Aryuu the unknowable god-Chapter 21: Bab 20 – Kesalahpahaman Keina Hellzaria---

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 21 - Bab 20 – Kesalahpahaman Keina Hellzaria---

Pemandangan yang Mengusik Hati

Keina berdiri di koridor akademi, mengamati dari jauh sosok Lucius yang tengah tidur di bawah pohon seperti biasa.

Namun, fokusnya kali ini bukan hanya pada Lucius.

Di sana, tepat di samping Lucius, berdiri seorang gadis dengan rambut merah panjang yang tampak cerah di bawah sinar matahari.

Gadis itu sedang berbicara dengan Aryuu, yang juga duduk tidak jauh dari Lucius.

---

Keina mengernyitkan dahi.

Siapa gadis itu?

Kenapa dia terlihat begitu dekat dengan Aryuu dan Lucius?

Dan lebih aneh lagi...

Kenapa dia terus melirik Lucius dengan penuh rasa penasaran?

---

Hati Keina mulai merasa gelisah.

Seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat ada orang lain yang benar-benar tertarik pada Lucius.

Semua murid di akademi tahu Lucius itu aneh.

Tidak peduli dengan apa pun.

Hanya tidur dan mengabaikan dunia.

Namun gadis itu...

Dia terlihat seolah ingin tahu lebih banyak tentang Lucius.

---

Keina menggigit bibirnya sedikit.

Dia bukan tipe orang yang cemburu tanpa alasan.

Tapi kali ini...

Dia merasa ada sesuatu yang mengganggunya.

Apakah gadis itu menyukai Lucius?

Atau apakah Lucius mulai membuka diri kepada orang lain?

Pikiran itu membuatnya tidak nyaman.

---

Langkah Mendekat

Dengan perasaan yang campur aduk, Keina memutuskan untuk mendekati mereka.

Saat dia berjalan mendekat, percakapan mereka mulai terdengar.

---

Asobe Hana (tersenyum, melihat Lucius dengan penasaran):

"Jadi... dia ini Lucius? Seperti yang aku pikirkan, dia benar-benar seperti kehampaan."

---

Aryuu (tenang, santai):

"Hmm... Yah, kurang lebih begitu."

---

Asobe Hana (mengangguk, masih memperhatikan Lucius):

"Lucius... Aku merasa dia benar-benar tidak memiliki energi apa pun. Seolah-olah dia... bukan bagian dari dunia ini."

---

Keina sedikit terkejut mendengar perkataan gadis itu.

Dia menyebut Lucius sebagai kehampaan?

Bukan dalam arti negatif...

Tapi lebih seperti dia benar-benar tertarik untuk memahami Lucius.

Dan itu membuat Keina semakin curiga.

---

Akhirnya, dia berdiri tepat di depan mereka.

---

Keina (dengan nada datar, tapi matanya tajam menatap Asobe Hana):

"Kau... siapa?"

---

Asobe Hana menoleh dan tersenyum dengan ceria.

---

Asobe Hana (ramah):

"Hmm? Aku Asobe Hana! Salam kenal!"

---

Keina (masih curiga, menatapnya dari atas ke bawah):

"Asobe Hana...? Kenapa kau ada di sini?"

---

Asobe Hana (tertawa kecil, menunjuk Aryuu):

"Aku hanya sedang berbicara dengan Aryuu dan penasaran dengan Lucius. Sepertinya dia benar-benar unik."

---

New novel chapt𝒆rs are published on ƒгeewebnovёl.com.

Kata-kata itu membuat Keina semakin tidak nyaman.

'Penasaran dengan Lucius?'

Sejak kapan ada orang yang penasaran dengan Lucius selain dirinya?!

---

Keina (menyipitkan mata sedikit, suaranya lebih tajam):

"Jangan bilang... Kau menyukainya?"

---

Asobe Hana (terdiam sejenak, lalu tertawa):

"Haha! Lucius? Aku baru pertama kali melihatnya! Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu?"

---

Namun, cara Asobe Hana menertawakannya hanya membuat Keina semakin curiga.

Lucius itu bukan tipe orang yang menarik bagi kebanyakan orang.

Tapi gadis ini...

Kenapa dia begitu penasaran?

