Aryuu the unknowable god-Chapter 19: Bab 18 – Kembali ke Kehidupan Biasa---

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 19 - Bab 18 – Kembali ke Kehidupan Biasa---

Pagi yang Seperti Biasa

Matahari pagi menyinari akademi dengan lembut, membangkitkan kehidupan yang baru.

Para siswa berjalan ke arah kelas masing-masing, beberapa terlihat masih mengantuk, sementara yang lain tampak bersemangat untuk memulai hari.

Aku?

Aku hanya berjalan santai dengan tangan di saku, menikmati angin pagi yang menyegarkan.

Di dalam pikiranku, Agnithantos masih tampak sedikit terganggu.

Tapi aku sengaja mengabaikannya.

> Aku tidak ingin memikirkannya sekarang.

> Aku hanya ingin menjalani hari seperti biasa.

---

Agnithantos: (telepati)

"Kau yakin mau bersikap santai begini?"

Aku menghela napas.

---

Aryuu: (telepati)

"Ya. Memikirkan hal itu terus hanya akan membuat kepala pusing."

Agnithantos terdiam, lalu akhirnya tertawa kecil.

---

Agnithantos:

"Hah... yah, kau ada benarnya juga."

---

> Lagipula, sekuat apapun makhluk bernama Zhelphiras itu... dia bukan ancaman saat ini.

> Jadi, tidak ada gunanya menghabiskan waktu terlalu banyak untuknya.

---

Pelajaran yang (Tidak) Menarik

Saat aku masuk ke kelas, suasana sudah ramai seperti biasa.

Seorang siswa sudah mulai berceloteh tentang tugas kemarin, sementara yang lain membicarakan duel Familiar yang baru saja terjadi.

Aku mengambil tempat dudukku, lalu menoleh ke Akeno yang duduk di sebelahku.

---

Aryuu:

"Yo."

Akeno menatapku sebentar, lalu menghela napas.

---

Akeno:

"Kau kelihatan malas seperti biasa."

Aku tertawa kecil.

---

Aryuu:

"Karena aku memang malas."

---

Akeno menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Namun, sebelum kami bisa melanjutkan percakapan, guru masuk ke dalam kelas.

Pelajaran pun dimulai...

Dan seperti biasa, aku tidak terlalu memperhatikannya.

---

> Aku lebih fokus pada suasana di sekitar.

> Melihat bagaimana siswa lain belajar, berbicara, dan menjalani hari-hari mereka.

Meskipun aku menyamar sebagai manusia biasa di sini, aku masih merasa...

Berbeda.

---

Saat Istirahat

Saat jam istirahat tiba, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar akademi.

Namun...

Aku melihat sesuatu yang menarik di halaman belakang akademi.

Di sana, Lucius sedang tidur di bawah pohon dengan posisi santai.

Tidak ada satu pun siswa lain yang mendekatinya.

Mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan sifatnya yang tertutup.

Aku berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingnya.

---

Aryuu:

"Yo, kau tidur?"

Lucius tidak bergerak sedikit pun.

Lalu, setelah beberapa detik...

---

Lucius:

"Ya. Aku tidur."

Aku mengerutkan kening.

---

Aryuu:

"Kalau kau tidur, kenapa menjawab?"

This content is taken from fгee𝑤ebɳoveɭ.cøm.

Lucius menghela napas pelan.

---

Lucius:

"Karena kau mengganggu tidurku."

---

Aku tertawa kecil, lalu duduk di sebelahnya.

Meskipun aku tidak tahu banyak tentangnya, aku merasa dia bukan orang yang buruk.

Cuma... terlalu malas untuk melakukan apapun.

---

Aryuu:

"Kau tidak punya teman di akademi ini?"

Lucius tetap memejamkan mata, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.

---

Lucius:

"Aku tidak membutuhkannya."

---

Aku mengangkat bahu.

> Jawaban yang kuharapkan dari seseorang sepertinya.

Kami pun terdiam beberapa saat, menikmati angin yang berhembus pelan di halaman belakang.

---

Namun, tiba-tiba...

Agnithantos bersuara dalam pikiranku.

---

Agnithantos:

"Aku ingin bertanya sesuatu pada Zhelphiras."

Aku menghela napas.

