Aryuu the unknowable god-Chapter 9: Bab 8 - Pertemuan dengan Anomali yang mengaku sebagai lucius Entitas mutlak yang lebih tidak terdefinisi dari ku
Chapter 9 - Bab 8 - Pertemuan dengan Anomali yang mengaku sebagai lucius Entitas mutlak yang lebih tidak terdefinisi dari ku
Di luar batas eksistensi...
Di tempat di mana bahkan ketiadaan pun tidak bisa didefinisikan, aku berdiri. Di sekelilingku, tidak ada cahaya, tidak ada kegelapan—hanya kehampaan yang tidak bisa dijelaskan dengan konsep apapun. Ini adalah wilayah yang bahkan makhluk tertinggi pun tidak bisa pahami.
Namun, aku tidak sendirian di sini.
Sebuah kehadiran muncul di kejauhan, perlahan merayap mendekat.
Aku tetap diam, menunggu.
Lalu, suara langkah kaki terdengar.
Srek... Srek...
Dari ketiadaan, sosok itu muncul.
Pria bertubuh tinggi, berambut putih dengan jubah hitam berhiaskan simbol-simbol yang tampaknya melampaui segala hukum eksistensi. Matanya merah bercahaya seperti bintang yang sekarat, dan senyumnya mencerminkan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Dia berhenti sekitar beberapa meter dariku, menyeringai dengan penuh percaya diri.
???: "Akhirnya, Aryuu the God of Darkness."
Aku tetap menatapnya tanpa ekspresi.
Aryuu: "Siapa kau?"
Senyumnya semakin lebar.
???: "Aku?"
Dia menyebarkan kedua tangannya seolah hendak memperkenalkan dirinya dengan cara paling dramatis.
"Aku adalah Lucius Varvatos. Raja segala kegelapan. Anomali tertinggi. Penguasa yang seharusnya tidak pernah ada."
Aku tidak bereaksi.
Aryuu (datar): "Lucius Varvatos yang asli tidak akan mengenalkan dirinya dengan cara sampah seperti itu."
Senyum pria itu sedikit meredup, tetapi dia dengan cepat mengendalikannya.
Lucius Palsu: "Tajam sekali, Aryuu. Tapi apakah kau yakin aku bukan Lucius yang asli?"
Aku hanya menatapnya dengan penuh penghinaan.
Aryuu (dingin): "Kau hanya bayangan tanpa substansi. Tidak lebih dari lelucon murahan."
Visit ƒree𝑤ebnσvel.com for the 𝑏est n𝘰vel reading experience.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresinya berubah. Senyum itu memudar, berganti dengan sorot mata yang tajam.
Lucius Palsu: "Lucu sekali. Aku datang ke sini untuk berbicara, tetapi kau malah memilih menghina."
Tiba-tiba, atmosfer berubah.
Aku merasakan tekanan yang tidak berasal dari ruang atau waktu, tetapi dari sesuatu yang lebih dalam. Dimensi-dimensi di sekitar kami mulai bergetar, seolah kehampaan itu sendiri merasa terancam.
Lucius mengangkat tangannya.
Lucius Palsu: "Kalau begitu, aku akan membuatmu mengakui eksistensiku."
Dalam sekejap, dia menghilang dari pandangan.
BOOM!
Sebuah ledakan terjadi tepat di depanku saat sebuah pukulan berkecepatan absurd mengarah ke wajahku.
Aku mengangkat jari dan menahan tinjunya dengan mudah.
CRACK!
Udara retak. Ruang dan waktu terlipat.
Mata Lucius membelalak.
Aku menatapnya dingin.
Aryuu: "Itu saja?"
Dia mundur seketika, lalu mengayunkan tangannya.
Tiba-tiba, miliaran tombak energi kosmik muncul di sekelilingku, masing-masing memiliki daya hancur setara dengan penghancuran total seluruh realitas.
Lucius Palsu: "Hancurlah!"
Semua tombak itu melesat ke arahku dalam satu momen.
Aku tidak bergerak.
Dan saat tombak-tombak itu menyentuhku...
Mereka menghilang begitu saja.
Lucius menatap dalam kebingungan.
Aryuu (tenang): "Konyol."
Aku melangkah maju, dan dalam satu kedipan mata—
Aku sudah tepat di depannya.
WHAM!
