Aryuu the unknowable god-Chapter 17: Bab 16 - Lucius, Si Murid Misterius & Tes Adu Familiar---

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 17 - Bab 16 - Lucius, Si Murid Misterius & Tes Adu Familiar---

Pagi Hari - Pertemuan yang Tak Terduga

Keesokan paginya, aku tidak bisa berhenti memikirkan pertemuanku dengan Lucius.

Dia bukan murid biasa.

Bahkan, aku merasa dia bukan makhluk biasa.

Dia menyebut namanya Lucius Varvatos, tapi siapa sebenarnya dia?

---

Saat aku memasuki akademi, aku melihat sekeliling.

Murid-murid lain sibuk dengan aktivitas mereka, namun aku mencari seseorang secara spesifik.

Dan akhirnya... aku menemukannya.

---

Lucius bersandar di tembok dekat lorong akademi.

Matanya setengah tertutup, ekspresinya seperti seseorang yang tidak peduli dengan dunia.

Dia bahkan terlihat mengantuk.

> Serius? Aku penasaran semalaman, tapi dia malah terlihat seperti ini?

Aku melangkah mendekatinya, lalu bersandar di tembok yang sama.

---

Aryuu: (melirik ke arahnya, nada santai)

"Kau kelihatan malas sekali. Kau yakin tidak ketiduran di sini?"

Lucius: (menghela napas, dengan suara malas)

"Aku ingin tidur, tapi sayangnya ada seseorang yang terus memperhatikanku sejak tadi pagi."

Aku menyipitkan mata.

Jadi dia tahu aku mencarinya?

---

Aryuu: (tertawa kecil)

"Yah, kalau kau tidak ingin diperhatikan, jangan membuat dirimu mencurigakan."

Lucius: (membuka satu mata, menatapku sebentar, lalu menutupnya lagi)

"Yang mencurigakan itu kau, Aryuu. Seorang murid biasa tidak akan repot-repot mengubah keberadaannya setiap saat."

---

Aku menegang sesaat.

Jadi dia bisa menyadari manipulasi keberadaanku?

Menarik.

Aku menyilangkan tangan, berpura-pura santai.

---

Aryuu: (mengangkat bahu)

"Siapa tahu? Mungkin aku hanya ingin bersenang-senang."

Lucius: (tersenyum kecil, masih malas)

"Atau mungkin... kau hanya mencoba menyembunyikan sesuatu."

---

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menatapnya, mencoba membaca lebih dalam.

Namun, seperti kemarin... tidak ada yang bisa kudapatkan darinya.

Dia seperti lubang hitam.

Tidak ada energi, tidak ada aura, tidak ada petunjuk.

---

Sebelum aku bisa berbicara lagi, bel berbunyi.

Lucius menghela napas panjang, lalu mendorong tubuhnya dari tembok.

---

Lucius: (menggerakkan bahu, meregangkan tubuh)

"Baiklah, waktunya kelas. Semoga harimu menyenangkan, Aryuu."

Read 𝓁at𝙚st chapters at ƒrēenovelkiss.com Only.

Aku menatapnya saat dia pergi, lalu tersenyum tipis.

---

Agnithantos: (telepati, suara rendah)

["Tuan... aku tidak suka ini. Orang ini... terlalu aneh."]

Aryuu: (telepati, tersenyum kecil)

["Aneh? Aku justru semakin tertarik."]

---

Di Dalam Kelas - Pengumuman Tes Adu Familiar

Aku kembali ke kelasku dan duduk seperti biasa.

Namun, kali ini, guru kami membuat pengumuman yang cukup menarik.

---

Guru: (suara tegas)

"Perhatian semua! Besok kita akan mengadakan Tes Adu Familiar."

Kelas langsung menjadi riuh.

Banyak murid yang terlihat bersemangat, sementara beberapa yang lain tampak gugup.

Aku hanya tersenyum kecil.

> Adu Familiar, huh? Ini bisa jadi menyenangkan.

---

Akeno: (menoleh ke arahku, tersenyum)

"Aryuu, kau pasti akan ikut, kan?"

