Aryuu the unknowable god-Chapter 16: Bab 15 - Sosok Misterius di Akademi---

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 16 - Bab 15 - Sosok Misterius di Akademi---

Siang Hari - Akademi Sihir

Matahari bersinar terik di atas akademi. Pelajaran telah selesai untuk hari ini, dan para murid mulai berkumpul di kantin, perpustakaan, atau taman akademi.

Aku berjalan santai di koridor akademi, tangan di belakang kepala, menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus dari jendela besar di sampingku.

Di bahuku, Agnithantos dalam bentuk kecilnya terlihat menguap malas.

---

Agnithantos: (mengibaskan ekornya)

"Hari yang membosankan. Apa kita bisa pulang sekarang?"

Aryuu: (menghela napas)

"Aku juga mau, tapi kalau aku terlalu sering bolos, nanti Akeno makin curiga."

This 𝓬ontent is taken from freeweɓnovel.cѳm.

---

Aku berjalan menuju taman belakang akademi, tempat yang biasanya sepi dan jauh dari keramaian.

Namun, saat aku tiba di sana...

Aku melihat seseorang sedang duduk sendirian di bawah pohon besar.

---

Sosok Misterius

Dia adalah seorang murid akademi, mengenakan seragam yang sama denganku.

Namun, tidak ada seorang pun di akademi yang benar-benar mengenalnya.

Aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan siapa pun.

Bahkan, hampir tidak ada yang menyadari keberadaannya.

Seakan... dia hanya sebuah bayangan.

---

Aku berhenti berjalan, menatap sosok itu dengan mata menyipit.

Ada sesuatu yang tidak beres.

---

Agnithantos: (telepati, nada serius)

["Tuan... apa kau juga merasakan ini?"]

Aryuu: (mengangguk pelan)

["Tentu saja."]

---

Aku bisa merasakan energi seseorang ini.

Tidak ada satu pun manusia di akademi yang menyadari keberadaannya.

Bahkan guru-guru mungkin menganggapnya biasa saja.

Tapi bagiku?

Energinya... begitu besar.

Bukan hanya besar—itu melampaui bahkan energiku dalam wujud asliku.

Agnithantos di bahuku langsung menegang, ekornya berhenti bergerak.

---

Agnithantos: (telepati, nada tidak percaya)

["Ini... tidak mungkin. Aku bahkan bisa merasakannya. Energinya... lebih besar dari milikmu, tuan."]

Aryuu: (menyipitkan mata)

["Aku juga menyadarinya."]

---

Aku tidak langsung mendekat.

Sebagai seseorang yang sudah terbiasa menghadapi entitas-entitas luar biasa, aku tahu betul bahwa semakin kuat seseorang, semakin baik mereka dalam menyembunyikan keberadaannya.

Dan orang ini?

Dia bukan sekadar kuat.

Dia seperti lubang hitam yang menyerap semua keberadaan di sekitarnya.

---

Aku akhirnya melangkah maju, berjalan mendekatinya dengan santai.

Saat jarakku tinggal beberapa meter...

Sosok itu akhirnya membuka matanya dan menatapku.

---

Percakapan Pertama

???: (dengan suara datar)

"Kau..."

Aryuu: (menaikkan alis)

"Hmm?"

---

Tatapan matanya dalam dan kosong, seperti tidak memancarkan emosi sama sekali.

Dia menatapku tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai sesuatu dariku.

Aku memasang ekspresi santai, tapi tetap waspada.

---

Aryuu: (menyilangkan tangan, tersenyum kecil)

"Kau tahu, aku sudah lama di akademi ini, tapi aku hampir tidak pernah melihatmu."

???: (masih tanpa ekspresi)

"Itu karena aku tidak perlu terlihat."

Aryuu: (menyipitkan mata)

"Oh? Kedengarannya seperti sesuatu yang dikatakan oleh seseorang yang ingin tetap tersembunyi."

---

Dia tidak menjawab, hanya menatapku.

Saat itu, aku menyadari sesuatu.

Dia tidak memiliki tekanan energi.

Tidak ada getaran sihir, tidak ada tekanan eksistensial, tidak ada fluktuasi mana.

Seakan-akan... dia hanyalah manusia biasa.

Namun, aku tahu itu tidak mungkin.

---

Agnithantos: (telepati, masih waspada)

["Tuan... orang ini bukan manusia biasa."]

Aryuu: (telepati, nada santai tapi tajam)

["Aku tahu. Tapi dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang."]

---

Aku akhirnya duduk di atas rumput, tepat di depannya.

Sosok itu hanya menatapku, tidak bergerak.

Setelah beberapa detik hening, aku memutuskan untuk berbicara lagi.

---

Aryuu: (menghela napas)

"Kau tidak banyak bicara, ya?"

???: (menutup matanya lagi)

"Aku hanya berbicara jika perlu."

Aryuu: (tertawa kecil)

"Begitu? Aku juga sebenarnya malas berbicara kalau tidak perlu."