Satu pukulan menghantam tubuhnya, melemparkannya menembus ribuan dimensi dalam hitungan nanodetik.
BOOOOOOOM!
Dampaknya menghancurkan banyak dunia paralel yang bahkan tidak seharusnya bisa hancur.
Tapi aku tahu dia belum selesai.
Di dalam kehancuran, aku bisa merasakan energi berkumpul.
Lucius Palsu: "Hah... Kau benar-benar tidak main-main, ya?"
Dari reruntuhan dimensi yang telah hancur, dia muncul kembali. Kali ini, auranya berbeda.
Dia menatapku dengan tatapan lebih serius, dan tubuhnya mulai berubah.
Jubahnya berkibar, dan energi hitam pekat menyelimuti dirinya. Simbol-simbol di tubuhnya bersinar, membentuk pola yang tampaknya lebih tua dari eksistensi itu sendiri.
Lucius Palsu: "Kalau begitu... aku tidak akan menahan diri lagi."
Tiba-tiba, seluruh multiverse terasa runtuh.
Aku bisa melihat bagaimana hukum realitas di sekitar kami mulai berubah—seolah-olah eksistensi itu sendiri mencoba untuk menyesuaikan keberadaannya dengan kehadiran Lucius.
Aku menyipitkan mata.
Lucius mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, sebuah pedang terbentuk di genggamannya.
Sebuah pedang yang tidak seharusnya ada.
Bilahnya seperti celah dalam kenyataan itu sendiri, hitam pekat tetapi juga transparan, berkilauan dengan cahaya yang melampaui pemahaman.
Lucius Palsu: "Aku menyebutnya... Nihil Existence Blade. Senjata yang bisa menghapus segalanya, bahkan konsep ketidakmungkinan itu sendiri."
Aku tetap diam, lalu mengangkat tanganku.
Dalam sekejap, pedangku sendiri muncul.
The Void Absolute.
Bilah yang lebih hitam dari kehampaan, lebih terang dari eksistensi itu sendiri. Sebuah senjata yang tidak diciptakan, tidak dirancang, tetapi telah ada bersamaku sejak awal.
Lucius menatap pedangku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresi ragu di wajahnya.
Aku mengarahkan pedangku ke arahnya.
Aryuu: "Coba saja kalau kau bisa."
Dia mengerutkan alisnya.
Lalu, dia menghilang.
Aku bisa merasakannya muncul tepat di belakangku, mengayunkan Nihil Existence Blade dengan kecepatan yang melampaui pemahaman.
Aku membalikkan tubuhku dalam satu momen.
CLANG!
Pedang kami bertabrakan.
Gelombang kejut yang terjadi cukup kuat untuk menghancurkan lebih dari sekadar realitas.
Multiverse runtuh. Segala yang ada di sekitar kami berubah menjadi serpihan-serpihan yang tidak bisa dijelaskan dengan konsep apapun.
Namun, kami tetap berdiri.
Kami bertukar serangan dengan kecepatan yang tidak bisa dipahami oleh siapapun. Setiap tebasan menciptakan celah dalam eksistensi itu sendiri, merobek dimensi dan melahap hukum realitas tanpa ampun.
Lucius berusaha menebasku dari segala arah, tetapi aku menangkisnya dengan sempurna, setiap gerakannya bisa kubaca dengan mudah.
Aku bisa melihat ketegangan di wajahnya.
Dia mulai sadar.
Dia tidak bisa menang.
Aku mengayunkan pedangku sekali lagi.
SWOOSH!
Tebasanku tidak mengenai tubuhnya, tetapi sesuatu yang lebih dalam—esensinya.
Mata Lucius melebar.
Dia mundur dengan napas terengah-engah, tangannya gemetar.
Aku menatapnya dengan dingin.
Aryuu: "Ini perbedaan antara eksistensi sejati dan imitasi murahan."
Lucius menggertakkan giginya.
Namun, aku bisa melihat ketakutan di matanya.
Dia tahu bahwa pertarungan ini telah berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Aku mengangkat pedangku.
Aryuu: "Menghilanglah."
Dan dengan satu tebasan terakhir—
Seluruh keberadaannya hancur.
Tetapi aku tahu...
Ini belum selesai.
---
Bab 10 - Akhir dari Anomali: Naga yang Menghancurkan Segala Keberadaan