Aryuu the unknowable god-Chapter 12: Bab 11 - Duel Akademi! Ujian Penentuan!

If audio player doesn't work, press Reset or reload the page.

Chapter 12 - Bab 11 - Duel Akademi! Ujian Penentuan!

Setelah lima hari menghilang, Aryuu akhirnya kembali ke akademi. Namun, yang ia tidak duga, reaksinya ternyata cukup besar.

Tatapan murid-murid seakan langsung tertuju padanya.

Sebagian tampak terkejut, sementara yang lain menatapnya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.

Di sisi lain, ada pula yang memandangnya dengan cibiran dan ejekan, terutama mereka yang sebelumnya menganggapnya sebagai murid terlemah.

Namun, satu orang yang paling menonjol ekspresinya adalah Akeno.

---

Kembalinya Aryuu

Akeno (melipat tangan, menatap tajam) : "Akhirnya kau kembali."

Aryuu (tertawa kecil) : "Hehe... ya, aku ada urusan."

Akeno (mengerutkan dahi) : "Urusan apa? Kenapa tidak memberitahuku? Aku dan ibumu sangat khawatir."

Aryuu terdiam sejenak.

Ibunya juga khawatir?

Sepertinya dia terlalu sibuk dengan urusannya beberapa hari ini, sampai-sampai melupakan fakta bahwa dia hidup di dunia yang lebih "normal" dibandingkan pertempuran melawan para dewa dan anomali luar realitas.

Sebelum Aryuu sempat menjawab, beberapa murid lain ikut campur.

Siswa 1 (menyeringai) : "Heh, kupikir kau sudah menyerah dan pergi dari akademi."

Siswa 2 : "Atau mungkin dia malu karena mana-nya paling rendah?"

Siswa 3 : "Haha, mungkin dia sakit hati setelah kita ejek sebelumnya."

Beberapa murid lain tertawa kecil.

Namun, alih-alih marah atau tersinggung, Aryuu hanya tersenyum kecil.

Jika mereka tahu siapa dirinya yang sebenarnya...

Akeno (wajah kesal) : "Hentikan itu! Kalau dia kembali, berarti dia masih ingin berusaha!"

Beberapa murid hanya mendengus dan berpaling.

Namun, di antara mereka, ada juga yang mulai berpikir.

Murid 4 (berbisik) : "Tapi aneh, kenapa dia terlihat santai? Kalau aku diejek seperti itu, aku pasti sudah menyerah..."

Murid 5 : "Mungkin dia sudah menerima nasibnya."

Aryuu hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.

Karena hari ini... dia akan membuktikan sesuatu.

---

Duel Akademi Dimulai!

Begitu sampai di aula akademi, atmosfer yang dirasakan Aryuu benar-benar berbeda.

Hari ini adalah hari ujian duel satu lawan satu.

Hasil pertarungan ini akan menentukan peringkat kekuatan para murid di akademi.

Dan tentu saja, banyak yang yakin Aryuu akan kalah telak.

Namun, yang mengejutkan semua orang... Aryuu justru terlihat sangat bersemangat.

Aryuu (menggenggam tangan) : "Akhirnya! Aku bisa bertarung lagi!"

Akeno (mengerutkan alis) : "Kau kenapa? Biasanya kau malas-malasan."

Aryuu (tertawa) : "Aku merasa ini kesempatan untuk menunjukkan sesuatu!"

Akeno (melipat tangan) : "Yakin bisa menang?"

Aryuu (mengangguk mantap) : "Tentu saja! Aku akan berusaha sebaik mungkin!"

Akeno masih merasa ada yang aneh. Namun, sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, Profesor Ragnir naik ke podium.

Profesor Ragnir (bersuara lantang) : "Hari ini kita akan mengadakan ujian duel! Pertarungan akan dihentikan jika salah satu peserta menyerah atau tidak bisa melanjutkan!"

Sorakan dan teriakan semangat mulai terdengar dari seluruh murid.

Beberapa murid mulai memanas dengan aura persaingan, sementara yang lain tampak sedikit gugup.