---

Anehnya, dia tidak tampak terkejut atau peduli.

Sebaliknya, dia hanya diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka mulutnya lagi.

---

???: (dengan nada tenang)

"Kau... bukan manusia biasa, bukan?"

Aku mengerjap sebentar, lalu tertawa kecil.

Aryuu: (mengangkat bahu)

"Aku? Aku cuma murid biasa di akademi ini."

???: (menatapku dalam-dalam)

"Kau bisa merasakan keberadaanku... itu berarti kau bukan orang biasa."

---

Aku berpura-pura menggaruk kepala, memasang ekspresi bingung.

Aryuu: (tertawa canggung)

"Ehehe... aku hanya sedikit lebih peka dari orang lain, mungkin?"

---

Namun, dia tidak tampak percaya dengan jawabanku.

Sebaliknya, dia hanya menatapku dengan tajam, lalu berkata sesuatu yang membuatku sedikit terkejut.

---

???: (dengan suara rendah)

"Aryuu... kau dan aku... sama."

Aku mengerjapkan mata, lalu menatapnya dengan ekspresi bingung pura-pura.

Aryuu: (tertawa kecil)

"Hah? Aku nggak ngerti maksudmu."

---

Namun, sebelum aku bisa bertanya lebih lanjut, dia tiba-tiba berdiri dan mulai berjalan pergi.

Aku hampir saja menahannya, tapi memutuskan untuk tidak melakukannya.

---

Saat dia melewati aku, dia berhenti sejenak dan berbicara tanpa menoleh.

???: (dengan suara datar)

"Kita akan bertemu lagi... Aryuu."

---

Aku terdiam, menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Di bahuku, Agnithantos masih menegang, ekspresinya tidak berubah.

---

Agnithantos: (telepati, nada serius)

["Tuan... aku tidak suka ini. Orang itu bukan entitas biasa."]

Aryuu: (menghela napas, tersenyum kecil)

["Aku tahu... dan aku penasaran siapa dia sebenarnya."]

---

Aku akhirnya berdiri, menatap langit siang yang cerah.

Pertemuan ini... bukan kebetulan.

Dan aku yakin, orang itu akan menjadi seseorang yang penting di masa depan.

Namun, siapa dia sebenarnya?

Hanya waktu yang bisa menjawab.

Di Dalam Kelas - Percakapan Rahasia

Aku duduk di bangkuku, memperhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas.

Namun, pikiranku tidak berada di sana.

Sejak pertemuanku dengan murid misterius itu di taman, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

---

Aku menyilangkan tangan dan menyandarkan kepalaku ke kursi, sementara pikiranku sibuk menganalisis kata-katanya.

> "Kau dan aku... sama."

Apa maksudnya?

Aku tahu betul bahwa aku dan dia berbeda.

Dia jauh lebih kuat dariku, bahkan dalam wujud asliku.

Bukan hanya aku yang menyadarinya, tapi Agnithantos juga merasakan hal yang sama.

---

Aryuu: (telepati, nada serius)

["Hei, Agnithantos... kau sudah mendapatkan sesuatu dari interaksimu dengannya?"]

Agnithantos: (telepati, terdengar frustrasi)

["Hah... tidak. Aku mencoba menganalisis auranya, tapi dia seperti lubang hitam. Tidak ada informasi yang bisa kudapatkan."]

Aryuu: (menghela napas, masih dalam telepati)

["Itu aneh... dia seharusnya punya sedikit kebocoran energi, tapi dia benar-benar kosong."]

Agnithantos: (telepati, sedikit geram)

["Dan lebih aneh lagi... aku merasa aku mengenalnya."]

Aku mengernyit, menatap meja di depanku dengan mata menyipit.

> "Aku dan kau... sama."

Tidak. Itu tidak masuk akal.

Jika kami benar-benar sama, kenapa aku bisa merasakan betapa kuatnya dia, tapi dia tidak merasakan hal yang sama dariku?

Seolah-olah, dia jauh di atas levelku.

---

Aku berpikir keras, mencoba menghubungkan petunjuk yang kudapatkan sejauh ini.

Namun, aku tidak menemukan jawaban yang masuk akal.

Terlalu banyak kemungkinan, dan aku benci sesuatu yang tidak bisa kupahami.

---

Sore Hari - Mencari Barang Bekas

Setelah kelas selesai, aku tidak langsung pulang ke rumah.

Seperti biasa, aku pergi ke bagian belakang kota untuk mencari barang bekas.

Agnithantos mengikutiku dalam wujud kecilnya, bertengger di bahuku seperti biasa.

Aku memeriksa beberapa tumpukan barang rongsokan, mencari sesuatu yang mungkin berguna.

---

Agnithantos: (mengeluh)

"Kenapa kau masih melakukan ini? Bukankah kau sudah bisa hidup nyaman sekarang?"

Aryuu: (tersenyum kecil, masih mencari)

"Karena ini menyenangkan. Lagipula, kalau aku langsung pulang, ibuku pasti akan memaksaku makan lebih banyak."

