Aryuu the unknowable god-Chapter 14: Bab 13 - Panggilan Familiar: Kemunculan Agnithantos

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 14 - Bab 13 - Panggilan Familiar: Kemunculan Agnithantos

Pagi yang cerah menyelimuti Akademi Sihir Valtherion. Seperti biasa, aku berjalan santai menuju kelas dengan ekspresi datar, meskipun dalam pikiranku, aku hanya ingin hari ini berlalu tanpa hal yang merepotkan.

Di sepanjang jalan menuju akademi, aku bisa merasakan bisikan dan tatapan siswa lain yang selalu memperhatikanku. Mereka masih melihatku sebagai anak miskin yang "aneh" karena kekuatanku terlalu rendah dibandingkan siswa lainnya—atau lebih tepatnya, karena aku sengaja membuat diriku terlihat seperti itu.

Aryuu: (berpikir, ekspresi malas)

"Hari ini apa lagi...?"

Sesampainya di kelas, aku melihat Akeno Akame yang sudah duduk di tempatnya, menyilangkan tangan dengan tatapan penuh minat.

Akeno: (senyum tipis)

"Sepertinya kau datang tepat waktu, Aryuu. Hari ini sepertinya akan menarik."

Aku menoleh sebentar, lalu duduk di kursiku tanpa mengomentari pernyataannya.

Tak lama kemudian, guru kelas memasuki ruangan dengan ekspresi penuh semangat.

Guru: (menepuk tangan, antusias)

"Baiklah, murid-murid! Hari ini kita akan melakukan tes pemanggilan Familiar!"

Seisi kelas langsung berbisik-bisik dengan penuh kegembiraan. Familiar adalah makhluk sihir yang akan menjadi pasangan seumur hidup seorang penyihir. Bentuk dan kekuatan Familiar mencerminkan potensi serta kemampuan sejati sang pemanggil.

Murid 1: (berbisik)

"Akhirnya! Aku sudah lama menunggu momen ini!"

Murid 2: (senang)

"Aku ingin mendapatkan serigala bayangan!"

Murid 3: (berharap)

"Semoga aku mendapat burung phoenix..."

Aku sendiri hanya bersandar santai di kursiku. Aku tidak terlalu peduli dengan Familiar, karena... yah, aku sudah memiliki makhluk yang jauh lebih hebat dari semua yang ada di dunia ini.

Agnithantos.

Seekor naga primordial, eksistensi yang melampaui dimensi dan waktu. Jika aku memanggilnya dalam bentuk aslinya... kemungkinan seluruh akademi, kota, bahkan dunia ini akan runtuh hanya karena auranya saja.

Jadi, aku sudah memutuskan—aku akan berpura-pura kesulitan memanggil Familiar, lalu memerintahkan Agnithantos untuk muncul dalam wujud terlemahnya.

Guru: (mengangkat tongkatnya)

"Baik, kita akan mulai satu per satu! Kalian akan menggunakan lingkaran sihir di tengah aula, lalu fokuskan mana kalian untuk memanggil Familiar yang sesuai dengan jiwa dan kekuatan kalian!"

Kami segera menuju lapangan terbuka akademi, tempat ritual pemanggilan dilakukan. Satu per satu, murid-murid maju ke lingkaran sihir dan memanggil Familiar mereka.

Murid 1: (mengangkat tangan)

"Datanglah! Roh penjagaku!"

Dari lingkaran sihir, muncul serigala api berukuran sedang.

Guru: (mengangguk)

"Bagus! Serigala api! Familiar yang kuat untuk kelas menengah!"

Lalu, murid lain mencoba. Ada yang mendapat elang raksasa, kucing mistik, golem kecil, dan berbagai makhluk sihir lainnya.

Saat giliran Akeno Akame, suasana langsung menjadi lebih serius.

Akeno: (berdiri di tengah lingkaran, menatap tajam)

"Aku memanggilmu... datanglah, pendampingku!"

Dalam sekejap, lingkaran sihir bersinar dengan cahaya merah darah yang begitu pekat, menandakan kekuatan sihir yang luar biasa.

Dari dalam lingkaran, muncul seekor rubah bersembilan ekor dengan bulu hitam berkilau dan mata merah tajam.

Guru: (terkejut)

"R-Rubah Ekor Sembilan!? Itu Familiar langka yang sangat sulit dipanggil!"

Semua siswa langsung berbisik heboh.

Murid 1: (takjub)

"Seperti yang kuduga, Akeno Akame memang bukan orang biasa!"