---

Aryuu:

"Serius? Baru saja aku bilang kita tidak usah memikirkan itu terlalu dalam."

Agnithantos:

"Tapi aku benar-benar penasaran."

---

Aku berpikir sejenak, lalu menoleh ke Lucius.

Aryuu:

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Lucius mengangkat sebelah alisnya, masih dengan mata tertutup.

---

Lucius:

"Tergantung. Jika pertanyaannya membosankan, aku tidak akan menjawab."

Aku tertawa kecil.

---

Aryuu:

"Zhelphiras... bagaimana dia memilih tuannya?"

Lucius terdiam.

Matanya tetap tertutup, tapi aku bisa merasakan atmosfer di sekitarnya sedikit berubah.

Lalu, setelah beberapa detik...

Dia tersenyum kecil.

---

Lucius:

"Zhelphiras tidak memilih tuannya."

Aku mengernyit.

---

Aryuu:

"Maksudmu?"

Lucius berbalik sedikit, membuka sebelah matanya, dan menatapku.

Mata itu... terasa seolah menembus realitasku.

---

Lucius:

"Dia hanya bermanifestasi."

---

Aku terdiam.

Sekali lagi, jawaban itu terdengar seperti teka-teki yang sulit dimengerti.

Namun, sebelum aku bisa bertanya lebih jauh, bel masuk berbunyi.

Lucius langsung berdiri dan berjalan pergi dengan malas, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Aku hanya bisa menghela napas panjang.

---

Agnithantos:

"Yah, setidaknya kita dapat sedikit informasi."

Aku mengangkat bahu.

---

Aryuu:

"Tapi itu tidak membantu sama sekali."

Agnithantos:

"Hahaha, benar juga."

---

Aku berdiri dan berjalan kembali ke kelas.

Hari ini...

Bukan hari yang istimewa.

Tapi setidaknya, aku bisa sedikit menikmati kehidupan sebagai siswa biasa.

Meski aku tahu...

Hari-hari tenang seperti ini mungkin tidak akan bertahan lama.

Siang hari, tepat setelah jam istirahat berakhir, aku kembali ke kelas bersama Akeno.

Aku pikir hari ini akan berjalan dengan santai...

Tapi ternyata, aku salah.

Saat kami semua sudah duduk di tempat masing-masing, guru tiba-tiba masuk bersama seseorang.

---

Seorang gadis berambut panjang dengan warna abu-abu keperakan berjalan masuk dengan langkah santai.

Matanya yang berwarna merah tua menatap ke seluruh ruangan, seolah sedang menilai setiap siswa di dalamnya.

Tatapannya terasa tajam dan menusuk, tapi dia tetap memasang ekspresi tenang.

---

Guru berdeham kecil, lalu mulai berbicara.

---

Guru:

"Baiklah, sebelum kita melanjutkan pelajaran, aku ingin memperkenalkan murid baru kita."

Sang gadis tersenyum tipis, lalu melangkah maju.

---

???:

"Namaku Asobe Hana. Senang bertemu dengan kalian."

---

Beberapa siswa mulai berbisik-bisik.

Gadis ini memiliki aura yang berbeda dari yang lain.

Bukan hanya karena kecantikannya yang mencolok, tapi juga karena... entah kenapa, dia terasa seperti bukan manusia biasa.

Tentu saja, aku tahu siapa dia.

Aku hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi.

---

> Asobe Hana...

> Kau benar-benar mengikutiku sampai sini, ya?

> Aku seharusnya sudah menduga ini.

---

Masa Lalu yang Tak Terlupakan

Nama itu... bukan nama asing bagiku.

Di kehidupanku yang sebelumnya—sebelum aku menyamar sebagai manusia—dia adalah salah satu rival terkuatku.

Bukan hanya sekadar lawan biasa.

Dia adalah seseorang yang hampir bisa menyamai kekuatanku dalam wujud asliku.

Kami telah bertarung tak terhitung berapa kali.

> Tapi, pada akhirnya, aku selalu menang.

> Dan dia? Dia selalu berusaha untuk melampauiku.

Dan sekarang...

Dia memilih untuk bereinkarnasi sebagai manusia juga?

---

Aku menatapnya dengan ekspresi datar.

