Aryuu the unknowable god-Chapter 22: Bab 21 – keadaan mulai membaik?

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 22 - Bab 21 – keadaan mulai membaik?

Sikap Tenang Para Murid Akademi

Setelah kejadian yang cukup menghebohkan antara Keina dan Asobe Hana, seharusnya para murid akademi akan terus membicarakan kejadian itu.

Namun...

Ternyata, banyak dari mereka yang tidak terlalu terkejut.

Bukan karena mereka meremehkan duel tersebut...

Tapi karena ini bukan pertama kalinya Aryuu menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.

---

Siswa A (menyilangkan tangan, nada santai):

"Yah, kalau dipikir-pikir lagi... Ini bukan sesuatu yang aneh."

---

Siswa B (mengangguk setuju):

"Kau benar. Kalau diingat-ingat, Aryuu pernah mengalahkan siswa tingkat A saat ujian masuk dulu, kan?"

---

Siswa C (tertawa kecil, nada sedikit kagum):

"Dan dia melakukannya dengan ekspresi datar, seolah itu hal biasa."

---

Ya...

Para murid sudah pernah melihat potensi Aryuu sebelumnya.

Saat ujian masuk akademi, ada seorang siswa dari kelas A yang mencoba meremehkan Aryuu.

Dan apa yang terjadi?

Aryuu mengalahkannya dengan sangat mudah.

Bahkan, banyak yang mengira itu hanya kebetulan...

Tapi sekarang...

Setelah melihat bagaimana Aryuu menahan serangan dari Keina dan Hana, mereka mulai bertanya-tanya...

Siapa sebenarnya Aryuu?

---

Keina Masih Belum Puas

Sementara itu, Keina masih merasa tidak puas.

Bagaimana bisa Aryuu hanya menganggap itu sebagai 'trik murah'?

Itu tidak masuk akal.

Namun, saat dia sedang berpikir...

Salah satu siswa dari kelas S mendekat kepada keina.

---

Siswa (menyilangkan tangan, ekspresi santai):

"Jadi, kau mulai tertarik pada Aryuu?"

---

Keina (mengernyit, nada kesal):

"Tertarik? Jangan bercanda. Aku hanya ingin tahu bagaimana mungkin dia bisa menahan serangan kita dengan begitu mudah."

---

siswa (mengangkat bahu, nada santai):

"Aku rasa, ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Lagipula, bukankah dia pernah mengalahkan siswa kelas A saat ujian masuk?"

---

Keina (terdiam sejenak, lalu mendengus):

"Ya, aku ingat. Tapi tetap saja, itu tidak cukup untuk menjelaskan semuanya."

---

Meskipun Keina mengatakan bahwa dia tidak peduli...

Tapi jelas terlihat bahwa dia mulai penasaran.

---

Asobe Hana Masih Kesal, Tapi...

Di sisi lain, Asobe Hana masih kesal dengan Aryuu.

Dia memandang Aryuu dengan ekspresi cemberut, lalu mendekatinya.

---

Asobe Hana (menatap Aryuu tajam, nada kesal):

"Kau benar-benar menahanku tadi, kan?"

---

Aryuu (menoleh santai, lalu tersenyum kecil):

"Kenapa? Kau masih kesal soal itu?"

---

Asobe Hana (mendengus, menyilangkan tangan):

"Tentu saja! Jika kau tidak menahanku, aku pasti sudah menghempaskan Keina sejak awal!"

---

Aryuu (tertawa kecil, nada bercanda):

"Itu mungkin benar. Tapi kalau kau melakukannya, kau hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah."

---

Asobe Hana terdiam.

Dia tidak bisa membantah kata-kata Aryuu.

Karena dia makhluk kosmik, ada batasan yang harus dia patuhi di dunia manusia.

Jika dia bertarung dengan serius, itu bisa menyebabkan ketidakseimbangan energi di dunia ini.

Tapi tetap saja...

Dia merasa kesal.

---

Asobe Hana (memandang Aryuu dengan tatapan sedikit kesal, tapi juga penasaran):

"Hmph... Tapi aku masih merasa tidak adil."