Aku mengangguk santai.

---

Aryuu: (tertawa kecil)

"Tentu saja. Akan aneh kalau aku tidak ikut."

Agnithantos yang bertengger di bahuku hanya mendengus kecil.

---

Agnithantos: (menggunakan telepati, suara malas)

["Aku tidak suka ini. Aku harus bertarung di depan banyak orang?"]

Aryuu: (telepati, menyeringai)

["Kau kan naga perkasa, kau tidak mungkin takut, kan?"]

Agnithantos: (mendesah)

["Aku lebih takut pada ibumu yang akan meledekku jika aku kalah."]

Aku tertawa kecil.

---

Hari Tes Adu Familiar

Lapangan utama akademi telah disiapkan untuk pertarungan.

Murid-murid berkumpul, beberapa berbicara dengan familiar mereka.

Aku berjalan menuju arena dengan Agnithantos di bahuku.

Akeno berjalan di sampingku, terlihat bersemangat.

---

Akeno: (tersenyum)

"Aku penasaran, seberapa kuat Agnithantos di depan umum?"

Agnithantos mendecakkan lidahnya.

---

Agnithantos: (telepati, mendengus)

["Ugh... aku benar-benar tidak suka ini."]

Aku tertawa kecil.

Namun, saat aku melihat ke arena, mataku menangkap sosok yang tidak kusangka-sangka.

Lucius Varvatos juga ada di sana.

---

Aku mengerutkan kening.

Dia bukan dari kelasku, jadi kenapa dia ada di sini?

---

Aryuu: (mendekatinya, nada santai)

"Kau juga ikut? Bukankah ini merepotkan untuk seseorang sepertimu?"

Lucius: (menghela napas, malas)

"Aku dipaksa ikut oleh guruku. Kalau aku tidak datang, nilai praktikku akan hancur."

Aku menatapnya lebih dalam.

Dia benar-benar terlihat tidak tertarik.

Namun, ada sesuatu yang menggangguku.

> Siapa familiar miliknya?

---

Agnithantos berbisik dalam telepati.

Agnithantos: (telepati, suara rendah)

["Tuan... aku tidak bisa merasakan familiar miliknya."]

Aku menyipitkan mata.

Itu tidak mungkin.

Jika seseorang memiliki familiar, seharusnya ada jejak energi.

Tapi Lucius? Tidak ada apa-apa.

---

Sebelum aku bisa bertanya lebih jauh, guru mulai memanggil peserta.

Aku tersenyum kecil, melangkah maju.

> Baiklah... ayo kita lihat siapa yang akan menjadi lawanku.

Pertandingan Dimulai - Suasana yang Memanas

Hari ini, lapangan utama akademi dipenuhi oleh siswa-siswa yang berkumpul di sekitar arena.

Sorak-sorai dari para murid menggema di udara, sementara para peserta bersiap dengan familiar mereka.

Aku berdiri di samping arena, menunggu giliran, sementara Agnithantos bertengger di bahuku.

---

Agnithantos: (telepati, mendengus)

["Kenapa aku harus bertarung di depan banyak orang begini...?"]

Aryuu: (telepati, menyeringai kecil)

["Anggap saja latihan kecil. Lagipula, kau harus belajar mengendalikan eksistensimu, kan?"]

Agnithantos: (mendengus malas)

["Aku bisa mengendalikannya dengan sempurna, tapi kalau aku terlalu lemah, aku bisa kalah, dan kalau aku terlalu kuat, aku bisa membuat mereka semua gemetar ketakutan."]

Aryuu: (tertawa kecil)

["Itu artinya kau harus mencari titik tengahnya."]

Agnithantos hanya mendesah pasrah.

---

Sementara itu, di arena, pertarungan pertama dimulai.

---

Pertarungan Pertama - Reinhardt vs. Claire

Dua murid maju ke tengah arena.

Reinhardt, seorang pemuda bertubuh besar dengan rambut pirang pendek, membawa familiar berbentuk serigala hitam dengan mata merah menyala.

Di sisi lain, Claire, seorang gadis dengan rambut hijau, membawa familiar berbentuk burung elang emas besar.

