Aryuu the unknowable god-Chapter 5: Bab 4: Pertemuan yang Membuka Tabir Rahasia

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 5 - Bab 4: Pertemuan yang Membuka Tabir Rahasia

Langit sore mulai dihiasi warna jingga keemasan saat aku melangkah pelan pulang dari akademi. Bias cahaya senja menyentuh wajahku yang sejak tadi masih dipenuhi berbagai pikiran.

Aryuu (dalam hati, tatapan kosong ke langit): "Akeno... mengapa aku terus memikirkan gadis itu? Apa karena dia yang pertama bersikap baik padaku? Atau ada sesuatu yang lain?"

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak yang bahkan aku sendiri tak mengerti.

Langkah kakiku membawa ke jalan kecil menuju rumahku. Tak banyak orang yang lewat di sini, mungkin karena daerah ini memang termasuk wilayah pinggiran yang kumuh.

Namun, tiba-tiba...

Suara lirih (terdengar di lorong sempit): "Tolong... hentikan..."

Aku berhenti. Suara itu... terdengar lemah, seolah seseorang sedang disakiti.

Aryuu (mengernyitkan dahi, tatapannya tajam): "Ada yang terjadi?"

Rasa penasaran membawaku mendekat. Dan di ujung gang, aku melihat seorang gadis kecil dikerumuni tiga orang lelaki bertubuh besar, tampaknya preman kota ini.

Preman 1 (menarik tas gadis itu, kasar): "Dasar bocah! Beraninya kau lewat sini tanpa bayar pajak jalan! Mana uangmu?!"

Gadis kecil (menangis, ketakutan): "Aku... aku nggak punya uang..."

Preman 2 (tertawa kejam): "Kalau begitu, bawa saja dia ke markas. Bisa jadi hiburan, hahaha!"

Mataku menyipit. Rasa muak memenuhi dadaku.

Aryuu (dalam hati, datar namun dingin): "Bahkan di dunia ini, manusia masih saling memangsa yang lemah..."

Aku berjalan pelan mendekati mereka, langkahku nyaris tanpa suara.

Aryuu (tenang namun tajam): "Lepaskan dia."

Ketiganya menoleh, menatapku dari atas ke bawah.

Preman 1 (mengejek): "Hah? Si miskin Aryuu? Apa yang kau mau, hah?!"

Preman 3 (tertawa meremehkan): "Mau sok jadi pahlawan? Lihat diri sendiri dulu!"

Aku hanya menatap mereka tanpa ekspresi.

Aryuu (datar): "Aku bilang... lepaskan dia."

Preman 2 (mendekat, menatap tajam): "Kalau tidak, kau mau apa, hah? Mau lawan kami? Kau bahkan gak bisa sihir dasar, kan?"

Aku menatap tajam ke arah mereka, dan tanpa sadar auraku sedikit keluar, walau segera kutahan. Seketika itu juga ketiganya tampak gemetar sebentar, meski berusaha menahan ketakutan yang muncul tiba-tiba.

Aryuu (senyum tipis, dingin): "Aku tidak suka mengulang perintahku."

Preman 1 (berusaha keras untuk tegar): "B-Bajingan! Rasakan ini!"

Dia melayangkan pukulan ke arahku. Namun, pukulan itu bahkan tak sempat menyentuh wajahku, aku hanya memiringkan kepala sedikit, dan tinjunya melewati udara kosong.

Aryuu (tenang, lirih): "Lambat."

Seketika aku menggerakkan satu jari ke arah dadanya.

Aryuu (datar): "Pergilah."

Dor!

Sebuah dorongan tak terlihat menghantam dada preman itu, membuatnya terpelanting hingga menabrak tembok.

Preman 2 & 3 (terkejut): "A-apa?!"

Aryuu (tatapan tajam): "Kalian mau ikut?"

Tanpa pikir panjang, dua preman lainnya mengangkat temannya yang pingsan dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Aku memalingkan pandangan pada gadis kecil yang masih gemetar.

Aryuu (lembut, mendekat perlahan): "Kau baik-baik saja?"

Gadis itu mengangguk pelan meski air mata masih mengalir di pipinya.

Gadis kecil (lirih): "Te-terima kasih, Kak..."

Aku tersenyum tipis.

Aryuu (mengusap kepala gadis itu): "Berhati-hatilah. Jangan lewat sini lagi sendirian."

Dia mengangguk lagi, lalu lari kecil meninggalkan tempat itu.

Aku menghela napas panjang.

Aryuu (dalam hati, tatap kosong ke langit): "Padahal aku datang ke dunia ini untuk tidak ikut campur... tapi kenapa? Kenapa aku tidak bisa diam melihat hal seperti itu?"

---

Saat aku melangkah pulang, aku tidak sadar ada seseorang yang mengawasi dari kejauhan.

Akeno Akame, berdiri di balik bayangan bangunan, memperhatikan dengan mata tajam dan senyum samar.

Akeno (berbisik pelan): "Aryuu... siapa sebenarnya kamu? Apa kau sama sekali tidak tahu... siapa dirimu?"

---

Keesokan harinya, di akademi, suasana kelas ramai seperti biasa. Aku duduk di pojok, melamun.

Tiba-tiba Akeno mendekat, meletakkan tasnya di sebelahku.

Akeno (tersenyum ramah): "Aryuu, pagi."

Aryuu (tersadar, menoleh): "Ah, pagi, Akeno."

Namun, matanya menatapku tajam, seolah menyelidik.

Akeno (dengan nada lembut tapi tegas): "Kemarin sore... kau menyelamatkan gadis kecil itu, kan?"

Aku terdiam, kaget dia tahu.

Aryuu (berusaha tenang): "Kau... melihatnya?"

Akeno (tersenyum penuh arti): "Aku melihat segalanya. Dan aku tahu, kau bukan sekadar manusia biasa."

Aku menatapnya, mencoba membaca maksud dari kata-katanya.

Read lat𝙚st chapters at fɾeewebnoveℓ.co๓ Only.

Aryuu (serius): "Apa maksudmu, Akeno?"

Akeno (menunduk, lalu menatapku tajam): "Aku tahu siapa dirimu, Aryuu. Atau setidaknya, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu yang besar. Aku bisa merasakan... kekuatan yang tidak bisa dipahami manusia."

Aku terdiam lama.

Aryuu (dalam hati, waspada): "Jadi dia tahu? Tapi... bagaimana?"

Akeno (tersenyum tipis, namun mata serius): "Tenang saja. Aku tidak akan memberitahu siapa pun. Tapi... bisakah kau jujur padaku, Aryuu? Siapa kau sebenarnya?"

Aku menatapnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, ada manusia yang membuatku berpikir keras... apakah aku harus membuka diri?

Namun sebelum aku sempat menjawab, lonceng akademi berbunyi, tanda pelajaran dimulai.

Akeno (berbisik sambil tersenyum): "Nanti saat istirahat, Aryuu. Aku tunggu jawabannya."

Dia lalu berjalan ke bangkunya, meninggalkanku yang masih diam membisu.

Aryuu (dalam hati, gelisah): "Kenapa... kenapa aku merasa dia berbeda? Siapa Akeno Akame sebenarnya?"

---

Bab 4 - Tamat

Bersambung ke Bab 5: "Rahasia yang Mulai Terbuka"