Murid 2: (iri)

"Hanya sedikit orang di dunia ini yang bisa memiliki Familiar sekuat itu!"

Akeno tersenyum tipis, lalu menoleh ke arahku.

Akeno: (menatap Aryuu, setengah bercanda)

"Bagaimana? Sekarang giliranmu, anak misterius."

Aku diam sejenak, lalu berjalan maju dengan ekspresi datar, masuk ke dalam lingkaran sihir.

Aryuu: (berdiri santai)

"Baiklah... saatnya berakting."

Aku pura-pura mengangkat tangan dengan ragu, berpura-pura kesulitan memfokuskan mana-ku.

Aryuu: (berpura-pura frustrasi)

"Kuh... kenapa ini sulit sekali..."

Seisi kelas mulai tertawa pelan.

Murid 1: (mengejek)

"Haha! Aku sudah menduga, dia pasti gagal!"

Murid 2: (menertawakan)

"Bahkan anak-anak biasa pun bisa memanggil Familiar, tapi dia bahkan tidak bisa fokus!"

Aku menundukkan kepala, lalu berbicara dalam hati menggunakan telepati.

Aryuu: (dalam pikiran)

"Agnithantos... Muncullah, tapi dalam bentuk terlemah. Dan pura-puralah tidak senang karena dipanggil makhluk yang 'lemah'."

Tiba-tiba...

Langit menjadi gelap.

Sebuah cahaya hitam keunguan berputar di atas akademi, membentuk pusaran raksasa yang bisa dilihat dari seluruh kota dan kerajaan.

Seisi akademi langsung panik.

Guru: (terkejut)

"A-Apa yang terjadi!?"

Dari langit, muncul sosok raksasa—sesosok naga hitam dengan mata emas bersinar dan tubuh yang dipenuhi sisik abyssal yang memancarkan aura kegelapan.

Agnithantos telah muncul.

Meskipun ini adalah wujud terlemahnya, ukurannya tetap sangat besar, lebih besar dari seluruh bangunan akademi.

Agnithantos: (mengeluarkan suara menggelegar, suaranya mengguncang seluruh langit)

["Siapa... makhluk lemah yang berani memanggilku!?"]

Suaranya menggema, membuat semua orang gemetar ketakutan. Bahkan para guru dan murid tingkat atas langsung jatuh berlutut karena tekanan auranya.

Aku sendiri berpura-pura terkejut, mundur beberapa langkah dengan wajah "panik".

Aryuu: (berpura-pura ketakutan)

"A-aku yang memanggilmu..."

Agnithantos menundukkan kepala, menatapku dengan mata tajamnya.

Agnithantos: (telepati, dalam pikiran Aryuu)

["Aku melakukan ini karena kau yang memerintahkanku... Tapi, sungguh, kau ingin aku berpura-pura seperti ini?"]

Aryuu: (telepati, membalas dengan santai)

["Hanya sedikit hiburan. Lagipula, reaksinya lucu, bukan?"]

Sementara itu, semua orang terdiam, ketakutan, dan tidak bisa berkata-kata.

Tak ada yang tahu bahwa naga ini sebenarnya adalah peliharaanku sejak dulu.

Dan mereka juga tidak akan pernah tahu... seberapa mengerikannya makhluk yang baru saja mereka lihat ini.

Keheningan menyelimuti seluruh akademi.

Semua orang, baik murid, guru, bahkan kepala akademi yang baru saja tiba, hanya bisa terdiam membeku. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Sosok naga raksasa dengan tubuh bersisik abyssal, mata emas bersinar, dan sayap yang menutupi separuh langit, berdiri di atas mereka, mengeluarkan aura yang begitu menindas.

Agnithantos.

Bukan hanya sekadar naga. Tapi sebuah entitas yang seharusnya tidak eksis.

Guru: (berbisik, gemetar)

"Ini... ini mustahil..."

Kepala Akademi: (terkejut, ekspresi ketakutan)

"Ka-Kalau ini benar... maka anak itu baru saja memanggil makhluk yang bahkan para dewa sekalipun menganggapnya sebagai mitos belaka..."

Murid 1: (panik)

"T-Tidak mungkin! Itu hanya dongeng! Agnithantos hanyalah legenda!"

Murid 2: (terjatuh, wajah pucat)

"Tidak... Tidak mungkin ada penyihir di dunia ini yang bisa memanggil sesuatu yang bahkan dianggap mitos oleh para dewa...!"

Agnithantos: (mengeluarkan suara berat, penuh wibawa)

["Jadi... inikah dunia para makhluk fana sekarang? Lemah, rapuh, dan dipenuhi ketakutan."]