---

Guru: (dengan suara lantang)

"Pertarungan dimulai dalam 3... 2... 1... MULAI!"

Begitu aba-aba diberikan, serigala hitam Reinhardt langsung menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa!

Burung elang Claire mengepakkan sayapnya dan terbang ke udara, menghindari serangan pertama.

---

Reinhardt: (berteriak)

"Shadow Fang!"

Serigala hitamnya melompat dan mengeluarkan gelombang energi berbentuk taring hitam yang melesat ke arah elang emas.

Claire menyipitkan mata dan mengangkat tangannya.

---

Claire: (tegas)

"Aerial Shield!"

Elang emasnya menyebarkan energi cahaya, menciptakan perisai udara yang menahan serangan Shadow Fang.

Serangan itu meledak di udara, menciptakan riak energi yang membuat beberapa siswa terkejut.

---

Adu serangan terus berlanjut selama beberapa menit.

Reinhardt mengandalkan kecepatan dan serangan brutal, sementara Claire menggunakan strategi bertahan dan menyerang dari udara.

Namun, akhirnya...

Dengan satu serangan tajam dari cakar elang emas, serigala hitam Reinhardt terpental keluar arena.

---

Guru: (mengangkat tangan)

"Pemenang: Claire!"

Siswa-siswa bersorak, sementara Reinhardt mendecakkan lidahnya dan membantu serigalanya berdiri.

Aku tersenyum tipis.

> Tidak buruk. Tapi aku ingin melihat yang lebih menarik.

---

Pertarungan Kedua - Lucas vs. Emilia

Pertarungan kedua mempertemukan Lucas, seorang murid berbadan ramping dengan pedang di pinggangnya, melawan Emilia, seorang gadis dengan rambut ungu panjang.

Lucas memiliki familiar berbentuk ular raksasa berwarna perak, sementara Emilia memiliki kelinci putih kecil dengan mata biru.

Beberapa murid tertawa kecil melihat familiar Emilia.

Namun, aku tidak tertawa.

Aku bisa merasakan sesuatu yang aneh dari kelinci itu.

---

Guru: "Mulai!"

Lucas langsung mengarahkan pedangnya ke depan.

Ular raksasanya melesat maju, membuka mulut lebar-lebar, siap menerkam kelinci Emilia.

Namun, yang terjadi berikutnya... mengejutkan semua orang.

---

Emilia: (suara tenang)

"Phantom Mirage."

Sekejap mata, kelinci putihnya menghilang... lalu muncul di belakang ular raksasa Lucas.

Dalam satu gerakan cepat, kelinci itu mencakar punggung ular dengan energi biru misterius.

Ular raksasa menggeliat kesakitan dan langsung roboh di tanah.

---

Lucas membelalakkan mata.

Sementara itu, Emilia hanya tersenyum kecil, lalu menepuk kepala kelincinya.

Guru: "Pemenang: Emilia!"

Sorak-sorai memenuhi arena, sementara aku menyipitkan mata.

> Kelinci itu bukan familiar biasa... Aku harus ingat ini.

---

Pertarungan Aryuu - Giliran Agnithantos

Saat pertarungan berikutnya diumumkan, namaku dipanggil.

Aku melangkah ke tengah arena, sementara Agnithantos melayang di sampingku.

---

Lawanku adalah seorang murid bernama Vance.

Dia memiliki familiar berbentuk harimau besar dengan garis-garis petir di tubuhnya.

Aku memandang Vance dan familarnya dengan senyum tipis.

---

Guru: (mengangkat tangan)

"Pertarungan dimulai dalam 3... 2... 1... MULAI!"

Vance: (berteriak)

"Thunder Strike!"

Harimau petirnya meloncat ke udara dan mengeluarkan bola listrik besar ke arah Agnithantos.

Namun...

---

Agnithantos tidak bergerak.

Dia hanya menatap bola listrik itu.

Dan dalam sekejap... bola listrik itu menghilang begitu saja.

Seakan ditelan oleh kehampaan.

---

Seluruh arena terdiam.