Namun, dia hanya tersenyum misterius ke arahku.

Seolah ingin mengatakan sesuatu tanpa kata-kata.

---

Guru:

"Baiklah, Asobe Hana, kau bisa duduk di sebelah Aryuu."

Asobe melangkah santai, lalu duduk di kursi kosong di sebelahku.

Akeno melirik ke arahku dengan rasa penasaran.

---

Akeno: (berbisik)

"Kau mengenalnya?"

Aku mengangkat bahu.

---

Aryuu:

"Entahlah... mungkin."

---

Asobe tertawa kecil.

Kemudian, dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar, dia berbisik ke arahku.

---

Asobe:

"Tidak kusangka kita bertemu lagi di sini, Aryuu."

Aku menghela napas panjang.

---

Aryuu: (pelan)

"Kenapa kau ada di sini?"

Asobe tersenyum, tapi matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.

---

Asobe:

"Aku penasaran... seperti apa hidup sebagai manusia yang kau pilih ini?"

---

> Tentu saja...

> Dia hanya ingin bermain-main denganku.

> Sama seperti dulu.

---

Pelajaran yang Penuh Ketegangan

Saat pelajaran dimulai, aku mencoba mengabaik kehadiran Asobe.

Tapi itu tidak mudah.

Aku terus merasakan tatapan intens darinya setiap beberapa menit.

Seolah-olah dia sedang menantiku untuk bereaksi.

Tapi aku tetap tenang, berpura-pura tidak peduli.

---

Agnithantos: (telepati)

"Heh, kurasa kita dapat masalah baru."

Aku mengerutkan kening.

---

Aryuu:

"Ya, aku juga berpikir begitu."

---

> Dengan kehadiran Asobe Hana, hidupku di akademi ini pasti tidak akan pernah sama lagi.

> Dan itu bukan pertanda baik.

---

Saat pelajaran berakhir, Asobe langsung menoleh ke arahku dengan ekspresi santai.

---

Asobe:

"Kau mau mengobrol setelah ini?"

Aku menatapnya dengan malas.

---

Aryuu:

"Untuk apa?"

Asobe tertawa kecil.

---

Asobe:

"Ah, kau masih sama seperti dulu. Tak apa, kita bisa bicara nanti."

---

Dia bangkit dari kursinya, lalu melangkah pergi sebelum aku bisa berkata apa-apa.

Aku hanya bisa menghela napas panjang.

---

Akeno:

"Sepertinya dia tertarik padamu, Aryuu."

Aku mendengus.

---

Aryuu:

"Percayalah, itu bukan hal yang bagus."

---

Akeno menatapku dengan rasa penasaran.

Tapi aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh.

Karena aku tahu...

Asobe Hana bukan seseorang yang bisa dianggap remeh.

---

> Dengan kemunculannya di akademi ini...

> Aku yakin bahwa kehidupanku yang "tenang" sebagai manusia... sudah resmi berakhir.

Tidak butuh waktu lama bagi Asobe Hana untuk menarik perhatian semua orang di akademi.

Hanya dalam hitungan jam, dia sudah menjadi topik pembicaraan utama di antara para siswa.

---

"Kau lihat gadis baru itu? Dia luar biasa cantik!"

"Bukan hanya cantik! Dia juga berasal dari keluarga bangsawan ternama!"

"Bangsawan mana?"

"Keluarga Asobe! Salah satu keluarga tertua dan paling berpengaruh di kerajaan!"

"Serius?! Bagaimana bisa akademi kita mendapatkan seseorang seperti dia?"

---

Dimanapun dia pergi, selalu ada tatapan kagum yang mengikutinya.

Para siswa perempuan mengagumi kecantikannya, sementara para siswa laki-laki terpikat olehnya.

---

Tapi...

Bukan hanya karena wajahnya atau status bangsawannya yang membuatnya populer begitu cepat.

Aura yang dimilikinya berbeda.

Ada sesuatu yang membuatnya tampak seperti "di atas" orang lain—seolah-olah dia bukan manusia biasa.

Tentu saja, itu benar adanya.

Hanya aku yang tahu siapa dia sebenarnya.

---

Rival, Kakak, dan Teman Dekat

Aku dan Asobe Hana memiliki sejarah panjang.