Suara beratnya bergema di seluruh akademi, bahkan di luar kota, membuat seluruh kerajaan dan wilayah sekitarnya bisa mendengar keberadaannya.

Aku tetap berdiri diam di tengah lingkaran sihir, berpura-pura panik dan terkejut seperti yang lainnya.

Aryuu: (berpura-pura takut, menelan ludah)

"A-aku tidak tahu... bagaimana aku bisa memanggilmu..."

Agnithantos menurunkan kepalanya, menatapku dengan tatapan penuh dominasi dan keangkuhan, lalu berbicara menggunakan suara yang hanya bisa kudengar.

Agnithantos: (telepati, berbicara langsung ke pikiran Aryuu)

["Aku tahu apa yang kau rencanakan. Kau ingin aku berpura-pura menjadi Familiar barumu, ya? Tapi sungguh, Aryuu... kau benar-benar suka bermain dengan makhluk lemah."]

Aku hanya tersenyum kecil, tanpa mengubah ekspresi panikku.

Aryuu: (telepati, membalas santai)

["Tentu saja. Lagipula, kalau aku memanggilmu dalam wujud aslimu, dunia ini mungkin sudah lenyap dari eksistensi."]

Agnithantos tertawa kecil dalam pikiranku.

Agnithantos: (telepati)

["Baiklah. Aku akan bermain sesuai rencanamu."]

Tiba-tiba, Agnithantos mengangkat kepalanya dan mengaum keras.

Agnithantos: (mengeluarkan suara marah, gemuruh petir mengikutinya)

["BAGAIMANA MUNGKIN MAKHLUK LEMAH SEPERTIMU MEMANGGILKU!?"]

Suara aumannya mengguncang langit.

Angin badai tiba-tiba berhembus kencang, membuat beberapa murid langsung terdorong ke belakang. Beberapa bahkan pingsan karena tekanan auranya.

Aku berpura-pura gemetar.

Aryuu: (berpura-pura panik)

"A-aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku bisa memanggilmu..."

Agnithantos menurunkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu mengeluarkan helaan napas panas yang membuat tanah di bawahku retak.

Seisi akademi langsung menahan napas.

New n𝙤vel chapters are published on novelbuddy.cσ๓.

Mereka pikir aku akan dimakan hidup-hidup.

Namun, aku tetap berdiri di tempatku, berpura-pura tegang.

Setelah beberapa detik penuh ketegangan, Agnithantos akhirnya berbicara lagi.

Agnithantos: (menghela napas berat, lalu menggeram)

["Tch... Baiklah. Meski aku sangat membencinya... aku akan menerima panggilanmu."]

Semua orang langsung terkejut.

Guru: (mata melebar)

"A-apa!?"

Murid 3: (hampir pingsan)

"Agnithantos... menerima seorang Familiar... dari manusia biasa!?"

Agnithantos mengangkat kepalanya lagi, lalu mengaum keras ke langit.

Dalam hitungan detik, auranya mulai berkurang, dan tubuhnya yang tadinya teramat besar mulai mengecil, hingga akhirnya dia menjadi seekor naga hitam kecil, kira-kira seukuran serigala besar.

Meski bentuknya berubah, eksistensinya tetap begitu menakutkan, membuat semua orang tetap merasakan tekanan luar biasa darinya.

Aku menatapnya dengan ekspresi "bingung".

Aryuu: (berpura-pura ragu)

"A-apakah... kau benar-benar akan menjadi Familiar-ku?"

Agnithantos menggerakkan ekornya dengan malas, lalu mendengus kecil.

Agnithantos: (berbicara santai, tapi tetap angkuh)

["Jangan salah paham, makhluk lemah. Aku hanya memberimu kehormatan untuk menjadi pemilikku. Jangan membuatku menyesal."]

Aku mengangguk perlahan, masih berpura-pura kaget.

Guru: (terdiam, masih tidak percaya)

"T-tidak mungkin... seorang anak yang selama ini dianggap lemah... memiliki Familiar yang bahkan para dewa anggap sebagai mitos!?"

Kepala Akademi yang menyaksikan semua ini, hanya bisa menghela napas dalam.

Kepala Akademi: (berbisik)

"...Anak ini... siapa sebenarnya...?"

Aku hanya tersenyum kecil dalam hati.

Tidak ada yang tahu...

Bahwa Agnithantos sudah menjadi milikku sejak awal.

Dan mereka juga tidak akan pernah tahu...

Seberapa mengerikannya aku yang sebenarnya.

---

bab 13: bersambung