Vance mengernyit, lalu menerjang dengan serangan berikutnya.

---

Vance: (berteriak)

"Thunder Claw!"

Harimau petirnya melompat ke arah Agnithantos, cakar listriknya siap mencabik-cabik.

Agnithantos akhirnya bergerak.

Dengan sedikit mengibaskan ekornya, dia menghancurkan serangan itu dalam satu gerakan.

---

Namun, saat itu terjadi...

Aku bisa merasakan sesuatu.

Agnithantos tidak sepenuhnya menekan kekuatannya.

Dia menunjukkan setitik eksistensinya.

---

Dan efeknya... sangat besar.

Seluruh arena terasa lebih berat.

Beberapa murid membeku di tempat, seakan tubuh mereka terhimpit oleh sesuatu yang tak terlihat.

Harimau petir Vance... langsung roboh di tanah, tubuhnya bergetar ketakutan.

Vance terdiam, wajahnya pucat.

---

Aku segera berbicara dalam telepati.

Aryuu: (telepati, nada tajam)

["Agnithantos, kau terlalu berlebihan."]

Agnithantos: (telepati, suara santai)

["Aku hanya memberikan sedikit tekanan. Bukannya ini lebih menarik?"]

Aku mendesah, lalu menoleh ke guru.

---

Guru: (terdiam sejenak, lalu mengangkat tangan)

"Pemenang: Aryuu dan Agnithantos!"

---

Sorak-sorai memenuhi arena, namun beberapa murid masih terlihat terpana oleh kejadian barusan.

Aku hanya tersenyum kecil.

Tes Adu Familiar ini baru saja menjadi lebih menarik.

Setelah pertarunganku dan Agnithantos berakhir, suasana di arena mulai tenang kembali.

Namun, ketika nama selanjutnya dipanggil...

---

Guru: (bersuara lantang)

"Lucius Varvatos, maju ke arena!"

Ruangan yang tadinya dipenuhi suara riuh mendadak sunyi.

Semua siswa menoleh ke arah Lucius yang duduk santai di sudut tribun.

Dia terlihat sangat malas, seperti tidak peduli dengan pertandingan ini.

Namun, tanpa berkata apa pun, dia bangkit perlahan dan berjalan ke tengah arena.

---

Guru: (mengangkat alis)

"Lucius... mana familiar-mu?"

Lucius menatap guru itu dengan ekspresi malas.

Lalu, dia hanya mengangkat satu jari.

Dalam sekejap, udara di arena menjadi berat.

Tekanan yang muncul berbeda dari Agnithantos.

Aku langsung menyipitkan mata.

> Ini bukan tekanan biasa...

---

Sebuah celah hitam muncul di udara.

Dan dari dalam celah itu... keluarlah sesuatu.

Familiar Lucius.

---

Sosoknya mengerikan.

Berbentuk makhluk berkulit hitam pekat, bertubuh besar dengan empat tangan dan mata merah menyala di seluruh tubuhnya.

Energinya berputar liar, seakan menolak keberadaan dunia ini.

Saat dia berdiri di arena, seluruh murid yang ada di sekitar merasakan tekanan yang membuat tubuh mereka sulit bergerak.

Beberapa bahkan langsung mundur ketakutan.

Aku merasakan energi familiar itu... dan langsung menyadari sesuatu.

> Ini bukan sekadar familiar biasa... dia seperti Lucius dalam bentuk lain.

---

Pertarungan Emilia vs. Claire - Langit vs. Kecepatan

Guru: (sedikit gemetar, lalu berdeham)

"Baiklah... pertandingan dimulai dalam 3... 2... 1..."

"MULAI!"

---

Emilia dan Claire maju ke arena.

Keduanya terlihat tenang, namun mata mereka penuh dengan tekad.

---

Emilia: (tersenyum tipis)

"Aku tidak akan menahan diri."

Claire: (menyeringai)

"Aku juga."

---

Begitu aba-aba diberikan, elang emas Claire langsung melesat ke langit dengan kecepatan luar biasa.

Di sisi lain, kelinci putih Emilia tetap diam di tempat.