Dan akhirnya... nama Aryuu disebut.

---

Aryuu vs Cedric van Albrecht

Profesor Ragnir : "Selanjutnya... Aryuu vs Cedric van Albrecht!"

Suasana di aula mendadak hening.

Cedric, seorang bangsawan berbakat dengan elemen petir, berjalan ke tengah arena dengan percaya diri.

Dia memiliki reputasi sebagai salah satu murid terkuat di akademi.

Cedric (tersenyum meremehkan) : "Akhirnya kita bertemu dalam duel, Aryuu."

Aryuu (tersenyum santai) : "Ya, ayo bersenang-senang."

Cedric mendecak.

Cedric : "Jangan salah paham. Aku tidak akan menahan diri hanya karena kau memiliki mana paling rendah."

Ejekan kecil dari murid-murid mulai terdengar lagi.

Murid 1 : "Kasihan Aryuu, ini pasti tidak akan seimbang."

Murid 2 : "Dia bahkan tidak bisa mengeluarkan sihir tingkat tinggi."

Namun, Aryuu tetap tersenyum.

Profesor Ragnir mengangkat tangannya ke udara.

Profesor Ragnir : "Mulai!"

---

Pertarungan Dimulai!

Cedric langsung menyerang.

"Lightning Spear!"

Tombak petir berkecepatan tinggi melesat menuju Aryuu.

Banyak murid yang yakin bahwa Aryuu akan terkena serangan ini.

Namun...

Aryuu hanya melangkah sedikit ke samping.

Tombak petir itu melewati tubuhnya tanpa menyentuhnya sedikit pun.

Cedric (terkejut) : "Apa?!"

Murid 3 : "Dia menghindarinya?"

Aryuu (tersenyum) : "Lambat."

Cedric menggeram kesal.

"Kalau begitu... coba tahan ini!"

"Thunder Burst!"

Gelombang petir menyebar ke seluruh arena, meluap seperti badai kecil yang siap membakar segalanya.

Namun, di tengah-tengah badai petir itu...

Aryuu tetap berdiri dengan santai.

Bahkan tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya.

Cedric (mata membelalak) : "Apa?! Bagaimana bisa?!"

Aryuu (tersenyum) : "Giliran ku sekarang."

---

Balasan Aryuu

Aryuu mengangkat satu tangan dan mulai mengumpulkan sedikit mana.

Bagi orang lain, jumlah mana yang ia gunakan terlihat sangat kecil.

Namun...

Dengan satu gerakan sederhana, dia menghilang dari pandangan semua orang.

Cedric (terkejut) : "Dimana dia?!"

Tiba-tiba...

BUAGH!

Sebuah pukulan mendarat telak di perut Cedric, membuatnya terhuyung ke belakang.

Murid 1 : "Apa yang terjadi?!"

Murid 2 : "Aku bahkan tidak melihat serangannya!"

Cedric mencoba membalas dengan sihir lain, namun sebelum ia sempat mengeluarkannya...

DOR!

Sebuah tendangan mengenai dadanya, membuatnya terjatuh ke tanah.

Dan sebelum ia bisa bangkit... pedang Aryuu sudah mengarah ke lehernya.

Aryuu (tersenyum) : "Sepertinya aku menang."

Profesor Ragnir langsung mengangkat tangan.

Profesor Ragnir : "Pemenangnya adalah Aryuu!"

Seluruh arena terdiam.

Tidak ada yang menyangka bahwa Aryuu... yang dianggap terlemah...

Baru saja menang dengan mudah.

Akeno (tersenyum tipis) : "Kau benar-benar menyembunyikan sesuatu..."

Aryuu hanya tertawa kecil.

Baginya... ini baru pemanasan.

Setelah kemenangan mengejutkan melawan Cedric, suasana di arena mendadak berubah.

Murid-murid yang tadinya mengejek Aryuu kini mulai melihatnya dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan.

---

Pengumuman Duel Kedua!

Profesor Ragnir kembali naik ke podium, menatap para murid dengan sorot tajam.

