Aryuu the unknowable god-Chapter 7: Bab 6: Bayangan di Kegelapan---

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 7 - Bab 6: Bayangan di Kegelapan---

Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin yang biasanya berhembus lembut kini terasa lebih dingin, menusuk kulit. Aku masih duduk di atap rumah, menatap langit yang penuh bintang.

Namun, pikiranku tidak berada di sana.

Aku merasa ada sesuatu yang salah.

Bukan hanya perasaan aneh yang datang tiba-tiba, tapi juga karena aku sadar... aku sedang diawasi.

Updat𝓮d fr𝙤m ƒгeeweɓn૦vel.com.

Tidak ada suara, tidak ada gerakan mencurigakan di sekitar. Namun, aku tahu.

Aku bukan satu-satunya yang ada di sini.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan lingkungan di sekitarku dengan lebih dalam.

...

Satu.

Dua.

Tidak. Lebih dari itu.

Ada beberapa orang di sekitar rumah ini.

Aku menarik napas pelan.

Aryuu (dalam hati, tetap tenang): "Sepertinya aku mulai menarik perhatian yang tidak diinginkan."

Aku berdiri perlahan, masih tetap berpura-pura tidak menyadari kehadiran mereka.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar.

Seseorang melompat dari bayangan, mendarat di atap yang berlawanan denganku.

Aku menoleh, melihat sosok berjubah hitam dengan wajah tertutup kain, hanya menyisakan mata yang berkilat tajam.

Lalu, satu persatu bayangan lainnya mulai muncul dari sudut gelap kota.

Tiga... empat... lima... delapan orang.

Aku menghela napas, sedikit kecewa.

Aryuu (datar, menatap mereka): "Kalau kalian bersembunyi lebih lama, mungkin aku bisa berpikir kalian lebih cerdas."

Salah satu dari mereka melangkah maju, tampaknya pemimpin kelompok ini.

???: "Aryuu... kau membuat banyak orang tertarik padamu."

Aku tetap diam, menunggu mereka berbicara lebih jauh.

Pemimpin Bayangan: "Kami telah mengawasimu sejak hari pertama kau masuk akademi. Kau mungkin menyamar sebagai manusia biasa, tapi kami tahu ada sesuatu yang lebih dari dirimu."

Aku tersenyum kecil.

Aryuu (santai, melipat tangan): "Dan? Apa yang kalian inginkan?"

Sang pemimpin menajamkan tatapannya.

Pemimpin Bayangan: "Informasi. Kami ingin tahu siapa kau sebenarnya."

Aku tertawa pelan.

Aryuu (menggeleng pelan): "Begitu ya... dan kalian pikir aku akan memberitahukan itu begitu saja?"

Pemimpin itu tidak tersenyum.

Pemimpin Bayangan: "Kalau kau tidak mau bekerja sama... maka kami akan memaksamu."

Seketika itu juga, seluruh anggota kelompoknya menghunuskan senjata.

Aku memejamkan mata, menghela napas panjang.

Aryuu (datar, membuka mata kembali): "Aku benar-benar tidak ingin membuat keributan malam ini... Tapi sepertinya kalian tidak memberi pilihan lain."

Angin malam berhembus lebih kencang.

Suara tajam pedang ditarik keluar memenuhi udara.

Dan dalam sekejap—mereka bergerak.

---

Serangan Dimulai

Salah satu dari mereka langsung melompat ke arahku dengan kecepatan tinggi, pedangnya menyala dengan sihir biru.

Aku tetap diam di tempat.

Saat pedangnya hampir menyentuh tubuhku—

SREEKKK!!

Aku menunduk sedikit, menghindari serangan itu dengan mudah.

Orang itu melewatiku dan mendarat di belakang, lalu berbalik dengan cepat, bersiap menyerang lagi.

Tapi sebelum dia sempat bergerak...

Aku menoleh ke arahnya, menatap langsung ke matanya.

Aryuu (datar): "Terlalu lambat."

Tanpa perlu menggerakkan tubuhku, udara di sekitar langsung bergetar hebat.

"KHRAAKKK!!"

Orang itu tiba-tiba terpental ke belakang, menghantam dinding dengan keras hingga temboknya retak.

Yang lainnya langsung menyerang bersamaan.

Tiga dari kanan, dua dari kiri, dua lagi menyerang dari belakang.

Aku melangkah maju dengan santai.

Saat salah satu dari mereka mengayunkan pedangnya—

Aku hanya mengangkat satu jari.

TINGG!!

Pedang itu berhenti di udara, seakan menabrak sesuatu yang tidak terlihat.

Mata penyerang melebar.

???: "A-apa...?"

Aku hanya tersenyum tipis.

Dan dalam sekejap—

DORR!!

Orang itu terlempar ke belakang seperti tertabrak kekuatan tak kasat mata.

Dua lainnya yang datang dari kiri langsung menusukkan pedang mereka ke arahku.

Aku memiringkan tubuh sedikit.

Pedang mereka meleset hanya beberapa milimeter dari kulitku.

Aku menatap mereka sekilas, lalu tanpa peringatan—

Aku menjentikkan jari.

"BOOM!!"

Sebuah gelombang tak terlihat menghantam mereka, membuat tubuh mereka berputar di udara sebelum jatuh menghantam atap dengan keras.

Yang tersisa sekarang hanya sang pemimpin.

Dia menatapku dengan ekspresi sulit dijelaskan—antara marah dan takut.

Aku berjalan mendekatinya perlahan.

Aryuu (menatap tajam): "Masih ingin mencoba peruntunganmu?"

Pemimpin itu menahan nafas, tangannya sedikit gemetar di gagang pedangnya.

Namun, dia tetap berdiri tegak.

Pemimpin Bayangan: "...Kami tidak bisa kembali dengan tangan kosong."

Aku menghela napas.

Aryuu (menggeleng pelan): "Bodoh."

Dan dalam sekejap, aku menghilang dari tempatku berdiri.

Pemimpin itu terkejut.

Dia bahkan tidak bisa melihat ke mana aku pergi.

Sebelum dia bisa bereaksi—

Aku sudah ada di belakangnya.

Aryuu (berbisik di telinganya): "Tidurlah."

DORR!!

Udara di sekitarnya bergetar hebat, dan tubuhnya langsung melemas.

Dia jatuh ke tanah, pingsan tanpa sempat memahami apa yang baru saja terjadi.

Aku berdiri di antara tubuh mereka yang tergeletak, menatap sekeliling.

Aryuu (dalam hati): "Siapa mereka sebenarnya...? Dan siapa yang mengirim mereka?"

Aku menatap ke langit malam.

Malam ini, aku menyadari satu hal...

Aku tidak bisa terus bermain sebagai manusia biasa.

Karena ada yang mulai mencari tahu tentang diriku.

Dan entah kenapa, aku merasa...

Ini baru permulaan.

---

Bab 6 - Tamat

Bersambung ke Bab 7: "Jejak di Balik Bayangan"