Aryuu the unknowable god-Chapter 8: Bab 7: Jejak di Balik Bayangan---
Chapter 8 - Bab 7: Jejak di Balik Bayangan---
Malam itu masih terasa dingin. Tubuh-tubuh para penyerang tergeletak tak sadarkan diri di atap, diterangi rembulan yang menggantung tinggi di langit. Aku menatap mereka sejenak, mencoba mencari tahu apakah mereka masih bernapas.
Aryuu (dalam hati): "Tidak ada yang mati... bagus. Aku tidak ingin menarik perhatian lebih dari yang sudah kulakukan."
Aku berjongkok di samping sang pemimpin, menarik tudungnya perlahan.
Seorang pria muda dengan rambut hitam panjang dan luka di pipinya terlihat. Wajahnya tidak asing, tapi juga bukan seseorang yang pernah kulihat sebelumnya.
Aku menyentuh dahinya dengan dua jari.
Dalam sekejap, pikirannya terbuka bagiku.
Kilasan ingatan melintas—
Sebuah ruangan gelap dengan lilin yang menyala di tengahnya.
Sosok berjubah hitam duduk di atas singgasana batu, berbicara dengan suara berat.
???: "Awasi bocah itu. Dia tidak seperti yang lain."
Pemimpin Bayangan: "Tapi... dia hanya anak biasa. Energinya terlalu lemah dibandingkan siswa lain di akademi."
Sosok itu tertawa pelan.
???: "Justru karena itu. Tidak ada yang seharusnya memiliki energi serendah itu. Dunia ini memiliki batas bawah kekuatan seseorang... dan dia berada di bawah batas itu. Itu bukan hal yang mungkin terjadi secara alami."
Gambarannya menghilang, dan aku kembali ke dunia nyata.
Aku berdiri, membiarkan pemimpin itu tetap pingsan.
Aryuu (dalam hati): "Jadi ada seseorang yang menyadari anomali dalam diriku... dan dia mengirim orang-orang ini untuk menyelidikiku."
Aku menarik napas dalam, lalu menutup mata sejenak.
Mereka tidak akan bangun dalam beberapa jam ke depan. Sudah cukup bagiku untuk menghilang sebelum mereka sadar.
Tanpa suara, aku menghilang ke dalam bayangan malam.
---
Keesokan Harinya
Suasana akademi tetap sama seperti biasa. Para siswa berjalan dengan semangat, beberapa berlatih sihir di halaman, sementara yang lain berkumpul membicarakan ujian yang akan datang.
Aku duduk di bangku taman akademi, berpura-pura membaca buku.
Namun, pikiranku masih tertuju pada kejadian tadi malam.
Aryuu (dalam hati): "Siapa orang yang memberi perintah kepada mereka...? Dan apa yang dia curigai dariku?"
Aku menghela napas pelan.
Seseorang duduk di sebelahku.
Aku melirik ke samping dan melihat Akeno Akame, gadis berambut perak yang selalu tampak ceria meski dunia di sekelilingnya bisa penuh kekacauan.
Akeno (tersenyum, melirik bukuku): "Kau serius membaca itu?"
Aku melirik judul bukunya— 'Teori Dasar Manipulasi Energi'.
Sebenarnya, aku bahkan tidak membaca satu kata pun dari buku ini.
Aryuu (santai): "Tentu saja. Kenapa?"
Akeno (tertawa kecil): "Karena kau sudah membalik halaman yang sama tiga kali dalam lima menit."
Aku diam, lalu menutup bukuku perlahan.
Aryuu (menghela napas): "Baiklah, kau menang."
Akeno menyandarkan punggungnya ke bangku, menatap langit.
Akeno: "Jadi, apa yang sebenarnya kau pikirkan?"
Aku menoleh padanya.
Dia menatapku dengan ekspresi serius—sesuatu yang jarang kulihat darinya.
Aku berpikir sejenak.
Aku bisa mengatakan yang sebenarnya... tapi itu akan terlalu berisiko.
Jadi, aku hanya tersenyum kecil.
Aryuu (tenang): "Tidak ada yang penting. Aku hanya lelah."
Akeno masih menatapku, seolah mencoba mencari kebohongan dalam kata-kataku.
Tapi akhirnya, dia menghela napas dan tersenyum lagi.