Di masa lalu, dia adalah salah satu lawanku yang paling gigih.

Setiap kali kami bertarung, pertarungan kami begitu dahsyat hingga harus menciptakan semesta baru hanya sebagai arena pertempuran.

---

> Aku selalu menang...

> Tapi dia tidak pernah menyerah untuk mengejarku.

> Dan entah bagaimana...

> Di balik semua pertarungan brutal itu, dia menganggapku sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar rival.

> Bagi dia, aku adalah seorang kakak... dan teman dekat.

---

Meski aku selalu memandangnya sebagai lawan, dia justru menganggap pertarungan kami sebagai bentuk keakraban.

Dan sekarang, dia berada di dunia ini sebagai manusia... dan masih tetap lengket denganku.

---

Kedekatan yang Menjadi Perbincangan

Aku berusaha menjaga jarak darinya.

Tapi dia tidak pernah membiarkanku lolos.

Kemana pun aku pergi, dia selalu saja ada di dekatku.

---

Di kelas?

Dia duduk di sebelahku.

Saat istirahat?

Dia mengikutiku ke mana pun aku pergi.

Saat di kantin?

Dia langsung duduk di meja yang sama denganku.

Bahkan saat aku berusaha mencari tempat sepi untuk tidur siang, dia tetap menemukanku.

---

> Ini... mulai jadi masalah.

---

Dan tentu saja, itu menimbulkan banyak pembicaraan di akademi.

---

"Kau lihat? Asobe Hana selalu dekat dengan Aryuu!"

"Eh? Aryuu? Siswa dengan energi lemah itu?"

"Iya! Padahal dia bukan siapa-siapa! Dia bukan bangsawan, bahkan dia berasal dari keluarga miskin!"

"Kenapa gadis seperti Asobe Hana bisa tertarik pada orang seperti dia?"

---

Para siswa mulai berbisik-bisik di mana-mana.

Beberapa merasa iri, beberapa penasaran, dan sebagian besar tidak bisa memahami situasinya.

---

Aku benar-benar tidak peduli.

Tapi ada satu orang yang jelas-jelas tidak senang dengan semua ini.

---

Sejak kedatangan Asobe Hana, aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Akeno.

Dia tetap bersikap seperti biasa, tapi ada momen di mana dia tampak sedikit lebih diam dari biasanya.

---

Ketika aku dan Asobe berbicara, Akeno hanya duduk di sampingku, terdiam.

Saat Asobe tertawa dan bercanda denganku, aku bisa merasakan tatapan Akeno yang sedikit menusuk.

Saat aku berjalan bersama Asobe di lorong akademi, Akeno melihat ke arah kami dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

---

Suatu ketika, saat kami bertiga berada di kantin...

Akeno akhirnya tidak bisa menahan diri lagi.

---

Akeno:

"Aryuu... sejak kapan kau begitu dekat dengan Asobe Hana?"

Aku menelan makananku dengan santai sebelum menjawab.

---

Aryuu:

"Hmm... sejak lama."

---

Jawabanku yang singkat membuat Akeno mengerutkan kening.

Aku tidak ingin terlalu banyak menjelaskan tentang masa laluku dengan Asobe.

Tapi Asobe justru tersenyum dan menambahkan sesuatu yang membuat situasi semakin kacau.

---

Asobe:

"Kami sudah seperti saudara sejak dulu~"

---

Akeno menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang sendok.

Matanya sedikit membelalak.

Lalu, dia berdeham pelan, mencoba terlihat tenang.

---

Akeno:

"Saudara, ya...?"

Asobe mengangguk santai.

---

Asobe:

"Ya! Kami sering menghabiskan waktu bersama, bertarung, bertualang, dan melakukan banyak hal seru lainnya~!"

---

Aku langsung menoleh ke Asobe dengan tatapan tajam.

Dia hampir saja membocorkan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.

---

Aryuu: (dengan suara rendah)

"Jangan bicara terlalu banyak."

---

Asobe tertawa kecil.

Tapi aku tahu, dia tidak benar-benar mengerti batasannya.

Dia terlalu lugu dalam hal ini.

---

Akeno menghela napas panjang, lalu menyuap makanannya tanpa berkata apa-apa lagi.

