Aryuu the unknowable god-Chapter 3: Bab 2: Awal dari Ketidakterbatasan yang Tersembunyi

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 3 - Bab 2: Awal dari Ketidakterbatasan yang Tersembunyi

Pagi itu, mentari baru saja menyembulkan sinarnya, mengusir dingin malam yang masih menyisakan embun di rerumputan.

Aku, Aryuu, berdiri di depan cermin kecil yang mulai buram, mengenakan seragam sekolah sihir yang terlihat lusuh dibandingkan anak-anak lainnya. Kancing bajuku bahkan nyaris copot, tapi Elina sudah menjahitnya semampunya semalam.

Elina (tersenyum hangat sambil merapikan kerah bajuku): "Aryuu, kau harus semangat hari ini, ya? Jangan hiraukan omongan orang. Ingat, kamu itu anak pintar. Mungkin kamu belum bisa sihir sekarang, tapi suatu hari nanti, Ibu yakin kamu akan jadi yang terkuat!"

Aku hanya menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil.

New novel chapters are published on freewёbn૦νeɭ.com.

Aryuu (tersenyum, suara pelan): "Iya, Ibu. Aku akan berusaha."

Padahal... jika aku mau, bahkan seluruh sekolah sihir itu bisa hancur tanpa aku perlu menggerakkan tangan. Tapi aku memutuskan untuk menahan segalanya, menyembunyikan siapa aku sebenarnya.

Hari pertama di akademi sihir dimulai.

---

Akademi Arkanis, tempat berkumpulnya anak-anak muda berbakat yang mampu mengendalikan mana dan sihir. Bangunannya megah, jauh lebih indah dibandingkan rumah-rumah yang ada di desa kami.

Begitu aku memasuki gerbang, banyak tatapan yang langsung tertuju padaku—tatapan merendahkan.

Murid 1 (berbisik pada temannya, mencibir): "Itu anak si Elina, ya? Hahaha... anak miskin juga mau jadi penyihir?"

Murid 2 (tertawa): "Jangankan sihir, buat makan aja susah. Ngapain coba dia di sini?"

Aku hanya menatap mereka datar, lalu berjalan pelan melewati kerumunan murid-murid lain yang sibuk membicarakanku.

Aryuu (dalam hati, dingin): "Hmph... manusia dan kesombongan mereka... Menilai hanya dari tampilan luar."

---

Memasuki kelas, aku memilih duduk di pojok paling belakang, tak ingin banyak bicara. Di hadapanku, guru sihir utama, seorang pria tua dengan jubah biru gelap, berdiri di depan papan sihir yang melayang.

Guru (menatap seluruh murid): "Selamat datang di Akademi Arkanis. Mulai hari ini, kalian akan belajar menguasai kekuatan mana dan memahami hukum sihir yang menjadi dasar kehidupan kita."

Semua murid tampak antusias, kecuali aku.

Guru (melanjutkan, serius): "Hari ini, kita akan mulai dengan Tes Pengukuran Mana. Setiap murid akan mengukur tingkat mana mereka melalui Kristal Pengukur."

Seketika, ruangan menjadi ramai. Anak-anak mulai berbisik, saling membandingkan siapa yang akan memiliki mana paling tinggi.

Murid 3 (angkuh, memamerkan tongkat sihirnya): "Jelas aku yang paling kuat di sini. Ayahku penyihir kerajaan."

Murid 4 (menyombongkan diri): "Mana-ku sudah pernah diukur. Level B! Hahaha."

Aku hanya memejamkan mata, malas mendengar semua ocehan itu.

---

Satu per satu murid maju ke depan, meletakkan tangannya di atas Kristal Pengukur Mana yang berpendar biru terang.

Guru (mencatat hasilnya): "Elric, Mana Level B."

Guru (kembali mencatat): "Sylvia, Mana Level C."

Tiba giliran salah satu murid perempuan, Akeno Akame—gadis berambut hitam panjang, bermata merah menyala. Dia tampak kalem, berbeda dari murid lain yang sombong.

