Aryuu the unknowable god-Chapter 2: Bab 1: Kelahiran Sang Tak Terdefinisi
Chapter 2 - Bab 1: Kelahiran Sang Tak Terdefinisi
Dunia manusia.
Dunia yang tampak begitu sederhana, namun menyimpan berjuta kompleksitas yang tidak pernah habis untuk dipahami.
Bagiku, Aryuu The Unknowable God, tidak ada satu pun eksistensi, konsep, atau realitas yang berarti. Aku telah menciptakan dan memusnahkan segalanya lebih dari sekedar "segala sesuatu". Namun, ada suatu keinginan yang muncul dari relung terdalam eksistensiku—keinginan untuk mengamati dan mengalami kehidupan fana yang terbatas, kehidupan yang penuh dengan keterbatasan, derita, dan harapan.
Meski keinginan ini tampak sepele bagi keberadaanku yang melampaui segala puncak eksistensi, aku tertarik pada bagaimana makhluk-makhluk lemah ini hidup, berjuang, mencintai, dan menderita.
Dan di sinilah semuanya dimulai.
---
Hujan deras mengguyur sebuah kota kecil yang seolah telah dilupakan dunia. Atap-atap rumah yang rapuh tidak sanggup menahan derasnya air yang menetes, dan jalanan penuh dengan genangan lumpur.
Di sudut kota itulah, aku memilih untuk "lahir"—bukan sebagai makhluk agung yang ditakuti atau dipuja, tetapi sebagai seorang bayi biasa yang lahir dari rahim seorang janda muda miskin yang hidup sendirian tanpa siapa pun.
Perempuan itu bernama Elina, wanita dengan paras cantik namun kelelahan karena kerasnya hidup.
---
Elina (mengerang menahan sakit): "Akhirnya... anakku... akan lahir ke dunia..."
Di dalam kamar sempit dan gelap yang hanya ditemani cahaya lilin, tangisan bayi akhirnya pecah, mengalahkan derasnya hujan di luar.
Elina (tersenyum meski lelah, menatapku): "Anakku... kau laki-laki yang kuat, ya? Meski ayahmu telah tiada... kau akan menjadi segalanya bagiku."
Dia tidak pernah tahu, anak yang dia peluk erat saat ini bukanlah sekadar manusia.
Th𝗲 most uptodate novels are published on ƒгeewёbnovel.com.
Aku, Aryuu, kini berada di dalam tubuh fana ini, membiarkan diriku "terbatasi" oleh hukum dunia ini, meskipun batasan itu sebenarnya semu, karena kapan pun aku mau, seluruh realitas bisa kuhancurkan.
Namun tidak—aku ingin merasakan.
Aku ingin menjalani.
---
Beberapa minggu pun berlalu.
Di dalam gubuk kecil itu, aku menyaksikan bagaimana Elina berjuang. Setiap pagi dia keluar rumah, bekerja apa saja demi mendapatkan uang untuk membeli makanan, meski seringkali hanya cukup untuk sesuap nasi.
Aku masih dalam wujud bayi, hanya bisa diam dan mengamati.
Namun pikiranku, kesadaranku, melampaui segala hal.
Aryuu (dalam hati, menatap Elina yang menimangku): "Menarik... makhluk selemah ini, dengan segala penderitaannya, masih mampu tersenyum... masih mampu mencintai. Sesuatu yang bahkan di tataran 'Beyond All' tidak pernah kulihat sebelumnya."
---
Suatu hari, Elina membawa pulang roti kecil yang sudah keras.
Elina (tersenyum meski lelah, menatapku): "Maafkan Mama, Nak... hanya ini yang Mama bisa beli hari ini. Tapi Mama janji, besok kita makan lebih enak, ya..."
Melihatnya seperti itu, aku diam-diam mengulurkan "kuasa" yang tersembunyi.
Tanpa dia sadari, serpihan kecil energi ilahi yang tidak bisa dikenali bahkan oleh kosmos kuberikan ke roti itu. Seketika, roti yang keras berubah menjadi empuk, hangat, dan penuh nutrisi.
Aryuu (tersenyum kecil dalam hati): "Anggap saja hadiah dariku... untuk ketulusan yang tidak bisa dihitung oleh apapun."
Elina tidak pernah tahu, roti itu sekarang bisa mengenyangkan seperti hidangan raja.
---
Bertahun-tahun berlalu, aku tumbuh menjadi anak kecil yang tampak biasa, namun sebenarnya tidak ada satu pun "biasa" dalam eksistensiku.
Aku selalu menyembunyikan kekuatanku, menyesuaikan diri menjadi bagian dari realitas manusia.
Di balik tubuh kecilku, aku mengamati manusia—bagaimana mereka saling menyakiti, saling mencintai, berkhianat, menangis, tertawa.
Namun hidup kami tidak pernah mudah.
Kami sering dihina, diremehkan, karena kemiskinan yang melekat pada keluarga kecil kami.
Warga 1 (berbisik ke warga lain, menunjuk ke arah kami): "Itu si Elina dan anaknya. Katanya, anak itu anak haram... siapa yang tahu siapa bapaknya..."
Warga 2 (menimpali dengan cibiran): "Kasihan sekali. Hidup miskin, tak ada keluarga, tak ada harapan."
Aku mendengar semuanya.
Namun aku hanya tersenyum kecil, menatap mereka dengan mata tajam meski aku berpura-pura tidak tahu.
Aryuu (dalam hati, dingin): "Jika kalian tahu siapa aku sebenarnya, bahkan pikiran kalian akan hancur hanya karena mencoba memahami."
Namun aku tidak marah. Aku tidak membenci. Aku hanya mempelajari.
---
Malam itu, aku duduk di pinggir ranjang kecil, memandangi langit malam yang dipenuhi bintang.
Aryuu (berbisik perlahan): "Manusia... betapa lemahnya kalian, namun kalian terus bertahan. Apa sebenarnya yang membuat kalian terus hidup?"
Aku memandang tangan kecilku—wadah yang kupilih untuk bereinkarnasi.
Aryuu (tersenyum samar, namun matanya tajam): "Dan sampai kapan aku bisa terus menjadi bagian dari kalian, sebelum realitas ini sendiri tidak mampu lagi menahan eksistensiku?"
Dari balik pintu, Elina mengintip, tersenyum.
Elina (lembut): "Aryuu... ayo tidur. Besok kau harus sekolah."
Aryuu (berbalik, tersenyum polos layaknya anak kecil): "Iya, Ibu..."
Namun dalam hatiku, aku tahu—dunia ini, cepat atau lambat, akan menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di antara mereka.
Dan saat hari itu tiba, aku penasaran...
Akankah aku tetap memilih untuk hidup sebagai manusia?
Atau akankah aku memperlihatkan siapa Aryuu The Unknowable God yang sesungguhnya?