Aryuu the unknowable god-Chapter 15: Bab 14 - Sorotan Sang Legenda & Bocah Malas yang Mencurigakan---
Chapter 15 - Bab 14 - Sorotan Sang Legenda & Bocah Malas yang Mencurigakan---
Beberapa jam setelah pemanggilan Familiar
Di mana-mana, nama Aryuu dan Agnithantos menjadi pembicaraan utama.
Bukan hanya di akademi, tapi di seluruh kerajaan, bahkan sampai ke telinga para bangsawan dan petinggi kerajaan.
Bagaimana tidak?
Seorang anak yang selama ini dianggap sebagai murid dengan bakat terlemah... tiba-tiba memanggil Familiar yang bahkan para dewa anggap sebagai mitos!?
Itu seperti melihat seorang petani biasa tiba-tiba memiliki senjata peninggalan para dewa!
---
Akademi Sihir - Ruang Kepala Akademi
Di dalam ruangan yang dipenuhi rak buku dan artefak sihir kuno, beberapa orang penting sedang berkumpul.
Kepala Akademi: Seorang pria tua berjanggut panjang, penuh wibawa.
Dua guru senior yang sudah lama mengajar di akademi.
Seorang utusan dari kerajaan, mengenakan jubah emas dengan lambang kerajaan di dadanya.
Mereka semua terlihat serius.
Utusan Kerajaan: (menghela napas, lalu berbicara tegas)
"Apakah ini benar? Seorang anak yang selama ini tidak diperhitungkan... berhasil memanggil Agnithantos?"
Kepala Akademi: (mengangguk, raut wajahnya penuh beban)
"Tidak diragukan lagi. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Guru 1: (berbisik)
"Ini... bisa menjadi masalah besar..."
Guru 2: (menelan ludah)
"Kalau berita ini menyebar lebih jauh... bukan hanya kerajaan kita, tapi seluruh dunia akan terkejut!"
Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
---
Di Akademi - Setelah Kelas Selesai
Aku berjalan santai di koridor akademi.
Sejujurnya, aku ingin pulang ke asrama dan tidur.
Tapi...
Tatapan semua orang tertuju padaku.
Bisikan-bisikan memenuhi ruangan.
Murid 1: (berbisik)
"Itu dia... anak yang memanggil Agnithantos..."
Murid 2: (terlihat panik)
"Apakah dia seorang bangsawan yang menyamar!? Tidak mungkin orang biasa bisa melakukan itu!"
Murid 3: (mendekat ke temannya, berbisik)
"Kau pikir dia dewa yang sedang menyamar?"
Aku hanya menghela napas dan menggaruk kepala.
Aryuu: (dalam hati)
'Kenapa jadi begini...?'
Dulu, aku tidak dianggap.
Sekarang, aku jadi sorotan.
Agnithantos yang mengecil menjadi wujud naga kecil, berjalan di sampingku.
Dia tetap memiliki auranya yang menekan, meski ukurannya kecil.
Bahkan dalam bentuk ini, murid-murid lain masih terlihat enggan mendekat.
---
Kantin Akademi - Waktu Makan Siang
Aku duduk di sudut kantin, menikmati makanan yang sangat sederhana: roti dan sup kentang.
Kenapa?
Karena aku malas memesan makanan mahal.
Tapi itu malah membuat semua orang semakin bingung.
Murid 1: (terkejut)
"Dia hanya makan roti dan sup...?"
Murid 2: (menggigit bibir)
"Kalau dia benar-benar sehebat itu, seharusnya dia bisa makan makanan bangsawan!"
Murid 3: (berbisik)
"Mungkinkah... dia sengaja menyembunyikan identitasnya!?"
Aku menghela napas lagi.
Aryuu: (berbicara santai, malas)
"Kalian ini ribut banget... aku cuma mau makan dengan tenang..."
Murid 1: (terkejut)
"DIA BISA BERBICARA SEPERTI ORANG BIASA!?"
Murid 2: (gigit jari)
"T-Tapi... dia bisa memanggil Agnithantos..."
Agnithantos yang duduk di sebelahku hanya mendengus malas.
Agnithantos: (telepati)
["Aku lebih suka tempat yang tenang... manusia-manusia ini terlalu berisik."]
Aku mengangguk setuju.
Aryuu: (telepati, membalas)
["Mereka terlalu berlebihan. Seperti tidak pernah lihat anak tampan makan roti."]
Agnithantos: (terdiam, lalu tertawa kecil)
["Tampan dari sisi mana?"]
Aku mencubit ekornya sebagai balasan.
Dia hanya mendesis pelan, menahan tawa.
---
Di Seluruh Kerajaan
Sementara itu, di tempat lain...
Para petinggi kerajaan sedang membicarakan kejadian ini.