Ketika Akeno meletakkan tangannya di kristal, cahaya biru itu bersinar sangat terang hingga hampir menyilaukan seluruh ruangan.

Guru (terkejut): "Luar biasa! Akeno Akame, Mana Level A... Sangat langka di usiamu."

Beberapa murid tampak iri, tapi Akeno hanya tersenyum kecil.

Akeno (tenang): "Terima kasih, Guru."

---

Kini, semua mata tertuju padaku.

Guru (menatapku, datar): "Selanjutnya, Aryuu. Silakan ke depan."

Murid 1 (mencibir): "Hahaha, lihat aja. Pasti nol."

Murid 2 (berbisik sinis): "Mana mungkin anak miskin punya mana?"

Aku berdiri pelan, berjalan ke depan.

Aryuu (dalam hati, tenang): "Jika aku melepaskan mana asliku... dunia ini mungkin hancur. Baiklah, cukup kusalurkan setitik saja... atau bahkan lebih kecil dari itu."

Aku meletakkan tanganku di atas Kristal Pengukur.

Kristal itu hanya bersinar redup, bahkan hampir tidak tampak cahaya.

Guru (menghela napas, mencatat hasilnya): "Aryuu... Mana Level E. Sangat rendah, bahkan hampir nol."

Tawa kecil mulai terdengar dari berbagai sudut kelas.

Murid 3 (terbahak-bahak): "HAHAHA! Kupikir paling tidak dia punya sedikit kekuatan, ternyata cuma sampah."

Murid 4 (menyindir): "Mending pulang saja, dasar gak berguna."

Aku hanya menatap mereka dengan pandangan kosong, lalu kembali ke kursi.

Aryuu (berpikir, menatap jendela): "Manusia... kalian menilai dari apa yang kalian lihat. Tapi aku ingin tahu... seberapa jauh kalian bisa bertahan dengan kekuatan semu itu?"

---

Ketika kelas usai, aku berjalan keluar gedung.

Namun tiba-tiba, beberapa murid menghadangku di jalan.

Murid 1 (mengejek): "Hei, bocah miskin. Berani juga ya datang ke sini. Apa kau pikir tempat ini buat orang kayak kamu?"

Aryuu (menatap datar): "Aku datang ke sini bukan untuk kalian."

Murid 2 (mendorong bahuku): "Sok keras? Dengan mana selevel E?"

Saat itu, aku bisa saja menghancurkan seluruh tubuh mereka hanya dengan tatapan, tapi aku memilih diam.

Namun, sebelum aku sempat bicara, seseorang berdiri di hadapanku.

Akeno Akame (dengan tegas, memandang mereka): "Cukup. Kalian pikir kalian siapa, berani merendahkan orang lain?"

Murid 1 (terkejut, gugup): "A-Akeno? Tapi dia—"

Akeno (memotong, tajam): "Diam. Kalau kalian punya masalah, hadapi aku. Jangan ganggu orang yang tidak salah."

Mereka mundur perlahan, tak berani melawan Akeno, lalu pergi.

Aku menatap Akeno dengan tenang.

Aryuu (pelan): "Kenapa kau membelaku?"

Akeno (tersenyum lembut): "Karena aku tahu... orang yang diam seperti kamu, pasti menyimpan sesuatu. Dan aku tidak suka orang sombong merendahkan orang lain."

Aku menatap matanya—matanya yang dalam, seolah bisa membaca hatiku.

Aryuu (tersenyum kecil, dalam hati): "Menarik... kau berbeda, Akeno. Mungkin, kau akan menjadi kunci untuk mengerti kehidupan ini."

Akeno (mengulurkan tangan): "Namaku Akeno. Senang berkenalan, Aryuu."

Aku menyambut tangannya.

Aryuu (tersenyum tipis): "Aku juga."

---

Bab 2 - Tamat

Bersambung ke Bab 3: "Rahasia Dalam Diri yang Mulai Terkuak"