Akeno: "Baiklah, kalau kau tidak mau cerita, aku tidak akan memaksamu. Tapi kalau kau butuh seseorang untuk mendengarkan, aku di sini."
Aku terdiam sejenak.
Itu... bukan sesuatu yang sering kudengar dari orang lain.
Aku mengangguk pelan.
Aryuu (pelan): "...Terima kasih."
This chapt𝙚r is updated by freeωebnovēl.c૦m.
Akeno tersenyum lebih lebar.
Akeno: "Tentu! Sekarang ayo, kelas hampir dimulai!"
Dia berdiri, menarik tanganku agar aku ikut berdiri.
Aku tertawa kecil dan mengikuti langkahnya.
Tapi di dalam kepalaku, pertanyaan itu masih berputar.
Siapa yang mengawasiku?
Dan seberapa banyak yang sudah mereka ketahui?
---
Malam Hari
Aku kembali ke rumah setelah seharian di akademi.
Aku duduk di depan meja, menatap kosong ke arah lilin yang menyala di sampingku.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari jendela.
Aku langsung menoleh.
Di luar, bayangan seseorang berdiri di bawah sinar bulan.
Aku berdiri perlahan, membuka jendela dengan hati-hati.
Aryuu (datar): "Siapa kau?"
Sosok itu melangkah lebih dekat, dan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Seorang pria tua dengan jubah abu-abu panjang, rambut putih, dan mata tajam yang seolah bisa menembus jiwaku.
Dia menatapku dengan ekspresi netral.
???: "Akhirnya kita bertemu, Aryuu."
Aku mempersempit mataku.
Aryuu: "Kau tahu namaku... siapa kau?"
Orang itu tersenyum kecil.
???: "Seseorang yang memiliki banyak pertanyaan. Dan aku yakin... kau memiliki banyak jawaban."
Aku diam, menganalisis aura orang ini.
Dia kuat. Sangat kuat. Tapi lebih dari itu...
Dia tidak menunjukkan niat membunuh.
Aku menutup jendela perlahan.
Aryuu: "...Masuklah."
Orang itu melangkah masuk ke dalam rumah, duduk di kursi di hadapanku.
Aku tetap berdiri, menatapnya dengan hati-hati.
Aryuu: "Apa yang kau inginkan?"
Orang itu menatap mataku dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara.
???: "Aku datang untuk memberimu peringatan."
Aku mengangkat alis.
Aryuu: "Peringatan?"
Orang itu mengangguk.
???: "Kau telah menarik perhatian seseorang yang seharusnya tidak kau inginkan sebagai musuh."
Aku terdiam.
Aryuu (dalam hati): "Jadi mereka benar-benar sedang mengawasiku..."
Aku menatap pria itu tajam.
Aryuu: "Siapa yang kau maksud?"
Pria itu menghela napas pelan.
???: "Seseorang yang berdiri di luar batas dunia ini. Dia mengamati dari jauh, mencari sesuatu... atau seseorang."
Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam kata-katanya.
Seolah...
Seolah dia sedang berbicara tentang seseorang yang aku kenal.
Aku mengepalkan tangan.
Aryuu: "Apa kau tahu siapa dia?"
Pria itu diam sejenak, lalu menatapku dalam.
Dan akhirnya, dia berkata dengan suara rendah.
???: "Dia menyebut dirinya... Lucius Varvatos."
Dunia seakan membeku sejenak.
Aku merasakan sesuatu dalam dadaku—sebuah firasat buruk yang tidak bisa kuabaikan.
Nama itu...
Kenapa rasanya seperti aku pernah mendengarnya sebelumnya?
Aryuu (berkata dalam hati): "dia... akhirnya muncul tapi mana mungkin dia akan muncul begitu saja? tidak bisa dipercaya, namun siapa mahluk itu yang mengaku sebagai Lucius Varvaratos? harus ku akui dengan memakai nama nya dia cukup berani... menarik!!... mari kita lihat sampai mana nyali itu!"
Aku menatap pria itu dengan serius.
Aryuu: "...Katakan padaku segalanya."
Pria itu tersenyum kecil, lalu mulai berbicara.
Dan aku tahu...
Malam ini, aku akan mendengar sesuatu yang akan mengubah segalanya.
---
Bab 7 - Tamat
Bersambung ke Bab 8: "Kebenaran yang Tersembunyi"