Raja: Seorang pria berusia 50-an, penuh wibawa.
Putri Kerajaan: Gadis berambut perak, penasaran dengan kejadian ini.
Jenderal Kerajaan: Pria gagah, skeptis dengan berita ini.
Raja: (membaca laporan, menghela napas)
"...Jadi, akademi sihir telah mengonfirmasi bahwa seorang murid bernama Aryuu telah memanggil Agnithantos?"
Jenderal: (berbicara tegas)
"Bagaimana bisa? Bukankah Agnithantos hanya mitos? Bahkan dalam catatan sejarah para dewa, tidak ada satu pun yang pernah berhasil melihatnya!"
Putri: (menopang dagu, berpikir)
"Menarik... aku ingin bertemu dengan anak ini."
Raja: (memandang putrinya)
"...Apa maksudmu?"
Putri: (tersenyum tipis)
"Kalau benar dia bisa memanggil Agnithantos... bukankah dia pria yang luar biasa?"
Jenderal: (menatap tajam)
"...Jangan bilang kau ingin menjadikannya pasangan?"
Putri: (tertawa kecil)
"Siapa tahu?"
Raja: (tertawa)
"Menarik! Kirim utusan ke akademi. Aku ingin melihat bocah ini dengan mataku sendiri."
---
Kembali ke Aryuu - Sore Hari
Aku berjalan santai di koridor akademi.
Agnithantos melompat ke bahuku, meringkuk seperti kucing besar.
Aku benar-benar tidak menyangka akan mendapat perhatian sebanyak ini.
Aryuu: (mendecak lidah, bergumam)
"Seharusnya aku tidak terlalu mencolok..."
Tapi ya sudah lah.
Tinggal lihat saja apa lagi kekacauan yang akan terjadi selanjutnya.
---
Sore Hari - Sepulang Akademi
Setelah seharian menjadi bahan pembicaraan, aku berjalan menuju rumah.
Di sepanjang jalan, tatapan orang-orang masih tertuju padaku.
Anak-anak kecil yang sedang bermain terhenti dan memandangku dengan mata berbinar-binar.
Orang-orang dewasa berbisik-bisik sambil melirik ke arahku.
Bahkan beberapa petualang yang lewat juga menatapku dengan rasa ingin tahu.
---
Penjual Buah: (berbisik ke rekannya)
"Itu dia... bocah yang memanggil Agnithantos!"
Updat𝓮d fr𝙤m ƒгeeweɓn૦vel.com.
Petualang 1: (berkata pelan)
"Aku dengar dia bukan anak bangsawan... tapi bagaimana dia bisa melakukan itu!?"
Petualang 2: (tertawa kecil)
"Jangan-jangan dia seorang Dewa yang menyamar?"
---
Aku hanya bisa menghela napas dan mempercepat langkah.
Di bahuku, Agnithantos dalam bentuk kecilnya terlihat bosan.
Agnithantos: (telepati)
["Manusia-manusia ini terlalu ribut. Apa mereka tidak pernah melihat naga sebelumnya?"]
Aryuu: (telepati, malas)
["Bukan cuma naga... tapi kamu itu AGNITHANTOS."]
Agnithantos: (mendengus kecil)
["Tentu saja. Aku memang istimewa."]
Aku memutar bola mata.
Sialan. Naga ini benar-benar sombong.
---
Rumah Aryuu
Saat aku sampai di rumah, ibu langsung menyambutku di depan pintu.
Namun, tatapan dan ekspresinya berbeda dari biasanya.
Wajahnya penuh dengan keterkejutan, kebingungan, dan juga kekhawatiran.
---
Ibu: (memandangku dengan cemas)
"Aryuu... Apa yang sebenarnya terjadi di akademi hari ini?"
---
Aku menggaruk kepala, berpura-pura kebingungan.
Aryuu: (berlagak tidak tahu)
"Hah? Maksud ibu apa?"
Ibu: (mengerutkan kening)
"Jangan pura-pura! Seluruh desa bahkan sampai kota sudah membicarakan tentangmu!"
Aryuu: (masih berlagak polos)
"Eh? Membicarakan apa?"
Ibu: (menghela napas, lalu berbicara tegas)
"Kau memanggil seekor naga raksasa! Dan bukan sembarang naga, tapi Agnithantos! Bahkan para bangsawan kerajaan sudah tertarik padamu!"
Aku berpura-pura memasang ekspresi terkejut.
Aryuu: (beracting lebay)
"Serius!? Wah, hebat juga aku!"
Ibu: (menatap tajam)
"...Kau sama sekali tidak terlihat terkejut."
Sial. Insting seorang ibu memang tajam.
---
Agnithantos yang ada di bahuku hanya mendengus pelan.
Aku segera mengganti topik.