Profesor Ragnir : "Duel selanjutnya... Aryuu vs Leonhardt Vermillion!"

Mendengar nama itu, sebagian murid langsung bersorak.

Leonhardt adalah salah satu murid terkuat di akademi, dikenal sebagai "Flame Emperor" karena penguasaan sihir apinya yang luar biasa.

Leonhardt (menyeringai) : "Menarik. Aku ingin melihat sendiri apakah kemenanganmu tadi hanya kebetulan."

Aryuu (tersenyum santai) : "Ayo bertarung dengan serius."

Leonhardt (menatap tajam) : "Tentu saja. Aku tidak akan menahan diri."

---

Pertarungan Dimulai!

Begitu Profesor Ragnir memberi aba-aba, Leonhardt langsung mengangkat tangannya ke udara.

"Inferno Burst!"

Api hitam pekat langsung meledak dari tubuhnya, menyelimuti seluruh arena dengan panas yang bisa melelehkan logam dalam hitungan detik.

Murid-murid yang menonton langsung mundur beberapa langkah.

Murid 1 : "Gila! Dia langsung menggunakan sihir kelas tinggi!"

Murid 2 : "Aryuu pasti tidak akan bisa bertahan!"

Namun, di tengah kobaran api yang membakar tanah arena...

Aryuu tetap berdiri.

Bukan dengan perisai, bukan dengan sihir pertahanan, tapi hanya dengan mengandalkan refleks dan kelincahannya.

Aryuu (mengerutkan dahi) : "Panas juga..."

Leonhardt (mendengus) : "Kau masih bisa berdiri? Baiklah, aku akan meningkatkan seranganku!"

"Flame Tornado!"

Sebuah pusaran api raksasa terbentuk di sekitar Aryuu, menciptakan badai panas yang bisa membakar tubuh dalam hitungan detik.

Namun, Aryuu melompat ke udara.

Dan dengan satu gerakan cepat, ia berputar di tengah angin panas itu, melintasi celah sempit di antara pusaran api.

DUAR!

Dalam sekejap, Aryuu sudah berada di belakang Leonhardt.

Leonhardt (terkejut) : "Apa?! Bagaimana bisa kau keluar dari sana?"

Aryuu (tertawa) : "Hanya sedikit trik menghindar."

Namun, sebelum Aryuu bisa menyerang, Leonhardt dengan cepat berbalik dan menebaskan pedang berapi miliknya.

"Blazing Slash!"

Cahaya merah membara melesat dengan kecepatan tinggi.

Aryuu mengangkat pedangnya, mencoba menahan serangan itu dengan kekuatan yang terbatas.

DUAR!

Benturan terjadi!

Aryuu terdorong beberapa meter ke belakang, kakinya menyeret tanah, tetapi ia tetap bertahan.

Keringat mulai mengalir di dahinya.

---

Pertarungan yang Benar-benar Seimbang

Akeno (berbisik) : "Ini pertama kalinya aku melihat Aryuu benar-benar terdesak..."

Murid lain juga mulai memperhatikan sesuatu.

Murid 3 : "Tidak seperti duel pertama, kali ini Aryuu tidak bisa menang dengan mudah."

Murid 4 : "Jangan-jangan... dia benar-benar berada di batas kemampuannya?"

This chapt𝓮r is updat𝒆d by ƒreeωebnovel.ƈom.

Namun, meskipun terlihat kelelahan... Aryuu masih tersenyum.

Aryuu (bernapas cepat) : "Hahaha... ini menyenangkan!"

Leonhardt (mengerutkan dahi) : "Apa kau gila?! Kau jelas kesulitan, tapi kau masih bisa tertawa?"

Aryuu mengangkat pedangnya dengan kedua tangan, mengambil kuda-kuda yang lebih serius.

Aryuu : "Kalau aku bisa menang dalam pertarungan yang sulit, bukankah itu lebih memuaskan?"

Leonhardt (tersenyum) : "Hmph... baiklah, kalau begitu aku akan menguji batasmu!"

"Crimson Cataclysm!"

Langit mendadak berubah merah.

