Aryuu the unknowable god-Chapter 20: Bab 19 – Pagi yang Tenang di Desa

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 20 - Bab 19 – Pagi yang Tenang di Desa

Cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah jendela kecil di kamarku.

Aku membuka mata perlahan, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Seperti biasa, aku tidak perlu alarm untuk bangun.

Aku melihat ke luar jendela.

Langit cerah, burung-burung berkicau, dan udara pagi yang sejuk menyelimuti desa kecil ini.

Hari ini dimulai seperti biasa.

---

Aku segera bangkit, merapikan tempat tidurku, lalu keluar kamar.

Di ruang tengah, ibu sudah lebih dulu bangun dan tengah menyiapkan air untuk mandi.

Dia menoleh ke arahku dan tersenyum.

---

Ibu (tersenyum lembut):

"Kau bangun pagi seperti biasa, Aryuu."

Aryuu (mengangguk santai):

"Sudah terbiasa."

---

Aku segera menuju dapur, mengambil bahan-bahan sederhana untuk menyiapkan sarapan.

Tidak butuh waktu lama, aroma makanan mulai memenuhi rumah kecil kami.

Setelah selesai memasak, aku dan ibu makan bersama seperti biasa.

Setelah makan, aku segera berjalan keluar rumah untuk berbelanja di pasar.

---

Pertemuan di Pasar

Seperti biasa, pasar desa sudah mulai ramai sejak pagi.

Aku berjalan santai sambil membawa kantong kain untuk belanja.

Saat aku sedang memilih beberapa bahan makanan

Tiba-tiba, aku merasakan kehadiran seseorang yang sangat familiar.

Aku menoleh ke samping...

Dan di sana, Asobe Hana berdiri dengan ekspresi senyum isengnya.

---

Asobe Hana (tersenyum nakal):

"Wah~ Kau benar-benar hidup seperti manusia biasa, ya?"

Aryuu (datar):

"Dan kau benar-benar suka menguntit."

---

Dia hanya tertawa kecil.

Aku kembali fokus memilih bahan makanan.

Namun, Asobe masih berdiri di sampingku, memperhatikanku dengan tatapan penasaran.

---

Asobe Hana (menyilangkan tangan, sedikit terkejut):

"Aku masih sulit percaya... Kau, Aryuu yang dulu bisa menghancurkan semesta hanya dengan satu tebasan, sekarang malah repot-repot memilih sayuran di pasar?"

Aryuu (datar, sambil mengambil sayuran):

"Dan kau, Asobe Hana yang dulu menganggap pertarungan sebagai segalanya, sekarang malah berdiri di sini dan mengomentari hidupku?"

---

Dia tertawa kecil lagi.

Namun, aku bisa melihat tatapan penasaran di matanya.

Sepertinya, dia benar-benar ingin tahu kenapa aku memilih hidup seperti ini.

Tapi aku tidak berniat menjelaskannya.

Setelah selesai belanja, aku berjalan pulang.

Namun, aku bisa merasakan...

Asobe Hana membuntutiku dari belakang.

---

Asobe Hana yang Terkejut

Aku sengaja membiarkannya mengikuti.

Saat tiba di rumah, aku membuka pintu dan masuk seperti biasa.

Asobe Hana berdiri di luar pagar, menatap rumah kecilku dengan ekspresi terkejut.

---

Asobe Hana (terdiam sebentar, lalu berbicara pelan):

"Jadi... Kau benar-benar hidup di tempat seperti ini?"

Aku meliriknya sebentar sebelum meletakkan belanjaan di meja.

---

Aryuu (tenang):

"Ada masalah?"

---

Dia menghela napas pelan.

---

Asobe Hana (menyilangkan tangan, masih terkejut):

"Aku hanya tidak menyangka... Kau, yang dulu menguasai realitas, sekarang tinggal di rumah sekecil ini."

Aryuu (mengangkat bahu):

"Aku tidak butuh tempat besar."

---

Dia mendekat ke pintu, menatap bagian dalam rumah.

Lalu, tiba-tiba...

Ibu keluar dari kamar dan melihatnya.

Ekspresi ibu langsung berubah menjadi terkejut.

---

Ibu (terbelalak, sedikit panik):

"A-Apa?! Seorang putri kerajaan... di rumah ini?!"

---

Aku menghela napas pelan.

Sepertinya, ibu langsung mengenali Asobe Hana.

Dan Asobe tersenyum kecil melihat reaksi ibu.

---

Asobe Hana (tertawa kecil, sopan):

"Tenang saja, aku hanya mampir sebentar."