Agnithantos: (tertawa kecil)

"Benar juga. Kau sudah makan seperti manusia biasa, tapi ibumu memperlakukanmu seperti kau harus menghabiskan satu meja penuh makanan."

Aku tertawa kecil, mengangkat sebuah benda yang terlihat seperti peralatan sihir kuno.

Namun, saat aku hendak menyimpannya...

Aku merinding.

Ada seseorang yang mengamatiku.

---

Aku langsung menggunakan kekuatanku untuk mengubah sedikit penampilanku.

Aku mengaburkan keberadaanku, membuat diriku terlihat seperti manusia biasa yang tidak menarik perhatian.

Namun, rasa tidak nyaman itu tidak hilang.

Aku berpura-pura tetap sibuk, tetapi mataku dengan cepat menyapu sekeliling.

Siapa pun yang sedang memperhatikanku... dia tidak normal.

---

Lalu, aku melihatnya.

Seseorang berdiri di ujung gang, menatap lurus ke arahku.

Aku menyipitkan mata.

> Itu dia. Murid misterius dari taman.

---

Aku menghentikan tanganku, berdiri perlahan, dan menatapnya balik.

Agnithantos di bahuku langsung siaga, ekornya bergerak perlahan seperti ular yang siap menyerang.

Orang itu masih diam di sana, tidak mengatakan apa pun, hanya menatapku.

Namun, aku bisa merasakan sesuatu dari tatapannya.

---

Aryuu: (telepati, nada rendah)

["Agnithantos... ini tidak baik. Kenapa dia ada di sini?"]

Agnithantos: (telepati, sedikit tegang)

["Aku tidak tahu... tapi ini terlalu kebetulan untuk dianggap biasa."]

---

Aku memutuskan untuk berbicara lebih dulu.

Aku melangkah maju, menyilangkan tangan di dada.

---

Aryuu: (dengan nada santai)

"Kau lagi? Aku mulai curiga kalau kau sedang menguntitku."

Murid itu: (tidak bereaksi)

"...Aku hanya kebetulan lewat."

Aku tertawa kecil.

---

Aryuu: (menyeringai)

"Oh? Dan kebetulan sekali kau menemukan aku di sini, di tempat yang bahkan tidak banyak orang tahu?"

---

Dia tetap diam.

Namun, setelah beberapa saat, dia akhirnya berbicara lagi.

---

Murid itu: (nada datar)

"Aryuu... kau masih belum tahu siapa aku, bukan?"

Aku menghentikan senyumku, menatapnya lebih dalam.

Aku tidak suka permainan seperti ini.

Aku lebih suka musuh yang langsung menyerang daripada yang berbicara dengan teka-teki.

---

Aryuu: (dengan nada rendah)

"Kalau aku tahu, aku tidak akan repot-repot bertanya."

Dia menatapku sejenak, lalu akhirnya berkata sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang.

---

Murid itu: (dengan suara rendah)

"Aku... Lucius Varvatos."

---

Aku membelalakkan mata.

Agnithantos langsung menegang di bahuku, matanya melebar.

Nama itu...

Lucius.

---

Aku sudah pernah bertemu dengan makhluk yang menggunakan nama itu sebelumnya.

Tapi kali ini... rasanya berbeda.

Yang sebelumnya... hanya parasit.

Tapi orang ini?

Aku bisa merasakan bahwa dia bukan hanya lebih kuat dari aku.

Dia benar-benar berada di tingkatan yang berbeda.

---

Agnithantos: (telepati, nada tegang)

["Tuan... kita dalam bahaya. Orang ini bukan Lucius yang sebelumnya."]

Aku mengencangkan rahangku, menatapnya tajam.

---

Aryuu: (dengan suara rendah)

"Lucius... Varvatos, huh?"

Lucius: (mengangguk pelan)

"Kau mungkin tidak percaya, tapi... aku lebih mengenalmu daripada yang kau kira."

Aku tidak suka ini.

Aku tidak suka sesuatu yang tidak bisa kupahami.

---

Aku menarik napas dalam, lalu memasang senyum santai.

Jika dia ingin bermain permainan ini... baiklah.

Aku juga bisa bermain.

---

Aryuu: (menyeringai)

"Kalau begitu... ayo kita lihat siapa yang lebih mengenal siapa."

Lucius hanya tersenyum kecil, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Aku tetap diam, menatap punggungnya yang menjauh.

---

Agnithantos: (telepati, suara rendah)

["Tuan... ini tidak akan berakhir baik."]

Aryuu: (tersenyum tipis, suara dingin)

["Aku tahu... dan aku tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan."]

---

Bersambung ke Bab 16...

RECENTLY UPDATES
Read Cultivation: Being Immortal
ActionAdventureFantasyMystery
Read My Longevity Simulation
ActionFantasyXianxiaPsychological
Read The Return of the Namgoong Clan's Granddaughter
ActionFantasyHistoricalMartial Arts
Read The Heroine Stole My Regression
ActionFantasyHaremRomance