara lembut namun tegas menyapaku.

Akeno (berdiri di sebelah bangku Aryuu, tersenyum): "Kau tidak makan siang, Aryuu?"

Aku menoleh ke arahnya. Matanya—bening, namun penuh dengan sesuatu yang tersembunyi. Seolah dia menungguku untuk mengakui sesuatu.

Aryuu (datar, menatapnya): "Aku tidak terlalu lapar."

Follow current novels on freewebnσvel.cѳm.

Akeno (tersenyum tipis, menarik bangku dan duduk di depanku): "Bagus. Karena aku ingin bicara denganmu."

Aku tetap diam, menunggu.

Akeno (menatap serius): "Aku tidak akan bertele-tele. Aku tahu kau bukan manusia biasa."

Kata-kata itu bagai pisau yang menembus keheningan.

Aku tidak menunjukkan reaksi apa pun, tapi dalam hati aku tahu, aku harus berhati-hati sekarang.

Aryuu (datar, menatap Akeno): "Kau bicara seolah kau tahu segalanya."

Akeno (tersenyum kecil): "Tidak, aku tidak tahu segalanya. Tapi aku tahu cukup banyak untuk menyadari kalau kau berbeda."

Aku menatapnya lebih dalam.

Aryuu (bersandar di kursi, melipat tangan): "Kau tahu cukup banyak, katamu? Baiklah. Aku akan bertanya. Seberapa banyak yang kau ketahui tentang aku?"

Akeno diam sejenak, lalu menatapku dengan mata yang entah kenapa terasa menusuk.

Akeno (berbisik pelan, namun penuh makna): "Aku tahu... kalau kau bukan berasal dari sini."

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Aku bisa saja menyangkalnya, berpura-pura tidak mengerti, atau menertawakannya. Tapi tatapan Akeno terlalu yakin.

Aryuu (menatap tajam, namun tetap tenang): "Apa maksudmu?"

Akeno (menyandarkan punggungnya, masih menatapku lekat-lekat): "Kau tahu maksudku, Aryuu."

Aku tetap diam.

Namun, Akeno tidak berhenti di situ.

Akeno (menyipitkan mata, mencondongkan tubuh ke depan): "Energi sihir yang kau keluarkan kemarin... aku bisa merasakannya, walau hanya sesaat. Dan itu bukan sihir biasa."

Aku sedikit mengerutkan dahi.

Aryuu (dalam hati): "Jadi dia bisa merasakan auraku... Hmph, menarik. Tidak banyak manusia yang bisa peka terhadap sesuatu yang hanya muncul sekilas."

Akeno (lanjut, masih dengan suara pelan namun tajam): "Aryuu, siapa sebenarnya kau?"

Aku menghela napas.

Aku bisa merasakan seluruh ruangan terasa lebih sunyi, meski di sekitar kami para siswa lain masih berbicara dan tertawa.

Aryuu (mengangkat bahu, datar): "Aku hanya seorang murid biasa."

Akeno tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak menunjukkan kebodohan.

Akeno (menatap tajam): "Aku tidak akan memaksa jawabannya sekarang. Tapi suatu hari nanti... kau sendiri yang akan mengatakannya padaku."

Aku menatapnya, berusaha mencari tahu apa yang dia rencanakan. Namun, tidak ada tanda-tanda kebohongan di wajahnya.

Dia benar-benar percaya bahwa aku akan mengungkapkan semuanya... suatu hari nanti.

Dan yang lebih membuatku penasaran adalah kepercayaan dirinya. Seolah dia tahu sesuatu yang aku tidak tahu.

Aryuu (dalam hati, menyipitkan mata): "Akeno Akame... siapa sebenarnya kau?"

Namun, sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, lonceng berbunyi lagi—tanda istirahat telah usai.

Akeno berdiri, tersenyum padaku seperti biasa.

Akeno (sambil mengambil tasnya): "Kalau begitu, sampai nanti, Aryuu."

Dia berjalan pergi, meninggalkanku yang masih diam di tempat.

Aku menghela napas pelan.

Aryuu (dalam hati, tatapan ke luar jendela): "Sial... sepertinya hidupku di dunia ini tidak akan bisa tenang begitu saja."

---

Malam itu

Aku duduk di atap rumahku, menatap langit yang penuh bintang.

Aryuu (dalam hati, bergumam): "Seberapa banyak yang dia ketahui...? Dan bagaimana dia bisa tahu...?"

Aku menatap telapak tanganku. Cahaya redup hitam kebiruan berkilau sesaat sebelum aku menutupinya kembali.

Seketika itu juga, aku bisa merasakan sesuatu.

Seseorang... mengamatiku.

Aku segera menoleh ke arah gang kecil di bawah, tapi tidak ada siapa pun di sana.

Namun, aku tahu.

Aku tidak sendirian malam ini.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku turun ke dunia ini, aku mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Sesuatu yang mungkin... bahkan aku sendiri tidak menyadarinya.

---

Bab 5 - Tamat

Bersambung ke Bab 6: "Bayangan di Kegelapan"