---

Aryuu, yang sedari tadi diam, hanya menatap situasi ini dengan ekspresi datar.

Dia sudah bisa menebak bagaimana ini akan berakhir.

---

Aryuu (dalam hati, agak lelah):

'Oke... Keina salah paham. Ini bakal panjang.'

---

Lucius, seperti biasa, tidak peduli

Di tengah atmosfer yang mulai terasa tegang, Lucius tetap dalam posisi tidurnya.

Dia tidak menunjukkan reaksi sedikit pun.

Keina memandang ke arah Lucius yang masih tidur, lalu kembali menatap Asobe Hana.

---

Keina (suaranya lebih rendah, sedikit menantang):

"Kau yakin tidak menyukai Lucius? Kau terus memperhatikannya sejak tadi."

---

Asobe Hana (masih tersenyum, tapi bingung):

"Hmm? Aku hanya penasaran, kok! Dia orang yang menarik!"

---

Keina (menyipitkan mata, bergumam pelan):

"...Menarik?"

---

Di saat itu juga, Keina benar-benar merasa aneh.

Biasanya, orang akan melihat Lucius sebagai pria aneh yang tidak peduli dengan dunia.

Tapi Asobe Hana...

Dia melihat Lucius sebagai sesuatu yang 'menarik'.

Dan itu mengganggu Keina.

---

Aryuu (menyela dengan nada santai, sedikit bercanda):

"Keina, kau cemburu?"

---

Keina (refleks terkejut, wajahnya sedikit memerah):

"A-Apa? Aku tidak cemburu!"

---

Aryuu (tersenyum tipis):

"Ya ya... Terserah."

---

Asobe Hana, yang menyaksikan ini, hanya tertawa kecil.

Keina masih menatapnya dengan penuh curiga.

Namun, akhirnya dia memutuskan untuk diam dan mengawasi gadis ini lebih lama.

---

Dalam hati Keina, dia tahu satu hal.

Dia tidak akan membiarkan Asobe Hana terlalu dekat dengan Lucius.

Karena baginya...

Lucius bukan seseorang yang bisa dipahami dengan mudah.

Dan entah kenapa...

Keina ingin menjadi satu-satunya orang yang benar-benar mengenalnya.

lalu Keina berdiri tegak di hadapan Asobe Hana, matanya tajam menatap langsung ke arah rival barunya itu.

Udara di sekitar mereka mulai terasa tegang, seperti badai yang siap meledak.

Di antara mereka berdua, hanya ada satu hal yang menjadi pemicunya—Lucius.

---

Keina (bersedekap, nada tajam):

"Baiklah, kita selesaikan saja dengan duel."

---

Asobe Hana (mengangkat alis, sedikit bingung):

"Hah? Duel? Buat apa?"

---

Keina (mendekat selangkah, matanya semakin tajam):

"Taruhannya sederhana. Yang kalah tidak boleh mendekati Lucius lagi."

---

Sejenak, Asobe Hana terdiam.

Dia tidak terlalu ambil pusing dengan Lucius.

Baginya, Lucius hanya sosok unik yang menarik untuk diamati.

Namun, melihat bagaimana Keina begitu serius, dia mulai merasa tertantang.

---

Asobe Hana (menyilangkan tangan, tersenyum tipis):

"Kau bercanda, kan? Aku tidak punya alasan untuk melawanmu hanya karena itu."

---

Keina (menatapnya dengan penuh keyakinan):

"Jadi kau takut?"

---

Mata Asobe Hana sedikit menyipit.

Keina bermain-main dengan kata-kata.

Mencoba memancing emosinya.

---

Asobe Hana (senyum mulai pudar, suaranya lebih dingin):

"Apa kau yakin ingin melakukan ini?"

---

Keina (tersenyum miring, sikapnya menantang):

"Apa aku terlihat ragu?"

---

Udara seketika berubah.

Sebuah tekanan besar mulai muncul dari tubuh mereka berdua.

Aura Keina yang berwarna biru gelap meledak, membentuk pusaran energi yang membuat udara di sekitarnya bergetar.

Sedangkan Asobe Hana, aura merah darahnya menyebar seperti api yang siap membakar segalanya.

---

Murid-murid di sekitar yang merasakan aura itu langsung menjauh dengan panik.