Aryuu: (tersenyum canggung)
"Ehehe... Ibu, aku lapar. Ada makanan?"
Ibu: (menghela napas, lalu mengacak rambutku)
"Kau ini..."
Dia akhirnya tersenyum, meski masih terlihat cemas.
Aku tahu... ibu pasti khawatir.
---
Makan Malam
Saat makan malam, ibu terus menatapku dengan penuh perhatian.
Aku berusaha makan dengan santai, tapi aku bisa merasakan tatapan intensnya.
Agnithantos duduk di sampingku, makan daging panggang dengan santai.
---
Ibu: (berbicara hati-hati)
"Aryuu... setelah kejadian ini, kau harus lebih berhati-hati."
Aryuu: (mengunyah roti, lalu menjawab santai)
"Ibu terlalu khawatir. Aku baik-baik saja."
Ibu: (mengerutkan kening)
"Bukan hanya itu. Aku khawatir tentang bagaimana orang-orang akan memperlakukanmu setelah ini."
Aku menelan makanan dan menatap ibu dengan senyum tipis.
Aryuu: (santai)
"Kalau ada yang coba cari masalah denganku... aku akan pura-pura lemah dan lari."
Ibu: (menghela napas)
"Kau ini..."
Dia tersenyum tipis, meski masih terlihat khawatir.
---
Di Luar Rumah - Malam Hari
Setelah makan, aku duduk di atap rumah, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
Di sampingku, Agnithantos juga duduk santai, dalam bentuk kecilnya.
Aku menghembuskan napas panjang.
Aryuu: (bergumam)
"Aku cuma mau hidup santai... kenapa malah jadi ribet begini?"
Agnithantos: (telepati)
["Sejak awal, kau yang memilih untuk menyamar sebagai manusia. Ini akibat pilihanmu."]
Aku menatapnya sekilas, lalu kembali melihat langit.
Aryuu: (menggerutu)
"Yeah, yeah... aku tahu."
---
Aku memejamkan mata sebentar, mencoba berpikir.
Sekarang... aku sudah mendapat perhatian yang sangat besar.
Kerajaan mulai tertarik. Murid-murid mulai curiga. Akademi sihir pasti akan memantaiku lebih ketat.
Aku harus lebih berhati-hati.
Aku tidak boleh terlalu mencolok.
Tapi...
Aku juga tidak bisa membiarkan orang lain meremehkanku terlalu jauh.
---
Agnithantos: (telepati, suara tenang)
["Kau tahu, cepat atau lambat... kau tidak akan bisa menyembunyikan kekuatanmu lagi."]
Aku tersenyum miring.
Aryuu: (telepati, santai)
["Mungkin. Tapi aku masih bisa mencoba, bukan?"]
Agnithantos terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.
Agnithantos: (telepati)
["Hmph. Lakukan sesukamu. Tapi aku akan tetap bersamamu, tidak peduli apapun yang terjadi."]
Aku menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis.
Aryuu: (telepati)
["Ya, ya... aku tahu."]
---
Di Tempat Lain - Dalam Istana Kerajaan
Sementara itu, di dalam istana kerajaan, Raja sedang membaca laporan terbaru tentangku.
Di sisinya, Putri Kerajaan terlihat penasaran.
Putri: (menatap laporan, lalu tersenyum)
"Aku benar-benar ingin bertemu dengannya."
Raja: (tertawa kecil)
"Kesempatan itu akan segera datang."
Dia memandang ke luar jendela istana, menatap bintang-bintang di langit.
Raja: (bergumam)
"Aryuu... siapakah kau sebenarnya?"
---
Malam Hari - Aryuu & Agnithantos di Atap Rumah
Di bawah cahaya bulan, aku duduk santai di atap rumah, menatap langit berbintang.
Di sebelahku, Agnithantos dalam bentuk kecilnya tampak mengibaskan ekornya dengan malas.
Suasana cukup tenang... sampai naga sialan ini mulai buka suara.
---
Agnithantos: (telepati, suara serius)
["Tuan... kau tahu bagaimana sisi asliku sebenarnya, bukan?"]
Aku meliriknya, lalu menyeringai kecil dengan ekspresi licik.
---
Aryuu: (telepati, nada santai)
["Terserah kamu. Tapi kalau kamu macam-macam, aku bisa membuatkan lembah Abyss khusus untuk menyiksamu hehehe~"]
---
Agnithantos menatapku tajam, lalu menyeringai balik.
Agnithantos: (telepati, nada penuh kemenangan)
["Hoo? Begitu? Tapi aku juga bisa mengungkapkan identitasmu sebagai The Unknowable God di depan semua orang. Dan aku? Aku akan mengakui diriku sebagai The Abyssal Cosmic Dragon! Ahahaha!"]