---

Aryuu (tertawa kecil, menepuk kepala Hana dengan ringan):

"Sudahlah, anggap saja ini demi kebaikanmu."

---

Asobe Hana mendengus lagi, tapi tidak menepis tangan Aryuu.

Entah kenapa...

Dia merasa sedikit lebih baik.

---

Lucius: "Aku Tidak Peduli."

Sementara semua orang masih membahas Aryuu, ada satu orang yang tidak peduli sama sekali.

Lucius.

Dia masih duduk di bawah pohon dengan ekspresi malas, seolah tidak tertarik dengan semua yang terjadi.

---

Siswa A (mendekati Lucius, nada penasaran):

"Hei, Lucius... Kau tidak penasaran dengan Aryuu?"

---

Lucius (meliriknya sebentar, lalu menguap):

"...Tidak."

---

Siswa B (membelalak, tidak percaya):

"Kenapa? Ini kan menarik! Seorang siswa kelas C bisa menahan dua siswa kelas S!"

---

Lucius (menghela napas, menatap mereka dengan ekspresi bosan):

"Dengar... Selama dia tidak menggangguku, aku tidak peduli seberapa kuat dia."

---

Setelah mengatakan itu, Lucius kembali bersandar di pohon dan mencoba tidur lagi.

Siswa yang bertanya hanya bisa diam, bingung dengan sikap Lucius.

Tapi bagi mereka yang mengenalnya...

Itu hal biasa.

---

Setelah kejadian ini, nama Aryuu mulai semakin diperbincangkan.

Meskipun para siswa tidak terlalu terkejut karena dia pernah mengalahkan siswa kelas A sebelumnya...

Tapi mereka mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dalam tentang dirinya.

Siapa sebenarnya Aryuu?

Dan...

Apakah dia benar-benar hanya seorang siswa kelas C biasa?

Meskipun banyak yang mulai penasaran...

Foll𝑜w current novels on fɾēewebnσveℓ.com.

Aryuu tetaplah Aryuu.

Dia hanya tersenyum santai dan melanjutkan hidupnya seperti biasa.

Setelah kejadian yang penuh kekacauan tadi, keadaan di akademi kembali seperti semula.

Aryuu, yang sempat membuat gempar dengan kemampuannya menghentikan pertarungan antara Keina dan Hana, kembali dianggap sebagai siswa kelas C biasa.

Meskipun sebagian besar siswa mulai bertanya-tanya tentang dirinya, Aryuu tetap bersikap seperti biasanya.

Dia kembali menghindari sorotan, seolah tidak terjadi apa-apa. Lucius, yang selalu duduk di bawah pohon atau berada di tempat yang sunyi, kembali menjadi karakter dingin dan misterius, tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.

Sementara itu, Keina, yang selalu menempel pada Lucius, tidak menunjukkan tanda-tanda berubah. Lucius, meskipun tetap menunjukkan sikap acuh tak acuh, sama sekali tidak mempermasalahkan keberadaan Keina di dekatnya.

Di sisi lain, Hana tetap dengan kepribadiannya yang ceria dan penuh semangat. Dia tidak merasa tertekan, meskipun sempat kesal dengan Aryuu yang menghentikan pertarungannya dengan Keina, tetapi dia kembali tersenyum lebar setelahnya.

---

Akeno: Kedatangan yang Tak Terduga

Saat situasi kembali tenang, Akeno tiba-tiba datang.

Akeno, yang baru saja selesai mengerjakan tugas khusus sebagai anggota pengawas akademi, memasuki area pertemuan dengan ekspresi tenang dan serius.

Namun, berbeda dengan biasanya, ada sesuatu yang terlihat aneh pada Akeno hari ini. Wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan, seolah ada yang mengganggu pikirannya.

Akeno bukan hanya seorang siswa biasa; dia adalah bagian dari kelompok tertinggi di akademi, yang memiliki otoritas lebih besar dari siapa pun, bahkan para pengawas lainnya.

Tapi yang menarik adalah, Akeno tampak sedikit berbeda kali ini.

---

Reaksi Akeno: Cemburu yang Tak Terduga

Saat Akeno melihat Aryuu menepuk kepala Hana dengan lembut, sesuatu dalam dirinya seketika berubah.