Tapi dari ekspresinya, aku tahu...

Dia tidak suka melihat kedekatanku dengan Asobe Hana.

---

> Masalah lain telah muncul.

> Bukan hanya tentang rahasiaku yang bisa terbongkar...

> Tapi juga tentang Akeno yang mulai menunjukkan rasa cemburu.

---

Akhir dari Hari yang Panjang

Saat matahari mulai terbenam, aku berjalan kembali ke asramaku.

Asobe mengikutiku dengan langkah santai.

---

Asobe:

"Kau tidak berubah, Aryuu."

Aku meliriknya sekilas.

---

Aryuu:

"Kau juga tidak berubah. Masih sama menyebalkannya."

Asobe tertawa kecil.

---

Asobe:

"Kalau begitu... apa kau mau bertarung denganku lagi?"

Aku mendengus.

---

Aryuu:

"Di sini? Di dunia manusia? Jangan bodoh."

---

Asobe memiringkan kepalanya.

Lalu dia tersenyum misterius.

---

Asobe:

"Yah, cepat atau lambat... kau akan kembali seperti dirimu yang sebenarnya."

Aku berhenti melangkah.

Aku menatapnya dengan tatapan tajam.

---

Aryuu:

"Aku tidak punya niat untuk kembali."

---

Asobe menghela napas panjang.

Lalu, dengan suara lembut, dia berkata...

---

Asobe:

"Kita lihat saja nanti, Aryuu."

---

> Aku tidak tahu apa yang Asobe rencanakan...

> Tapi satu hal yang pasti...

> Kehidupanku sebagai manusia kini sudah tidak akan sama lagi.

Setelah melewati hari yang panjang, aku akhirnya pulang dan menikmati makan malam bersama ibu.

Seperti biasa, ibu selalu menyambutku dengan senyum hangatnya.

Meski aku tahu dia sebenarnya khawatir akan kehidupanku di akademi, tapi dia tidak pernah menunjukkannya secara langsung.

---

Ibu:

"Aryuu, ibu dengar ada murid baru yang cantik sekali di akademimu."

Aku mendengus pelan sambil menyendok nasi ke dalam mulut.

---

Aryuu:

"Hm? Ya, Asobe Hana."

Ibu:

"Kudengar dia berasal dari keluarga bangsawan. Benarkah?"

Aryuu:

"Benar."

---

Ibu menatapku dengan tatapan penuh arti.

Seakan-akan dia ingin bertanya sesuatu, tapi menahannya.

Aku tahu maksudnya.

---

Ibu:

"Kau dekat dengannya?"

Aku mengangkat bahu.

---

Aryuu:

"Dia yang terus mengikutiku."

Ibu:

"Ah, begitu..."

---

Meski ibu tidak berkata apa-apa lagi, aku tahu dia sedikit penasaran.

Tapi aku tidak ingin membahasnya lebih jauh.

Setelah menghabiskan makan malam dan berbincang santai sebentar, aku pamit untuk tidur lebih awal.

Namun, aku punya rencana lain.

---

Teleportasi ke Kamar Asobe Hana

Begitu aku memastikan ibu sudah masuk ke kamarnya, aku langsung mengaktifkan teleportasi.

Tanpa perlu tahu lokasi spesifiknya, aku langsung muncul di dalam kamar Asobe Hana.

---

Ruangan itu sangat luas dan mewah, khas kamar seorang bangsawan.

Dindingnya dihiasi ukiran emas, sementara tirai jendelanya terbuat dari kain mahal yang bahkan lebih berharga daripada seluruh rumahku.

Di tengah ruangan, Asobe Hana duduk di tepi tempat tidurnya dengan pakaian tidur tipis dan elegan.

---

Asobe Hana:

"Oh? Kau akhirnya datang, Aryuu~"

Aku menatapnya datar.

---

Aryuu:

"Aku di sini bukan untuk bermain-main, Hana."

Asobe Hana:

"Tentu, tentu~"

---

Dia tersenyum misterius sambil menyilangkan kakinya dengan santai.

Aku langsung ke inti pembicaraan.

---

Aryuu:

"Aku memperingatkanmu. Jangan terlalu blak-blakan tentang identitas kita."