---
Aku mendadak menatapnya tajam.
Tapi ini bukan tatapan serius, lebih seperti tatapan ancaman yang bercanda.
Aryuu: (menyipitkan mata)
["Hoo? Coba saja kau lakukan itu, serangga kecil!"]
Agnithantos menertawakanku dengan puas, tapi aku tahu dia tidak akan benar-benar melakukannya.
Lagian, kami berdua tahu siapa yang bakal menang kalau ini jadi perang terbuka.
Aku memutar bola mata, lalu berbaring di atap dengan malas.
Aryuu: (menghela napas)
["Dasar naga nyebelin..."]
---
Keesokan Harinya - Akademi Sihir
Seperti biasa, aku datang ke akademi dengan santai, tidak mempedulikan tatapan penuh rasa ingin tahu dari para murid lain.
Agnithantos duduk di bahuku, masih dalam bentuk kecilnya.
Sepanjang perjalanan ke kelas, aku bisa mendengar bisik-bisik di sekelilingku.
---
Murid 1: (berbisik)
"Itu dia... orang yang memanggil Agnithantos..."
Murid 2: (berbisik)
"Tidak mungkin... Agnithantos kan cuma legenda, kan?"
Murid 3: (terlihat penasaran)
"Kalau benar itu Agnithantos... dia lebih seperti mitos yang diceritakan di kalangan para dewa."
---
Aku tidak peduli.
Mereka bisa bicara apa saja, aku tetaplah Aryuu yang santai dan pemalas.
Saat aku masuk ke dalam kelas, Akeno langsung menghampiriku dengan ekspresi curiga.
---
Akeno: (memasang wajah serius)
"Aryuu, kau pasti menyembunyikan sesuatu."
---
Aku menatapnya dengan wajah polos, lalu memasang ekspresi bingung pura-pura.
Aryuu: (mengangkat bahu)
"Hah? Aku nggak ngerti maksudmu."
Akeno: (menyipitkan mata, semakin curiga)
"Kau memanggil makhluk yang bahkan para bangsawan dan dewa pun hanya menganggapnya sebagai mitos."
Aku berpura-pura menggaruk kepala dengan bingung.
Aryuu: (tertawa canggung)
"Ehehe... Aku juga kaget, kok! Mungkin aku cuma beruntung?"
---
Akeno menghela napas, masih tidak percaya.
Namun, tiba-tiba rubahnya, Kuro, yang selalu bersamanya mulai bergetar dan menegang.
Aku melihat Kuro menatap Agnithantos dengan mata penuh ketakutan dan kewaspadaan.
---
Kuro: (dalam pikirannya)
["Ini... bukan sekadar familiar biasa..."]
---
Agnithantos menyeringai kecil, lalu berbicara dengan telepati hanya kepada Kuro.
---
Agnithantos: (telepati, nada mengancam)
["Dengar, rubah kecil... Jangan macam-macam. Anggap saja aku familiar biasa, atau aku akan membuat eksistensimu lenyap dari realitas."]
---
Kuro mengerutkan ekornya, lalu mengalihkan pandangannya dengan gugup.
Dia langsung menempel pada Akeno, seolah meminta perlindungan.
---
Akeno: (melihat Kuro yang tiba-tiba aneh)
"Kuro? Ada apa?"
Kuro: (berusaha tetap tenang, tapi suaranya sedikit gemetar)
"Ti-tidak ada apa-apa... mungkin aku hanya... sedikit lelah..."
---
Aku melirik Agnithantos sekilas, lalu menahan tawa.
Naga ini benar-benar sialan.
Dia bahkan bisa mengintimidasi seekor rubah hanya dengan telepati.
---
Saat aku kembali melihat ke arah Akeno, dia masih menatapku dengan curiga.
Tapi aku hanya tersenyum santai.
Aryuu: (menyeringai kecil)
"Apa? Kau curiga padaku, Akeno?"
---
Akeno: (mengerutkan kening)
"Tentu saja. Kau terlalu santai untuk seseorang yang baru saja melakukan sesuatu yang mengguncang seluruh kerajaan."
Aryuu: (tertawa pelan)
"Ehehe... Aku hanya tidak suka ribut-ribut."
---
Akeno masih memasang wajah curiga, tapi akhirnya menghela napas dan menyerah untuk saat ini.
Tepat saat itu, guru masuk ke dalam kelas, memulai pelajaran hari ini.
Namun, aku tahu ini belum berakhir.
Baik Akeno maupun orang-orang lain akan terus penasaran tentangku dan Agnithantos.
Tapi tidak masalah.
Aku bisa tetap santai dan pura-pura tidak peduli.
Lagi pula, aku bisa menahan kekuatanku kapan pun aku mau.
---
bab 14: bersambung...