Bola api raksasa mulai terbentuk di udara, memancarkan tekanan luar biasa yang bisa menghancurkan arena dalam sekejap.

---

Momen Penentuan!

Melihat serangan sebesar itu, Aryuu tahu bahwa ia tidak bisa menghindarinya sepenuhnya.

Jika dia menggunakan kekuatannya yang sebenarnya, ini bukan masalah besar.

Namun... dia telah bersumpah untuk hanya bertarung sebagai manusia biasa.

Aryuu (menggenggam pedang erat) : "Baiklah... aku harus menang dengan caraku sendiri!"

Leonhardt (berteriak) : "Terimalah!!"

Bola api raksasa meluncur turun dengan kecepatan tinggi!

Murid-murid mulai panik, berpikir bahwa pertarungan akan segera berakhir.

Namun, Aryuu justru berlari ke arah serangan itu!

Akeno (terkejut) : "Apa yang kau lakukan, Aryuu?!"

Murid 5 : "Dia sudah gila!!"

Namun, Aryuu tetap berlari.

Dan saat bola api itu hampir menyentuhnya...

DUAR!!

Sebuah ledakan dahsyat terjadi!

---

Asap Tebal Menyelimuti Arena

Suasana mendadak sunyi.

Murid-murid menahan napas, menunggu untuk melihat hasilnya.

Ketika asap mulai menghilang... sosok Aryuu masih berdiri.

Pakaian dan jubahnya sedikit robek, tubuhnya terluka, tetapi dia masih menggenggam pedangnya dengan erat.

Leonhardt (mata membelalak) : "Tidak mungkin... kau masih bisa bertahan?!"

Aryuu (tersenyum lemah) : "Tentu saja... aku belum kalah."

Dan sebelum Leonhardt bisa bereaksi...

Aryuu melesat ke arahnya!

Dengan kecepatan terakhir yang ia miliki, Aryuu mengayunkan pedangnya tepat ke arah bahu Leonhardt!

"Final Slash!"

DUAR!

Sebuah gelombang energi meluncur dan menghantam Leonhardt, membuatnya terjatuh ke tanah.

Murid-murid langsung bersorak kaget.

Profesor Ragnir (mengangkat tangan) : "Pemenangnya adalah... Aryuu!"

---

Reaksi Murid-murid

Murid 1 : "TIDAK MUNGKIN! DIA MENANG LAGI?!"

Murid 2 : "Bagaimana bisa seorang murid dengan mana terendah menang melawan Leonhardt?!"

Murid 3 : "Dia pasti menyembunyikan sesuatu..."

Namun, bagi Aryuu... kemenangan ini terasa lebih memuaskan dibandingkan pertarungan sebelumnya.

Leonhardt (terengah-engah, tersenyum) : "Hahaha... aku kalah."

Aryuu (mengulurkan tangan) : "Itu pertarungan yang hebat."

Leonhardt terdiam sejenak, lalu tersenyum dan menerima uluran tangan Aryuu.

Leonhardt : "Kau benar-benar aneh, Aryuu... tapi aku menghormatimu."

Meskipun beberapa murid masih tidak percaya, perlahan-lahan pandangan mereka terhadap Aryuu mulai berubah.

Arena Akademi Sihir—Pertarungan Terakhir!

Setelah mengalahkan Leonhardt, suasana arena memanas. Semua murid menatap satu sosok yang kini melangkah ke depan dengan aura menindas.

Dialah Ragnar Valeska, siswa terkuat di akademi.

Julukan: King of Magic.

Tidak pernah kalah dalam duel.

Menguasai sihir tingkat tinggi dengan presisi sempurna.

Tatapan matanya tajam, seolah menatap semut yang mencoba melawan naga.

Ragnar : "Aku sudah cukup melihat sandiwara ini. Saatnya mengakhirinya."

Aryuu (tersenyum santai) : "Oh? Kau yakin bisa mengakhirinya?"

Ragnar (mengerutkan dahi) : "Tentu. Aku berbeda dari semua yang sudah kau hadapi."

---

Duel Dimulai!