Dua siswa dari kelas S akan bertarung?!

Ini bukan hal yang bisa dianggap main-main.

Kekuatan mereka jauh di atas rata-rata siswa biasa.

---

Pertempuran Dimulai!

Keina membuka serangan lebih dulu!

Dengan kecepatan luar biasa, dia melesat ke arah Hana dan melancarkan tendangan berputar!

---

Keina (serius, menatap tajam):

"Aku tidak akan menahan diri!"

---

Asobe Hana (tersenyum miring, mengangkat tangan untuk menahan serangan):

"Baiklah, aku juga tidak akan bermain-main."

---

BOOM!

Benturan serangan mereka membuat lantai di sekitar retak!

Gelombang kejut menghantam area sekitar, membuat para murid yang masih menonton harus menahan diri agar tidak terlempar.

Keina menggunakan sihir angin untuk meningkatkan kecepatannya, sedangkan Hana menggunakan sihir api untuk menambah daya hancur serangannya.

---

Namun...

Sebelum pertarungan semakin memanas...

Tiba-tiba...

Sebuah bayangan melesat di antara mereka dengan kecepatan yang sulit dipercaya.

---

Aryuu (dengan suara tegas):

"Cukup!"

---

Dalam sekejap, Aryuu berhasil menahan pukulan Keina dengan tangan kirinya, dan menahan serangan api Hana dengan tangan kanannya.

Gelombang kejut yang seharusnya meledakkan area sekitar...

Langsung menghilang begitu saja.

---

Keina (terkejut, ekspresi tidak percaya):

"A-Apa?! Kau menahan serangan kami...?"

---

Asobe Hana (menatap Aryuu, sedikit menyipitkan mata):

"...Hoh? Menarik."

---

Namun...

Aryuu tidak berhenti di situ.

Dengan gerakan cepat, dia mendorong Keina ke belakang sambil menggunakan kekuatan fisiknya untuk menghentikan aura Hana.

Sekilas, seperti tidak ada yang terjadi.

Namun bagi Keina dan Hana...

Itu mustahil.

Seorang siswa kelas C, menahan serangan dua siswa kelas S?!

---

Keina melihat Aryuu yang berdiri di antara mereka, napasnya sedikit memburu.

Matanya memandang tubuh Aryuu yang penuh luka akibat menahan serangan tadi.

Darah mengalir dari lengannya, tapi wajahnya tetap tenang.

---

Keina (suara rendah, tidak percaya):

"K-Kau... menahan itu... hanya dengan kekuatan fisik?"

---

Asobe Hana (menatap Aryuu dengan penuh rasa ingin tahu):

"Jadi... Kau benar-benar menahan diri, ya?"

---

Keina terdiam.

Dia mulai menyadari sesuatu.

Selama ini, dia berpikir bahwa Aryuu hanyalah siswa kelas C biasa yang entah bagaimana bisa berteman dengan Lucius.

Namun setelah melihat kejadian ini...

Itu tidak masuk akal.

---

Keina (dalam hati, masih tidak percaya):

"Dia... benar-benar menghentikan kami berdua?"

---

Aryuu, yang sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi, hanya menghela napas panjang.

Dengan suara yang lebih lembut, tapi tetap tegas, dia menatap Keina dan Hana bergantian.

---

Aryuu (serius, menatap mereka dengan ekspresi datar):

"Sudah cukup. Tidak perlu bertarung hanya karena kesalahpahaman seperti ini."

---

Keina mengepalkan tangan, masih ingin protes.

Tapi...

Ketika dia melihat Aryuu yang penuh luka karena menahan serangan mereka...

Dia terdiam.

---

Akhirnya, Keina menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya.

---

Keina (sedikit canggung, bergumam pelan):

"...Baiklah. Aku mengaku kalah dalam hal ini."

---

Asobe Hana hanya tersenyum kecil, lalu menatap Aryuu dengan tatapan penasaran.

---

Asobe Hana (menyeringai, nada menggoda):

"Kau benar-benar keterlaluan. Kalau bukan karena kau, aku mungkin sudah menang."

---

Aryuu (memandangnya datar, nada malas):

"Jangan bercanda. Aku lebih memilih tidak terlibat, tapi kalian berdua membuat kekacauan yang bisa menghancurkan akademi."