---

Claire: (dengan percaya diri)

"Sky Flash!"

Elang emasnya mengeluarkan puluhan bulu emas yang melesat cepat ke arah kelinci Emilia.

Namun, seketika itu juga...

---

Emilia: (suara tenang)

"Void Step."

Kelinci putihnya menghilang... lalu muncul di belakang elang emas dalam sekejap.

Matanya yang berwarna biru bersinar.

---

Claire: (kaget)

"Apa?!"

Emilia tidak membuang waktu.

---

Emilia: "Phantom Slash!"

Kelinci putihnya menyilangkan cakarnya, lalu menyerang elang emas dengan gelombang energi biru yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Elang emas berusaha menghindar, namun tetap terkena sedikit serangan dan terdorong ke bawah.

Claire mengertakkan gigi.

> Dia tidak bisa mengabaikan kelinci ini.

---

Pertarungan berlangsung cepat.

Elang emas terus menyerang dari udara dengan kecepatan tinggi.

Namun, kelinci Emilia terus menghilang dan muncul di berbagai tempat, membuatnya sulit diserang.

---

Pada akhirnya...

Emilia berhasil menemukan celah, dan dengan satu serangan Phantom Mirage, dia menjatuhkan elang emas ke tanah.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan Emilia.

---

Pertarungan Akhir - Agnithantos vs. Familiar Lucius

Aku berdiri di tengah arena, sementara Agnithantos melayang di sampingku.

Di sisi lain, Lucius berdiri dengan ekspresi malas, sementara familiar hitamnya memandang Agnithantos dengan mata merah yang berkedip-kedip.

> Pertarungan ini terasa berbeda...

> Bukan sekadar tes biasa.

---

Guru: (berdeham)

"Baiklah... pertandingan dimulai dalam 3... 2... 1..."

"MULAI!"

---

Agnithantos dan familiar Lucius tidak langsung menyerang.

Sebaliknya... mereka hanya menatap satu sama lain.

Dan saat itu juga...

Tekanan luar biasa memenuhi arena.

---

Agnithantos mulai mengeluarkan sedikit eksistensinya.

> Hanya setitik...

Namun, efeknya langsung terasa.

Beberapa siswa yang terlalu dekat jatuh berlutut karena tekanan yang menghancurkan.

Namun...

---

Familiar Lucius tidak terpengaruh.

Sebaliknya...

Dia juga mengeluarkan setitik eksistensinya sendiri.

Energi mereka saling bertabrakan, menciptakan bentrokan tekanan yang sangat mengerikan.

Udara di sekeliling bergetar.

Tanah di bawah mereka mulai retak.

Dan semua yang ada di sekitar... merasakan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.

---

Agnithantos mengerucutkan mata.

Dalam sekejap, aura perang yang tersembunyi dalam dirinya mulai keluar sedikit.

Dia ingin bertarung dengan serius.

Namun...

---

Aryuu: (telepati, nada tegas)

["Jangan terbawa suasana."]

Agnithantos terdiam sejenak.

Namun, dia masih menatap familiar Lucius dengan penuh amarah.

---

Agnithantos: (telepati)

["Makhluk ini... menyebalkan."]

Familiar Lucius: (suara dalam dan menyeramkan)

["Kau juga menyebalkan."]

Agnithantos: (menyeringai)

["Aku ingin merobekmu menjadi potongan kecil."]

Familiar Lucius: (balas menyeringai)

["Coba saja jika bisa."]

Bentrokan energi mereka semakin kuat.

---

Aku tahu jika ini diteruskan, masalah besar akan terjadi.

Maka, tanpa berpikir panjang...

Aku menarik ekor Agnithantos dengan cepat dan menariknya mundur.

Di saat yang sama, Lucius juga melakukan hal yang sama dengan caranya sendiri.

Mereka berdua akhirnya berhenti... namun tetap saling menatap penuh kebencian.

---

Aku memandang familiar Lucius.

Aryuu: "Siapa namamu?"

Familiar itu menatapku diam-diam.

Lalu... dengan suara dingin, dia menjawab...

*"Namaku..."

---

Bersambung ke Bab 17...