Rasa cemburu yang mendalam muncul begitu saja, tanpa bisa ia bendung. Akeno yang biasanya tenang dan terjaga kini menunjukkan sisi lain dari dirinya, yang lebih gelap dan penuh amarah.

---

Akeno (dengan suara pelan namun penuh tekanan):

"Jadi... kau berani menepuk kepala Hana seperti itu?"

---

Hana (terkejut, dengan ekspresi bingung):

"A-Akeno? Apa yang salah?"

---

Aryuu (menoleh, terkejut dengan perubahan sikap Akeno):

"Akeno? Ada apa denganmu?"

---

Namun, Akeno tidak menjawab. Dalam sekejap, dia melompat maju dengan kecepatan luar biasa, langsung menusukkan aura gelap yang seolah bisa menghancurkan apapun di sekitarnya.

Aryuu dan Hana yang tidak siap dengan perubahan mendadak itu, langsung berlari menghindar dengan panik. Mereka tahu kemarahan Akeno bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele.

---

Akeno (dengan suara serak, penuh amarah):

"Kalian pikir bisa seenaknya begini?! Aku yang harusnya dekat dengan Aryuu, bukan kau, Hana!"

---

Hana terkejut, tapi dia berusaha menjelaskan sambil berlari.

---

Hana (berusaha tenang meski cemas):

"Akeno, ini tidak seperti yang kamu kira! Tidak ada yang terjadi!"

---

Aryuu (berlari, sedikit kebingungan):

"Kenapa tiba-tiba jadi gini? Ini cuma tepukan kepala!"

---

Mereka berdua saling melirik dengan bingung, mencoba mencari jalan untuk menghindari amukan Akeno yang semakin dekat. Mereka tahu Akeno bukanlah seseorang yang bisa diperlambat begitu saja.

---

Pertarungan Menghindar yang Menegangkan

Selama mereka berlari, Akeno semakin mendekat dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap kali Hana dan Aryuu mencoba berbalik, Akeno sudah ada di belakang mereka, mengayunkan serangan yang hampir membuat tanah di bawah mereka terbelah menjadi dua.

---

Akeno (tersenyum sinis, menatap mereka dengan tatapan tajam):

"Bagus. Lari saja, akan semakin menyenangkan kalau kalian menghindar. Aku ingin melihat kalian berdua dalam kesulitan."

---

Aryuu (mencari celah, berbisik pada Hana):

"Kita harus cepat keluar dari sini! Jangan balas serangannya!"

---

Hana (nada tegang):

"Tapi ini gila! Akeno bukan main-main!"

---

Aryuu (menghela napas):

"Ya, aku tahu. Makanya, kita harus tetap bergerak dan menghindar."

---

Namun, semakin mereka berlari, Akeno semakin tidak terkendali. Gelombang energi gelap yang dikeluarkan oleh Akeno mulai menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Bangunan, pohon, bahkan tanah di sekitar mereka terbelah, menyisakan bekas kehancuran yang cukup besar.

---

Akeno (berteriak dengan suara menggema):

"Kalian pikir aku akan diam saja? Kalian pikir bisa seenaknya dekat dengan Aryuu?!"

---

Hana (berlari sambil berteriak):

"Akeno, tunggu! Dengar penjelasanku dulu!"

---

Tapi Akeno tidak mau mendengarkan. Dia terus meluncurkan serangan demi serangan, semakin berbahaya dan tak terkendali.

---

Aryuu dan Hana yang Terus Menghindar

Aryuu dan Hana terus berlari dengan kencang, berusaha menghindari setiap serangan yang datang. Mereka tahu, jika mereka tidak berhati-hati, Akeno bisa menghancurkan mereka dalam sekejap.

Namun, keadaan semakin genting. Akeno semakin mendekat, dan mereka semakin terpojok. Tanah yang mereka pijak kini mulai retak akibat energi gelap yang dipancarkan oleh Akeno.

---

Aryuu (menoleh pada Hana, suara serius):

"Kita harus segera mencari cara untuk menghentikannya!"

---

Hana (kepanikan mulai terlihat):

"Tapi bagaimana? Dia sangat kuat!"