Begitu Profesor Ragnir memberi aba-aba...

"Mulai!"

BOOM!

Dalam sekejap, Ragnar langsung menghilang!

"Apa?!"

Aryuu nyaris tidak bisa melihat gerakannya.

WHAM!

Sebuah pukulan keras menghantam perut Aryuu!

"GUH!!"

Aryuu terhempas, tubuhnya menghantam dinding arena dengan keras.

Serangan itu cepat... terlalu cepat!

Murid 1 : "Lihat! Ragnar bahkan belum menggunakan sihirnya!"

Murid 2 : "Ini bukan pertarungan! Ini eksekusi!"

Namun... Aryuu tersenyum.

---

Aryuu Melawan Balik!

Aryuu (menyeka darah di bibir) : "Itu lumayan sakit... tapi aku belum kalah."

Ragnar (mengernyit) : "Masih bisa berdiri? Kalau begitu... aku akan menambah kecepatanku."

SWOOSH!

Ragnar menghilang lagi, muncul di belakang Aryuu.

"Mana Guard!"

Sebuah perisai energi terbentuk di belakang Aryuu, menahan serangan Ragnar!

CLANG!

Aryuu segera membalas dengan tendangan rendah ke lutut Ragnar!

WHAM!

Namun... Ragnar hanya bergeser sedikit.

Ragnar (tersenyum) : "Menarik... kau bisa menanggapinya? Kalau begitu... aku akan menggunakan lebih banyak kekuatan."

---

Pertarungan Sengit Dimulai!

"Multi Arcane Burst!"

Ragnar melompat ke udara, menciptakan lima bola energi raksasa dan menembakkannya ke arah Aryuu!

BOOM! BOOM! BOOM!

Ledakan besar mengguncang arena.

Asap tebal menyelimuti tempat Aryuu berdiri.

Namun... sesosok bayangan melesat keluar dari asap!

Aryuu (berlari dengan kecepatan penuh) : "Kau pikir aku akan kalah semudah itu?"

Ragnar terkejut.

"Mana Blade – Dual Slash!"

Aryuu menciptakan dua pedang energi biru dan melancarkan serangan cepat ke arah Ragnar!

SWISH! SWISH!

Ragnar membentuk perisai sihir, tapi...

"CRACK!"

Salah satu serangan Aryuu menembus perisainya!

"Tch... tidak buruk."

Ragnar melompat mundur, tapi Aryuu tidak berhenti!

---

Tekanan Berbalik!

"Mana Shockwave!"

Aryuu menghantam tanah, menciptakan gelombang kejut yang membuat Ragnar kehilangan keseimbangan.

"Mana Bind!"

Tiba-tiba, ratusan rantai sihir muncul dari tanah dan mengikat Ragnar!

Murid-murid terkejut.

Murid 1 : "Apa?! Ragnar terjebak?!"

Murid 2 : "Itu... sihir pengekangan tingkat tinggi!"

Aryuu (tersenyum) : "Aku mungkin lemah, tapi aku bukan idiot."

Namun...

Ragnar (menyeringai) : "Menarik... tapi ini belum cukup."

"Arcane Overdrive!"

BOOM!

Sebuah ledakan energi raksasa menghancurkan rantai sihir Aryuu.

Aura Ragnar berubah.

Udara di sekitar arena bergetar.

Murid-murid mulai kesulitan bernapas hanya karena tekanan kekuatannya.

"Absolute Arcane: Celestial Storm!"

Sebuah lingkaran sihir emas raksasa muncul di langit.

Dari dalamnya, puluhan tombak energi berjatuhan seperti hujan meteor!

BOOM! BOOM! BOOM!

Aryuu berlari sekuat tenaga, mencoba menghindari hujan serangan tersebut.

"Mana Dash!"

Dengan kecepatan tinggi, Aryuu melompati puing-puing arena, mencoba mencari celah untuk menyerang.

Namun...

"Mana Compression – Sky Blade!"

Ragnar menciptakan pedang energi besar dan menebas langsung ke arah Aryuu!