---

Meskipun begitu...

Dalam hati, Aryuu tahu satu hal.

Keina mulai mencurigainya.

Bab 20 – Kesalahpahaman yang Berakhir dengan Masalah Baru

---

Kehebohan di Akademi: Sosok Aryuu Mulai Diperbincangkan

Setelah Aryuu berhasil menghentikan duel antara Keina dan Asobe Hana, suasana di sekitar masih terasa tegang.

Para murid yang sebelumnya hanya bisa menonton dari jauh mulai berbisik-bisik, membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.

Seorang siswa kelas C... menahan pertarungan antara dua siswa kelas S?

Itu mustahil.

Tapi mereka semua melihatnya dengan mata kepala sendiri.

---

Siswa A (berbisik kepada temannya, masih tidak percaya):

"Aku tidak salah lihat, kan? Dia benar-benar menahan serangan mereka?"

---

Siswa B (mengangguk, ekspresinya bingung):

"Benar-benar tidak masuk akal... Seorang siswa kelas C menghentikan Keina dan Asobe Hana? Bahkan dia terluka, tapi tetap berdiri seperti tidak terjadi apa-apa!"

---

Siswa C (dengan sedikit terbiasa):

"tidak heran karena sebelum nya Aryuu pernah mengalahkan siswa peringkat A dan membuat siswa peringkat S kewalahan"

---

Bisikan dan tatapan para murid mulai mengarah ke Aryuu.

Namun, Aryuu tetap bersikap seolah hal ini bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

Dia hanya berdiri dengan santai, mengabaikan darah yang masih mengalir dari luka di tangannya.

Namun...

Di tengah keributan itu...

Seseorang yang sangat malas akhirnya terusik.

---

Lucius Bangun dan Protes... dengan Cara yang Aneh

Di sisi lain, Lucius yang sebelumnya tertidur di bawah pohon, mulai membuka matanya sedikit.

Dia melirik ke arah Aryuu dengan ekspresi setengah sadar, sebelum akhirnya menghela napas panjang dan duduk tegak.

Tanpa ragu, dia langsung menunjuk Aryuu dengan wajah datar.

---

Lucius (suara malas, nada sedikit mengantuk):

"Aryuu... Ini semua salahmu, kan?"

---

Aryuu (memandangnya dengan ekspresi datar, seolah sudah menebak ini akan terjadi):

"...Tentu saja."

---

Lucius (menggerutu sambil mengusap wajahnya):

"Aku baru tidur sebentar, dan tiba-tiba ada suara ledakan, aura tak terkendali, dan entah apalagi. Lalu siapa yang aku lihat ada di pusat masalah ini? Oh, tentu saja Aryuu."

---

Aryuu (menatapnya tanpa ekspresi, nada datar):

"Kau selalu menyalahkanku dalam situasi seperti ini, jadi aku tidak terkejut."

---

Lucius (menghela napas lagi, menyilangkan tangan):

"Kalau kau sudah tahu, kenapa tidak menghindari masalah sejak awal?"

---

Aryuu (mengangkat bahu, ekspresi tetap tenang):

"Itu juga yang aku pikirkan. Tapi entah kenapa, aku selalu berakhir di tengah masalah."

---

Para murid yang mendengar percakapan mereka hanya bisa diam.

Lucius seolah benar-benar percaya bahwa setiap masalah di akademi selalu berkaitan dengan Aryuu.

Sementara Aryuu sama sekali tidak membantah tuduhan itu.

Bahkan, dia sudah pasrah.

---

Keina Mulai Penasaran dengan Aryuu

Di sisi lain, Keina masih menatap Aryuu dengan penuh rasa ingin tahu.

Bagaimana mungkin seorang siswa kelas C bisa menahan serangan mereka?

Itu tidak masuk akal.

Akhirnya, Keina mendekati Aryuu, menatapnya dengan ekspresi penuh analisis.

---

Keina (menyipitkan mata, nada penuh kecurigaan):

"Aryuu... Bagaimana caramu menahan serangan kami?"

---

Aryuu (menatapnya sebentar, lalu menjawab dengan santai):

"Trik murah."

---

Keina (mengernyit, tidak percaya):

"...Trik murah?"