---

Saat itu, Aryuu yang biasanya tenang, mulai berpikir keras. Dia tahu Akeno bukan musuh yang bisa diperlambat hanya dengan menghindar.

---

Aryuu (dengan cepat, dalam hati):

"Kalau begitu, aku harus bertindak... Tapi bagaimana caranya tanpa melukai dia?"

Kebingungan Aryuu dan Hana

Aryuu dan Hana terus berlari, berusaha menghindari serangan-serangan dari Akeno yang semakin gila. Tanah dan bangunan di sekitar mereka hancur begitu saja oleh gelombang energi gelap yang dikeluarkan Akeno, sementara Akeno sendiri semakin tidak terkendali.

Aryuu yang biasanya sangat tenang, kini terlihat sedikit bingung. Hana, yang biasanya bersemangat, juga tampak cemas. Keduanya berlari tanpa arah karena serangan Akeno yang datang begitu mendalam dan penuh amarah.

---

Aryuu (berbisik, panik):

"Hana, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak pernah melihat Akeno seperti ini sebelumnya!"

---

Hana (berusaha berpikir cepat):

"Ya, aku juga bingung! Ini bukan Akeno yang kita kenal! Kenapa dia bisa berubah seperti ini?"

---

Aryuu (sambil menghindari serangan):

"Tapi ini gila, dia bahkan tidak mendengarkan kita! Apa yang bisa kita lakukan untuk menenangkan dia?"

---

Hana (mendengus frustasi):

"Kita harus cepat! Kalau begini terus, kita yang jadi target!"

---

Mereka berdua terpojok. Akeno semakin dekat, dan serangan yang datang tidak bisa dihentikan hanya dengan berlari. Kecepatan Akeno yang luar biasa membuat mereka terdesak, tak ada celah untuk melawan atau menghindar lagi.

---

Perdebatan Cepat di Tengah Kejaran Akeno

Dalam keputusasaannya, Aryuu mencoba berpikir keras. Di tengah segala kekacauan ini, dia berusaha mencari jalan keluar. Tapi kenyataannya, dia tidak punya banyak waktu.

---

Aryuu (berbisik, menggerakkan tangan dengan cepat):

"Harus ada cara untuk menghentikannya... Hana, apa kamu punya ide?"

---

Hana (terlihat bingung):

"Aku... aku tidak tahu! Dia begitu marah!"

---

Aryuu (berusaha fokus):

"Kita harus mencoba berbicara dengannya! Tapi dia tidak mau mendengarkan!"

---

Hana (dengan nada panik):

"Bagaimana kalau kita mencoba berhenti lari? Mungkin kalau kita diam dia akan—"

---

Namun, sebelum Hana bisa menyelesaikan kalimatnya, Akeno melemparkan serangan besar yang langsung menuju mereka dengan kecepatan yang mengerikan. Dalam kebingungannya, Aryuu panik dan berusaha menghentikan serangan itu dengan satu tangan.

---

Serangan yang Tak Terhindarkan

Saat serangan Akeno datang begitu mendalam, Aryuu yang kebingungan dan panik, mengangkat satu tangannya untuk mencoba menahannya, berharap bisa menghentikan gelombang energi itu sebelum mencapai mereka.

---

Aryuu (dalam hati, panik):

"Harus dihentikan! Kalau tidak..."

---

Hana (terkejut):

"AYO, BERHATI-HATI!"

---

Namun, meski Aryuu berusaha keras, serangan Akeno tetap mengenai tubuhnya. Ledakan besar terjadi, mengirimkan debu dan asap ke mana-mana.

Aryuu terlempar beberapa meter ke belakang, dan tubuhnya sedikit terguncang oleh kekuatan serangan tersebut.

---

Hana (berlari ke arah Aryuu dengan cemas):

"Aryuu! Kamu baik-baik saja?"

---

Aryuu (terengah-engah, sedikit bingung):

"Apa yang terjadi...? Itu... Itu sangat kuat!"

---

Meskipun Aryuu sedikit terluka, dia tidak terluka parah. Namun, Akeno tetap tidak puas. Tatapannya semakin tajam dan penuh kebencian.