"TIDAK ADA TEMPAT UNTUK MELARIKAN DIRI!"

SWOOSH!

---

Benturan Terakhir!

Aryuu tidak punya pilihan.

Ia harus menahan serangan itu!

Aryuu : "Mana Guard MAXIMUM!"

BOOOOOM!!!

Benturan besar terjadi.

Asap hitam menutupi arena.

Murid-murid menahan napas.

---

Ketika asap menghilang...

Dua sosok masih berdiri.

Ragnar terengah-engah, sementara Aryuu berdiri dengan satu lutut menyentuh tanah.

Ragnar (tersenyum lemah) : "Kau... masih bisa bertahan? Hahaha... menarik."

Namun...

TIBA-TIBA RAGNAR TERJATUH!

KEDUA KAKINYA LUMPUH!

Aryuu... menang.

---

Pemenang Pertarungan!

Profesor Ragnir maju dan melihat kondisi Ragnar.

"Pemenangnya adalah... Aryuu!"

Seluruh arena gempar!

Murid 1 : "TIDAK MUNGKIN!"

Murid 2 : "Ragnar... kalah?!"

Murid 3 : "Apa yang baru saja terjadi?!"

Namun, itulah kenyataannya.

Aryuu yang dianggap sebagai siswa terlemah... telah mengalahkan siswa terkuat.

---

Setelah Pertarungan

Ragnar (tersenyum lemah) : "Kau benar-benar kuat... aku mengakuinya."

Aryuu (mengulurkan tangan) : "Terima kasih sudah bertarung dengan serius."

Ragnar menatap tangan Aryuu beberapa saat, lalu menerimanya.

Kini, Ragnar melihat Aryuu sebagai rival sejati.

Namun, ini baru awal dari segalanya.

Aryuu tersenyum kecil.

Setelah kemenangan melawan Ragnar, Aryuu akhirnya diakui sebagai salah satu petarung terkuat di akademi.

Namun, pertarungan belum berakhir.

Masih ada satu lawan terakhir... seorang siswa dari kelas C tingkat atas.

---

Lawan Terakhir – Mark Galdatiors

Profil:

Nama: Mark Galdatiors

Peringkat: Siswa tingkat atas Kelas C

Julukan: The Crimson Gladiator

Spesialisasi: Sihir penguatan tubuh dan serangan brutal

Mark bukan hanya siswa biasa. Dia adalah seorang petarung sejati yang tak pernah kalah di arena akademi.

Mark (tersenyum santai) : "Aku mendengar kau mengalahkan Ragnar... menarik. Tapi kali ini, kau tidak akan menang."

Aryuu (mengepalkan tangan) : "Kita lihat saja nanti."

---

Duel Dimulai!

Begitu Profesor Ragnir memberi aba-aba...

"MULAI!"

BOOM!

Mark langsung mengaktifkan sihir penguatan tubuhnya!

"Crimson Overdrive!"

Seluruh tubuhnya bersinar merah menyala, otot-ototnya membengkak dengan kekuatan sihir.

Aryuu langsung melompat maju, menebaskan pedang sihirnya.

"Mana Blade – Flash Strike!"

CLANG!

Serangan Aryuu terpental begitu saja!

Aryuu (terkejut) : "Tebasanku... tidak berpengaruh?!"

Mark tertawa.

Mark : "Konyol. Dengan tubuh ini, serangan lemah seperti itu tidak akan bisa menyakitiku!"

"Titan Crash!"

Mark melesat cepat, meninju Aryuu dengan kekuatan luar biasa!

BOOM!

Aryuu terpental jauh, menghantam dinding arena!

"Ugh...!" Aryuu berdiri dengan susah payah.

Para penonton terdiam.

"Aryuu... bisa bangkit setelah terkena serangan itu?"

"Biasanya musuh Mark langsung tumbang dalam satu pukulan!"

Namun...

Aryuu mengusap mulutnya yang berdarah dan tersenyum.

Aryuu : "Heh... itu cukup sakit. Tapi aku belum selesai."

---

Pertarungan Sengit!

