Aryuu the unknowable god-Chapter 13: Bab 12 – Kehidupan Sehari-hari Aryuu
Chapter 13 - Bab 12 – Kehidupan Sehari-hari Aryuu
waktu berlalu dan akademi telah usai
Sepulang dari Akademi
Setelah hari yang panjang di akademi, Aryuu akhirnya pulang ke rumah.
Langit mulai berwarna jingga, matahari perlahan tenggelam di cakrawala, dan udara sore terasa sejuk.
Dia berjalan melewati jalanan kota yang ramai, menyapa beberapa orang yang sudah mengenalnya.
"Hei, Aryuu! Kau pulang lebih awal hari ini?" tanya seorang penjual roti di pinggir jalan.
Aryuu (tersenyum) : "Ya, hari ini tidak ada pelatihan tambahan."
"Kalau begitu, mampir dulu! Aku punya roti sisa yang masih enak. Ambillah."
Aryuu menerima roti itu dengan senang hati, karena dia tahu ibunya pasti akan senang jika ada makanan tambahan di rumah.
---
Rumah Aryuu
Setelah beberapa menit berjalan, Aryuu akhirnya tiba di rumahnya.
Rumah kecil sederhana di pinggiran kota, dengan dinding kayu dan atap yang sudah mulai rapuh.
Di depan rumah, ibunya, Elina, sedang duduk sambil memilah barang bekas.
Elina – seorang wanita muda, janda, dengan rambut panjang kecokelatan dan mata lembut.
Dia mungkin tidak memiliki kekuatan atau status tinggi seperti orang lain, tetapi dia adalah wanita pekerja keras yang selalu berusaha untuk bertahan hidup.
Ketika melihat Aryuu datang, senyum lembut muncul di wajahnya.
Elina (tersenyum) : "Kau sudah pulang, Nak? Bagaimana akademinya hari ini?"
Aryuu (menaruh tasnya di meja) : "Cukup baik. Aku naik ke Kelas C."
Elina (terkejut) : "Benarkah?! Itu luar biasa, Aryuu! Aku bangga padamu."
Aryuu hanya tersenyum kecil.
Ibunya mungkin tidak terlalu memahami sistem akademi, tetapi dia tahu betapa pentingnya hal ini bagi Aryuu.
---
Membantu Ibunya
Setelah berganti pakaian, Aryuu langsung membantu ibunya memilah barang bekas.
Di sudut ruangan, ada tumpukan logam, kayu tua, dan barang-barang lain yang ditemukan di jalan.
Setiap hari, ibunya bekerja keras mengumpulkan barang-barang ini untuk dijual kembali.
Aryuu mengambil beberapa benda yang masih bisa digunakan, seperti panci tua dan beberapa alat rusak.
Aryuu (memandangi tumpukan) : "Ibu, hari ini kita dapat banyak barang?"
Elina (tersenyum) : "Lumayan. Aku menemukan beberapa logam di pasar belakang. Tapi kita masih perlu mencari lebih banyak jika ingin membeli makanan untuk seminggu ke depan."
Aryuu mengangguk.
Dia sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini.
Meskipun orang-orang lain mungkin memiliki kehidupan yang lebih baik, Aryuu dan ibunya selalu berusaha keras untuk bertahan.
---
Pergi Memulung
Setelah memilah barang, Aryuu dan ibunya pergi keluar untuk mencari barang bekas lagi.
Mereka berjalan ke area pasar, di mana banyak barang yang sering dibuang begitu saja.
Beberapa orang mengenali Elina dan Aryuu.
"Elina! Masih bekerja keras seperti biasa?"
Elina (tersenyum) : "Tentu saja. Aku harus mencari nafkah, kan?"
Aryuu membantu ibunya mengangkat beberapa kantong besar berisi barang bekas.
Saat sedang mengumpulkan barang, beberapa anak kecil mendekati mereka.
"Kak Aryuu! Kau sudah pulang?"
Aryuu mengusap kepala salah satu anak kecil itu.
Aryuu : "Ya, aku pulang. Kalian sudah makan?"
Anak kecil itu menggeleng.
Aryuu mengeluarkan roti yang tadi dia dapatkan, lalu membaginya kepada anak-anak itu.
Mereka langsung tersenyum bahagia.
"Kak Aryuu baik sekali!"
Aryuu hanya tersenyum.
---
Bekerja untuk Mendapatkan Uang
Selain memulung, Aryuu terkadang mengambil pekerjaan sampingan.
Hari itu, dia pergi ke bengkel tua milik seorang pria tua bernama Gordon.
Gordon – seorang pandai besi berusia lima puluhan, berbadan kekar, dengan janggut tebal dan suara berat.