---

Akeno (terlihat penuh amarah, dengan senyuman kecil yang mengerikan):

"Jadi kamu pikir, hanya dengan mengangkat tangan bisa menghentikan serangan dariku, Aryuu?"

---

Sisi Yandere Akeno Muncul

Apa yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Aryuu dan Hana.

Dengan senyuman yang kini berubah menjadi sangat mengerikan, Akeno menghapus semua kesan anggun dan lembut yang biasa dia tunjukkan. Dalam sekejap, dia menjadi seperti seorang yandere yang siap menghancurkan segalanya.

---

Akeno (dengan suara mengerikan, penuh tekanan):

"Kau pikir aku hanya akan diam? Tidak, Aryuu... Tidak akan pernah."

---

Hana (terkejut, semakin panik):

"Akeno, tolong! Jangan begitu!"

---

Aryuu (tertegun, berusaha menenangkan Akeno):

"Akeno! Ini bukan cara kita menyelesaikan masalah! Kembalilah seperti biasa!"

---

Namun, Akeno tidak mendengarkan. Dengan senyum yang semakin lebar dan mengerikan, dia melangkah maju, setiap langkahnya memancarkan auranya yang menakutkan.

---

Akeno (dengan nada penuh amarah dan humor gelap):

"Jangan khawatir, Hana. Aku hanya ingin sedikit perhatian dari Aryuu. Aku sudah menunggu lama, dan sekarang... aku akan mendapatkannya."

---

Hana semakin bingung, tetapi di sisi lain, Aryuu yang mulai sadar bahwa situasinya semakin serius, merasa harus melakukan sesuatu. Meskipun Akeno adalah teman baiknya, perubahan drastis ini sangat mengganggu.

---

Aryuu (dengan suara serius namun sedikit cemas):

"Akeno, ini bukan dirimu! Jangan biarkan sisi itu mengendalikan dirimu!"

---

Namun, Akeno hanya tersenyum lebar. Senyum itu bukan lagi senyum lembut dan penuh perhatian yang biasa dia tunjukkan, melainkan senyum yang penuh dengan kegilaan dan kekuasaan yang tidak terkontrol.

---

Akeno (menghampiri Aryuu dengan kecepatan yang luar biasa):

"Aku ingin menunjukkan padamu, Aryuu. Aku yang terbaik di sini. Jangan membuatku kesal lagi."

---

Tentu saja, meskipun situasinya sangat tegang, perubahan tiba-tiba dalam sikap Akeno tidak bisa dihindari.

Aryuu, yang sempat bingung dengan serangan itu, segera bangkit dan melangkah mundur dengan cemas, sementara Hana, yang melihat Akeno mendekat dengan senyum mengerikan, hanya bisa berteriak dengan frustasi.

---

Hana (berteriak, agak lucu dalam kebingungannya):

"Aryuu! Ini benar-benar gila! Apa kita harus bersembunyi sekarang?!"

---

Aryuu (berlarian mundur, dengan nada bercanda):

"Kenapa tidak? Sepertinya kita membutuhkan tempat persembunyian yang lebih baik!"

---

Mereka berdua berlari, tetapi kali ini, di tengah situasi yang sangat menegangkan. Mereka sepertinya lebih panik dari pada takut, mencoba menghindar dari Akeno yang kini benar-benar berubah menjadi seorang yandere yang siap menghancurkan segalanya untuk mendapat perhatian Aryuu.

---

Akeno (tertawa pelan, suaranya penuh dengan kegilaan):

"Tak ada yang bisa lari dariku, Aryuu. Aku akan selalu ada di sini, jadi berhati-hatilah."

---

Aryuu (dengan suara sedikit bingung namun berusaha tenang):

"Ini bukan cara yang kita harapkan untuk saling berteman, Akeno..."

---

Situasi yang semakin gila ini menandakan bahwa Akeno tidak akan mudah diredakan, dan meskipun Aryuu dan Hana berusaha melarikan diri, keadaan semakin sulit untuk diatasi.

---

Bersambung ke Bab 22

RECENTLY UPDATES
Read My Cell Prison
Sci-fiActionFantasy
Read My Hitman System
ActionAdventureFantasyMystery