Mark kembali menyerang, meluncurkan rentetan pukulan dahsyat!

Aryuu berusaha menghindari setiap serangan dengan gesit, tapi kecepatan Mark luar biasa.

"Crimson Barrage!"

DUAR! DUAR! DUAR!

Aryuu terus terdesak, tubuhnya dihantam berkali-kali!

Namun, dia menolak untuk menyerah.

"Mana Burst!"

Aryuu melepaskan ledakan energi kecil untuk menciptakan celah!

Mark (terkejut) : "Hmph! Trik kecil!"

Aryuu berlari maju, menebaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi!

"Arc Slash!"

Mark mengangkat lengannya untuk menahan...

"Tch...!"

Aryuu berputar di udara, mengayunkan serangan lain!

"Mana Fang!"

SWOOSH!

Mark terkena serangan langsung!

Para penonton terkejut!

"Aryuu berhasil menyerang Mark?!"

---

Klimaks Duel!

Mark mulai serius.

Mark : "Hmph... kau cukup tangguh. Tapi pertarungan ini sudah selesai."

Mark mengepalkan tangan, sihirnya melonjak!

"Crimson Judgment!"

Tanah bergetar hebat, aura merahnya meledak ke segala arah!

Aryuu merasa tekanan luar biasa menghantam tubuhnya.

Aryuu (mengerang) : "Gah... kekuatannya... luar biasa..."

BOOM!

Mark meluncur seperti meteor, meninju Aryuu dengan kekuatan penuh!

"ARGHHH—!"

Aryuu terlempar jauh, menghantam tanah dengan keras.

Asap memenuhi arena.

---

Akhir Duel

Aryuu mencoba berdiri... tetapi tubuhnya tidak bergerak.

Mark berdiri di depannya, mengulurkan tangan.

Mark : "Kau kuat, Aryuu. Tapi kali ini, aku yang menang."

Profesor Ragnir mengangkat tangan.

"Pemenangnya... Mark Galdatiors!"

Seluruh arena bergemuruh dengan sorakan.

Aryuu tersenyum lelah.

Aryuu : "Heh... lain kali aku akan menang."

Mark tertawa, menepuk bahu Aryuu.

Mark : "Aku menunggu saat itu tiba."

Dan dengan itu, duel terakhir pun berakhir...

Pengumuman Hasil Tes Akademi!

Setelah duel panjang yang melelahkan, akhirnya Aryuu kalah melawan Mark Galdatiors.

Namun, pertarungan yang telah dilaluinya tidak sia-sia.

Semua murid dikumpulkan di aula akademi untuk mendengarkan hasil evaluasi dan peringkat baru mereka setelah tes pertarungan satu lawan satu.

Profesor Ragnir berdiri di podium, siap mengumumkan hasilnya.

---

Sebelum Pengumuman

Aryuu berjalan ke aula bersama Akeno, yang terlihat masih khawatir.

Akeno (melihat Aryuu) : "Kau baik-baik saja? Setelah pertarungan itu, kau tidak bisa berdiri selama beberapa menit..."

Aryuu (tertawa kecil) : "Tenang saja. Hanya beberapa memar. Tidak ada yang serius."

Akeno (menghela napas) : "Serius, Aryuu... kau harus lebih menjaga dirimu."

Aryuu hanya tersenyum.

Di sisi lain, beberapa murid masih menatap Aryuu dengan ekspresi terkejut.

"Aku masih tidak percaya dia bisa bertahan sejauh itu..."

"Benar... awalnya aku pikir dia cuma murid biasa tanpa bakat..."

"Setelah pertarungan itu... dia pasti naik peringkat!"

Namun, ada juga yang meremehkannya.

"Hmph, pada akhirnya dia tetap kalah. Tidak ada gunanya bertarung jika tidak menang."

Aryuu mendengar komentar itu, tetapi dia tidak terlalu peduli.

Dia datang ke akademi bukan untuk membuktikan dirinya kuat... tapi untuk menikmati pengalaman menjadi manusia biasa.

---

Pengumuman Dimulai!