Ibu (masih sedikit kaget):

"T-tapi... kenapa...?"

---

Aku menoleh ke arah Asobe, memberi tatapan yang seakan berkata 'jangan mengatakan hal aneh.'

Dia hanya tersenyum misterius, lalu mengalihkan pembicaraan.

---

Setelah beberapa menit berbincang, aku bersiap untuk berangkat ke akademi.

Namun, sebelum pergi, aku melihat sekilas ekspresi ibu...

Dia masih terlihat bingung dan sedikit cemas.

---

Di Akademi – Pertemuan dengan Lucius

Setelah sampai di akademi, aku segera menuju kelas seperti biasa.

Pagi itu berlalu dengan cepat, dan tibalah waktu istirahat siang.

Aku berjalan santai di koridor bersama Asobe Hana.

Namun, saat itu...

Asobe tiba-tiba berhenti melangkah.

Ekspresinya berubah serius.

---

Asobe Hana (berbisik, mengernyitkan dahi):

"...Aryuu."

Aku menoleh ke arahnya.

---

Aryuu (tenang):

"Hm?"

Asobe Hana (menatap ke depan, berbicara pelan):

"Orang itu... dia seperti kehampaan."

---

Aku mengikuti arah pandangannya.

Dan di sana, Lucius Varvatos sedang duduk di bawah pohon, bersandar dengan mata tertutup.

Seperti biasa, dia terlihat tidak peduli dengan sekelilingnya.

---

Asobe Hana (melihat Lucius, sedikit bingung):

"Aku... tidak bisa merasakan apa pun darinya. Tidak ada energi, tidak ada keberadaan... seolah-olah dia hanya ilusi."

Aku tersenyum tipis.

---

Aryuu (tenang, menatap Lucius):

"Ya. Begitulah dia."

---

Aku berjalan mendekati Lucius dan berdiri di sampingnya.

Tanpa membuka mata, dia sedikit menggerakkan kepalanya ke arahku.

---

Aryuu (tenang):

"Hana, ini Lucius."

---

Asobe menatap Lucius dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.

---

Asobe Hana (tersenyum, mencoba berbicara dengan ramah):

"Halo, Lucius. Aku Asobe Hana."

---

Lucius membuka matanya sedikit, melihat Asobe sebentar... lalu menutup matanya lagi.

Dia mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa... lalu kembali tidur.

---

Asobe Hana (terdiam sebentar, lalu mendecak pelan):

"...Dia bahkan lebih tidak peduli daripada dirimu, Aryuu."

Aku tertawa kecil.

---

Aryuu (santai):

"Itu sudah biasa."

---

Asobe masih menatap Lucius dengan ekspresi bingung.

Namun, aku bisa melihat...

Dia mulai menyadari bahwa dunia ini lebih rumit dari yang dia duga.

cerita beralih ke kelas lucius

Di dalam ruang kelas, seorang gadis dengan rambut panjang berwarna perak kebiruan sedang duduk di dekat jendela.

Dia adalah Keina Hellzaria, putri dari keluarga Hellzaria, keluarga pedagang paling kaya di kerajaan.

Namun, meski berasal dari keluarga terpandang, hidupnya tidak seindah yang terlihat.

---

Sejak kecil, orang-orang selalu menghormatinya, tetapi tidak pernah mendekatinya sebagai teman.

Baik karena statusnya, kekayaannya, atau bahkan kekuatan sihirnya yang berada di tingkat A, tidak ada satu pun yang benar-benar melihatnya sebagai Keina—hanya sebagai 'putri keluarga Hellzaria'.

Itu berlangsung hingga dia masuk ke akademi.

Di sini, situasinya tidak jauh berbeda.

Dia tetap disegani, dihormati, tetapi tetap merasa sendirian.

Namun, segalanya berubah pada suatu hari...

---

Pertemuan dengan Lucius Varvatos

Suatu siang, saat Keina duduk di kelas, dia merasa bosan.

Saat itu, matanya tidak sengaja tertuju pada seorang murid laki-laki di sudut kelas.

Dia memiliki rambut putih keperakan panjang yang agak berantakan, wajah yang tenang, dan postur yang santai.

Namun, yang paling mencolok darinya adalah...

Dia tidur seperti orang mati.

---

Keina sedikit mengernyit.

Bagaimana bisa seseorang begitu malas hingga tidur tanpa peduli dengan sekitar?

Terlebih lagi, saat itu dia tahu siapa anak itu.