---

Aryuu (mengangguk, nada tetap santai):

"Ya. Aku hanya menggunakan sedikit strategi dan pemanfaatan momentum untuk menetralkan serangan kalian. Tidak ada yang istimewa."

---

Keina (menatapnya semakin curiga):

"Tapi itu tidak masuk akal. Seharusnya serangan kami tidak bisa dihentikan hanya dengan 'strategi' biasa."

---

Aryuu (menghela napas, lalu tersenyum kecil):

"Percayalah, kalau kau berpikir terlalu jauh, itu hanya akan membuatmu semakin bingung."

---

Keina terdiam sejenak.

Dia ingin terus menggali jawaban lebih dalam, tapi melihat bagaimana Aryuu menjawab dengan begitu santai, dia mulai merasa...

Mungkin dia memang terlalu banyak berpikir.

Akhirnya, Keina hanya mendengus pelan dan mengalihkan pandangannya kembali ke Lucius.

---

Keina (dalam hati, kembali fokus ke tujuan awalnya):

"Tidak peduli. Yang lebih penting adalah bagaimana aku bisa mendapatkan perhatian Lucius."

---

Peringatan Aryuu untuk Hana

Setelah semua orang mulai kembali ke aktivitas masing-masing, Aryuu mendekati Asobe Hana.

Dia menatap gadis itu dengan ekspresi serius, lalu berbicara dengan nada lebih rendah.

---

Aryuu (tenang, namun tegas):

"Hana, aku peringatkan satu hal. Jangan pernah meremehkan Keina."

---

Asobe Hana mengangkat alis, lalu menyeringai kecil.

---

Asobe Hana (nada sedikit mengejek):

"Kau pikir aku takut padanya?"

---

Aryuu (memandangnya dalam, nada lebih serius):

"Kau mungkin makhluk kosmik, tapi di dunia manusia, kekuatanmu tidak lebih unggul darinya. Jika kau terus bermain-main, Keina bisa saja mengalahkanmu lebih cepat dari yang kau bayangkan."

---

Senyuman Hana perlahan memudar.

Dia tidak bisa membantah pernyataan Aryuu.

Memang benar... Di dunia ini, kekuatannya terbatas.

Dan jika Aryuu tidak menghentikan duel tadi, Keina mungkin bisa memberikan perlawanan yang jauh lebih serius.

Namun...

Hana merasa sedikit kesal.

Jika Aryuu tidak menahan dirinya... Dia pasti sudah menghempaskan Keina sejak awal.

---

Asobe Hana (memandang Aryuu dengan ekspresi sedikit kesal):

"Jadi... Kau benar-benar menahanku, ya?"

---

Aryuu (tersenyum kecil, nada bercanda):

"Yah, anggap saja ini demi kebaikanmu."

---

Hana mendengus pelan.

Entah kenapa...

Dia merasa sedikit kesal, tapi di saat yang sama, dia juga sedikit senang.

Mungkin karena...

Aryuu memperhatikannya.

Namun tetap saja...

Dia masih kesal karena kalah cepat dalam duel tadi.

---

Sementara itu, di kejauhan...

Lucius sudah kembali ke posisinya semula, duduk di bawah pohon dengan ekspresi malas.

---

Lucius (menghela napas, memejamkan mata lagi):

"Hah... Seperti biasa, masalah terjadi, Aryuu berada di dalamnya, dan aku yang jadi korbannya karena harus mendengar kebisingan ini."

---

Di sisi lain, Keina mulai kembali menyusun strateginya untuk mendekati Lucius.

Dan Asobe Hana masih menatap Aryuu dengan tatapan kesal, namun juga penasaran.

---

Akhir Bab 20...

> Catatan:

Aryuu mulai menarik perhatian para murid karena kemampuannya yang tidak masuk akal.

Keina mulai curiga, tapi memilih untuk tidak memikirkan terlalu dalam.

Asobe Hana merasa sedikit kesal, namun juga mulai melihat Aryuu dengan sudut pandang yang berbeda.

Lucius... tetap Lucius, dengan sikap malasnya.

Bersambung ke Bab 21

RECENTLY UPDATES
Read My Hitman System
ActionAdventureFantasyMystery
Read My Cell Prison
Sci-fiActionFantasy