Gordon (menatap Aryuu) : "Kau datang tepat waktu, bocah. Aku butuh bantuan membersihkan bengkel."
Aryuu langsung mengambil sapu dan mulai bekerja.
Selama satu jam, dia membersihkan ruangan, menyusun logam, dan membantu memperbaiki beberapa peralatan.
Gordon (mengangguk puas) : "Kau bekerja dengan baik, bocah. Ini upahmu."
Gordon menyerahkan beberapa koin perak.
Aryuu (menghitung koinnya) : "Terima kasih, Pak Gordon!"
Dengan uang itu, Aryuu bisa membeli sedikit makanan untuk ibunya.
---
Malam Hari di Rumah
Setelah seharian bekerja, Aryuu dan ibunya akhirnya kembali ke rumah.
Aryuu mengeluarkan bahan makanan yang dia beli.
Malam itu, mereka makan sup sederhana dan roti keras, tetapi mereka tetap menikmatinya.
Elina (tersenyum) : "Terima kasih sudah bekerja keras hari ini, Aryuu."
Aryuu (mengangguk) : "Ibu juga."
Meskipun hidup mereka tidak mudah, mereka selalu bersyukur atas apa yang mereka miliki.
Dan begitulah kehidupan sehari-hari Aryuu di luar akademi.
Mungkin suatu hari nanti, keadaan akan menjadi lebih baik...
Malam yang Tenang, Pikiran yang Sibuk
Setelah makan malam yang sederhana bersama ibunya, Aryuu duduk di dekat jendela, menatap langit malam yang gelap.
Angin malam berhembus pelan, membawa kesejukan yang menenangkan setelah seharian bekerja keras.
Di atas meja kecil, ada beberapa lembar kertas—pekerjaan rumah dari akademi yang harus diselesaikan.
Aryuu mengambil pena dan mulai mengerjakan tugasnya.
Soal-soal teori sihir, rumus energi mana, dan strategi pertempuran.
Bagi sebagian besar siswa, ini mungkin terasa sulit.
Tapi bagi Aryuu—yang pernah menghadapi triliunan dewa dalam pertempuran kosmik—semua ini terasa seperti permainan anak-anak.
Namun, itulah yang membuatnya berpikir.
Saat tangannya menulis, pikirannya melayang jauh.
Aryuu merenung dalam diam.
Kehidupan manusia ternyata jauh lebih sulit daripada yang pernah dia bayangkan.
Di medan perang, ketika menghadapi miliaran bahkan triliunan dewa tertinggi sendirian, setidaknya dia hanya perlu bertarung.
Tidak ada kelaparan.
Tidak ada kelelahan karena bekerja seharian.
Tidak ada beban untuk mencari nafkah setiap hari.
Tetapi di dunia manusia ini...?
Orang-orang harus bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk mendapatkan cukup uang agar bisa makan keesokan harinya.
Mereka harus memikirkan banyak hal—tempat tinggal, pakaian, makanan, kesehatan, pajak, dan masih banyak lagi.
Ibunya harus mengais barang bekas, memulung, dan bekerja keras setiap hari hanya untuk mendapatkan beberapa koin.
Anak-anak kecil yang ia temui tadi siang bahkan tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan.
Semua ini terasa lebih berat daripada menghadapi triliunan dewa.
---
Rahasia yang Tidak Diketahui Siswa Akademi
The source of this c𝐨ntent is freeweɓnovēl.coɱ.
Aryuu memandangi kedua tangannya.
Di akademi, dia hanyalah siswa dengan peringkat terendah.
Teman-teman sekelasnya mungkin berpikir bahwa dia hanya seorang lemah yang harus berjuang keras untuk berkembang.
Mereka tidak tahu bahwa setelah akademi usai, Aryuu harus kembali ke kehidupan kerasnya sebagai anak dari seorang janda yang berjuang untuk bertahan hidup.
Mereka tidak tahu bahwa Aryuu harus bekerja, memulung, dan membantu ibunya mencari nafkah.
Dan itulah yang membuatnya sedikit lega.
Jika mereka tahu—bisa saja mereka akan semakin mencibir atau mungkin malah merasa kasihan.
Dan Aryuu tidak membutuhkan belas kasihan.
Inilah pilihannya.
Menjalani hidup sebagai manusia biasa, merasakan bagaimana kehidupan manusia yang sesungguhnya.
---
Kembali ke Realita
Aryuu menghela napas pelan, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Setelah menyelesaikan tugas akademi, dia membereskan meja dan bersiap untuk tidur.
Di luar sana, bulan bersinar terang, menerangi malam yang sunyi.
Besok adalah hari baru.
Dan Aryuu akan kembali ke akademi, berpura-pura menjadi siswa biasa seperti sebelumnya.