---

Keina (berbisik pada dirinya sendiri, penasaran):

"Lucius... Varvatos?"

---

Siswa yang tidak pernah berbicara dengan siapa pun.

Tidak peduli dengan kelas.

Tidak peduli dengan status sosial.

Dan... tidak peduli dengan siapa pun.

---

Keina merasa tertarik.

Selama ini, semua orang menghormatinya karena statusnya.

Namun, anak ini bahkan tidak memandangnya sama sekali.

Murni ketidakpedulian.

---

Keina mendekat ke bangkunya dan mencoba menyapanya.

---

Keina (tersenyum sopan):

"Halo, kau Lucius, kan?"

---

Namun, tidak ada jawaban.

Lucius bahkan tidak membuka matanya sedikit pun.

Seolah-olah Keina tidak pernah ada di sana.

---

Keina (sedikit mengerutkan dahi, mencoba lagi):

"Umm... Kau tidak boleh tidur di kelas, tahu?"

---

Masih tidak ada respons.

Lucius tetap dalam posisi tidurnya seakan dia bukan bagian dari dunia ini.

Keina merasa sedikit frustrasi.

Namun...

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang benar-benar mengabaikannya tanpa alasan status atau kekuatan.

Itu... unik.

---

Dari Rasa Penasaran Menjadi Cinta

Hari demi hari berlalu...

Keina mulai mencoba mendekati Lucius lebih sering.

Kadang-kadang dia menyapanya di kelas.

Kadang dia mengajaknya bicara.

Namun, Lucius selalu memberikan reaksi yang sama—tidak peduli.

---

Namun, ada sesuatu yang membuat Keina tidak menyerah.

Meskipun Lucius terlihat tidak peduli, dia tidak pernah bersikap kasar atau mengusirnya.

Dia hanya... ada di sana.

---

Suatu hari, saat Keina sedang duduk di taman akademi, dia melihat beberapa siswa laki-laki mencoba mengganggunya.

Mereka iri dengan status dan kekayaannya, jadi mereka mencoba menantangnya dalam duel sihir.

Namun, sebelum Keina sempat menjawab, Lucius yang kebetulan lewat hanya berkata satu kalimat sederhana.

---

Lucius (dengan suara tenang, datar):

"Jangan ganggu dia."

---

Dan anak-anak itu langsung pergi tanpa berkata apa-apa.

Itu adalah pertama kalinya Lucius berbicara untuknya.

Sejak saat itu...

Keina menyadari sesuatu.

Dia tidak hanya penasaran dengan Lucius.

Dia... mencintainya.

---

Keina dan Rasa Cinta yang Tak Terbalas

Namun, ada satu masalah...

Lucius tidak peduli dengan perasaannya.

Dia tidak membalas cinta itu.

Bukan karena dia membencinya...

Tetapi karena dia tidak memikirkan hal-hal seperti itu.

Baginya, hubungan sosial hanyalah sesuatu yang tidak perlu diperhatikan.

---

Namun, Keina tidak menyerah.

Meskipun Lucius mungkin tidak akan pernah membalas perasaannya, dia tetap ingin berada di dekatnya.

Walaupun hanya sebagai teman.

Updated from freewёbnoνel.com.

Atau... hanya sebagai seseorang yang selalu memperhatikannya dari jauh.

Karena baginya...

Lucius Varvatos adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tidak memandangnya sebagai 'Putri Keluarga Hellzaria', tetapi hanya sebagai Keina.

Dan itu sudah cukup.

---

Kembali ke Masa Sekarang

Saat itu, Keina sedang berjalan di koridor akademi, menuju kelasnya.

Ketika dia melihat ke arah taman...

Dia melihat Lucius sedang tidur di bawah pohon seperti biasa.

Namun, kali ini...

Dia tidak sendirian.

---

Keina sedikit terkejut.

Di sana, ada seorang gadis berdiri di samping Aryuu.

Gadis itu sedang berbicara dengan Aryuu sambil sesekali melirik Lucius.

Dan Keina bisa melihat...

Ekspresi gadis itu penuh dengan rasa penasaran.

---

Keina (dalam hati, mengernyitkan dahi sedikit):

"Siapa dia...?"

---

Hati Keina tiba-tiba merasa sedikit tidak nyaman.

Bukan karena dia cemburu...

Tetapi karena ini adalah pertama kalinya dia melihat seseorang selain dirinya memperhatikan Lucius dengan penuh rasa ingin tahu.

Dan entah kenapa...

Dia tidak menyukainya.

---

Bersambung ke Bab 20...