Profesor Ragnir (mengangkat tongkatnya) : "Dengarkan baik-baik! Aku akan mengumumkan hasil akhir tes akademi!"

Seluruh aula menjadi hening.

Para murid menahan napas, menunggu nama mereka dipanggil.

Profesor Ragnir mulai membaca peringkat dari yang terendah ke yang tertinggi.

"Peringkat 50 hingga 40..."

"Peringkat 39 hingga 30..."

"Peringkat 29 hingga 20..."

Aryuu masih belum mendengar namanya.

"Peringkat 19 hingga 10..."

"...Masih belum juga?" gumam Aryuu dalam hati.

Lalu, akhirnya...

"Peringkat 9 – Aryuu."

Mata Aryuu membesar sesaat.

Peringkat 9?

Dia benar-benar masuk 10 besar?

---

Reaksi Para Murid

Seluruh aula langsung ramai.

"Apa?! Aryuu masuk peringkat 10 besar?"

"Tidak mungkin! Padahal sebelumnya dia berada di peringkat terbawah!"

"Dia bahkan mengalahkan Ragnar dan hampir menang melawan Mark..."

"Bahkan dengan jumlah mana paling rendah, dia tetap bisa bertarung sejauh itu..."

Beberapa murid mulai melihat Aryuu dengan rasa hormat.

Namun, ada juga yang tidak bisa menerima kenyataan.

"Kenapa dia bisa naik setinggi itu? Aku tidak terima!"

"Dia cuma beruntung!"

Aryuu hanya menghela napas.

Dia sudah menduga akan ada reaksi seperti ini.

---

Peringkat Teratas

Profesor Ragnir melanjutkan.

"Peringkat 8 – Leonhardt"

"Peringkat 7 – Sylvia"

"Peringkat 6 – Raizel"

"Peringkat 5 – Kairos"

"Peringkat 4 – Lucrezia"

"Peringkat 3 – Fiona"

"Peringkat 2 – Ragnar"

Dan akhirnya...

"Peringkat 1 – Mark Galdatiors."

Mark tersenyum bangga, sementara Ragnar menghela napas, masih sedikit kesal karena kalah dari Aryuu sebelumnya.

Ragnar (berdiri, menatap Aryuu) : "Jangan berpikir kau sudah lebih kuat dariku, Aryuu. Kita akan bertarung lagi suatu hari nanti."

Aryuu (tersenyum santai) : "Aku menunggu saat itu datang."

---

Kenaikan Kelas!

Profesor Ragnir melanjutkan pengumuman.

"Karena hasil tes ini, beberapa siswa akan mengalami kenaikan kelas!"

Suasana menjadi semakin tegang.

"Jangan-jangan... Aryuu juga naik kelas?"

"Mark Galdatiors – tetap di Kelas C sebagai siswa tingkat atas!"

"Ragnar – naik ke Kelas B!"

"Fiona – naik ke Kelas B!"

"Aryuu – naik ke Kelas C!"

Seluruh aula langsung meledak dengan berbagai reaksi.

"Apa?! Dia langsung naik ke Kelas C?!"

"Tidak mungkin... dia benar-benar naik kelas!"

Beberapa siswa yang sebelumnya meremehkan Aryuu langsung terdiam.

---

Setelah Pengumuman

Setelah upacara selesai, Aryuu berjalan keluar aula bersama Akeno dan beberapa teman lainnya.

Akeno (tersenyum) : "Selamat, Aryuu! Kau naik kelas!"

Aryuu (menggaruk kepala) : "Haha... aku sendiri tidak menyangka."

Mark tiba-tiba muncul di depan mereka, menepuk bahu Aryuu.

Mark : "Selamat. Kau pantas mendapatkan tempat itu. Tapi jangan berpikir aku akan membiarkanmu menang lain kali."

Aryuu (tersenyum) : "Aku juga tidak akan kalah begitu saja."

Meskipun masih banyak yang meragukannya, Aryuu akhirnya membuktikan dirinya.

Namun, perjalanan di akademi baru saja dimulai...

bab 12: bersambung