Asobe Hana:

"Hm~? Kenapa? Bukankah lebih seru kalau mereka tahu siapa kita sebenarnya?"

Aryuu:

"Aku tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu."

---

Asobe terdiam sebentar.

Lalu, dia tersenyum lebih lebar.

---

Asobe Hana:

"Baiklah, baiklah~ Aku akan menahan diri. Untuk sementara."

---

Aku menghela napas dan bersiap untuk teleportasi keluar.

Namun...

Saat aku mencoba berpindah...

Tidak terjadi apa-apa.

---

Aku mengernyitkan dahi.

Aku mencoba lagi.

Masih tidak ada efek.

---

Aku melihat sekeliling.

Baru kusadari...

Dinding kamar ini dipenuhi dengan energi aneh yang menghalangi teleportasi.

---

Aryuu:

"...Kau benar-benar menyebalkan."

Asobe Hana:

"Fufu~ Kau kira aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"

---

Dia berdiri dari tempat tidurnya, lalu berjalan mendekat.

Matanya menatapku dengan penuh godaan.

---

Asobe Hana:

"Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita menghabiskan waktu berdua seperti ini..."

Aryuu:

"Jangan mulai."

---

Dia tertawa pelan, lalu menempelkan jarinya di daguku.

---

Asobe Hana:

"Kau tahu? Aku selalu penasaran... Apa kau benar-benar tidak bisa tergoda?"

---

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

---

Aryuu:

"Aku sudah mengalami godaan seperti ini jutaan kali."

---

Asobe mengerucutkan bibirnya.

---

Asobe Hana:

"Ugh... Kau masih sama seperti dulu. Membosankan."

---

Aku mendecak pelan.

---

Aryuu:

"Dan kau masih sama menyebalkannya."

---

Asobe tertawa kecil dan melangkah mundur.

---

Asobe Hana:

"Baiklah, baiklah~ Aku hanya ingin melihat apakah kau masih tetap kuat iman. Dan ternyata jawabannya... iya. Kau tidak berubah sedikit pun."

Aku menatapnya tajam.

---

Aryuu:

"Kau bisa melepaskan anti-teleportasi ini sekarang?"

---

Sebelum dia sempat menjawab...

Tiba-tiba, ada suara dari belakangku.

---

Agnithantos:

"Tuan Aryuu, kau terlalu lama."

---

Aku melirik ke samping.

Agnithantos berdiri di sana dengan tenang, sayap kecilnya mengepak pelan.

---

Asobe terdiam beberapa detik, lalu matanya membulat.

---

Asobe Hana:

"...Jadi ini peliharaan barumu?"

Aku mengangguk santai.

---

Aryuu:

"Ya. Namanya Agnithantos."

---

Asobe memandang Agnithantos dengan ekspresi terkesan.

---

Asobe Hana:

"Lucu sekali. Tapi aku tahu siapa dia sebenarnya."

---

Agnithantos menatap Asobe dengan ekspresi datar.

---

Agnithantos:

"Dan kau juga masih tetap sama. Terlalu cerewet."

---

Asobe tertawa kecil.

---

Asobe Hana:

"Fufu~ Aku jadi semakin yakin... Kehidupan manusia seperti ini pasti akan membosankan untuk kalian. Cepat atau lambat, kalian pasti akan kembali seperti semula."

Aku tidak merespons.

Aku hanya menatapnya dengan ekspresi dingin.

---

Aryuu:

"Kita lihat saja nanti."

---

Agnithantos mengepakkan sayapnya, lalu mengeluarkan energi kecil untuk menghancurkan anti-teleportasi di kamar itu.

Dalam sekejap, aku merasa teleportasiku kembali normal.

---

Aryuu:

"Ayo pergi."

---

Aku dan Agnithantos langsung teleportasi keluar, meninggalkan Asobe Hana yang masih tersenyum misterius.

Sebelum menghilang, aku bisa mendengar suara lembutnya bergema di telingaku.

---

Asobe Hana:

"Selamat malam, Aryuu~"

---

> Malam ini, aku menyadari satu hal.

Kehidupan damai yang aku jalani di dunia ini... semakin sulit untuk dipertahankan.

---

Bersambung ke Bab 19...

RECENTLY UPDATES