Aryuu the unknowable god-Chapter 11: Bab 10 - Perang Para Dewa: Konspirasi di Balik Kehancuran
Chapter 11 - Bab 10 - Perang Para Dewa: Konspirasi di Balik Kehancuran
Setelah kehancuran Lucius Palsu... sesuatu yang lebih besar mulai terjadi.
Keheningan setelah pertempuran itu tidak berlangsung lama.
Gelombang energi dari kehancuran anomali itu menyebar ke seluruh eksistensi, menembus lapisan-lapisan realitas, dimensi, dan tatanan kosmik yang bahkan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Para dewa... merasakan sesuatu yang asing.
Bukan sekadar gangguan kecil.
Ini adalah ketidakseimbangan absolut.
Sesaat setelah itu—
BUM!
Sebuah ledakan dimensi terjadi di berbagai belahan omniverse.
Gerbang-gerbang mulai terbuka.
Ratusan, ribuan, bahkan jutaan dewa, entitas kosmik, dan makhluk transenden mulai bergerak.
Pasukan Agung turun dari dimensi tertinggi.
Pasukan Iblis bangkit dari jurang kegelapan.
Pasukan Kosmos bergerak dari celah antar realitas.
Pasukan Cahaya datang dengan pancaran yang bisa menghapus kegelapan.
Pasukan Kegelapan menjalar seperti wabah tanpa batas.
Dan di atas semua itu... Para Pencipta, Para Dewa Narasi, Para Tuhan Takdir, dan entitas yang mengatur alur realitas turut turun ke medan pertempuran.
Tujuan mereka hanya satu: Melenyapkan Aryuu.
Namun, di tengah lautan pasukan yang tak terhitung jumlahnya...
Aryuu hanya tersenyum.
---
Di Medan Pertempuran Luar Kosmik
ZUUUUUUUUUMMMM!!!
Ledakan energi yang tak terhingga terjadi di berbagai titik. Ruang dan waktu retak, dimensi-dimensi mulai saling berbenturan.
Di tengah kekacauan ini, Aryuu berdiri seorang diri.
Dikelilingi oleh jutaan entitas kosmik yang siap menghabisinya.
Aryuu (menatap dingin) : "Jadi, kalian semua akhirnya muncul."
Dewa Takdir (berbicara lantang) : "ARYUU, SANG ANOMALI TERBESAR! KEHADIRANMU TELAH MERUSAK KESEIMBANGAN REALITAS!"
Dewa Narasi (menyela) : "KAMI ADALAH PARA PENGATUR SEGALA SESUATU! KAU ADALAH CACAT YANG HARUS DIHAPUS!"
Para pasukan mulai mendekat.
Suasana semakin memanas.
Namun... Aryuu hanya terkekeh.
Aryuu (tersenyum gila) : "Hapus aku? Cacat? Kalian pikir siapa yang sebenarnya berada di posisi ini?!"
"AKU ADALAH ARYUU, THE UNKNOWABLE GOD!"
"KAU TIDAK BISA MENGHAPUS SESUATU YANG MELAMPAUI SEGALANYA!"
Seiring dengan suaranya yang mengguncang realitas...
Dia menghunus pedangnya.
Dan dalam satu kilatan cahaya...
Perang pun dimulai.
---
Pertempuran Dimulai!
SWOOSH!
"AAAAARRRGHHHH!!!"
Satu tebasan—puluhan dewa langsung terbelah.
BOOM!
Ledakan demi ledakan mengguncang lapisan-lapisan realitas.
Dua juta pasukan iblis melesat ke arah Aryuu, mengerahkan kekuatan yang dapat menghancurkan omniverse.
Namun—
SLASH!
Satu kali tebasan dari Aryuu, dan semua pasukan itu menghilang dari keberadaan.
Dewa Pencipta (kaget) : "T-TIDAK MUNGKIN!!"
Namun, mereka tidak bisa mundur.
Ratusan juta pasukan lainnya menyerang dari segala arah.
Tebasan cahaya, kutukan kegelapan, energi kosmik, kehancuran mutlak—
SEMUA MENGHANTAM ARYUU SECARA BERSAMAAN!
DZZZZZZZTTT!!
Ledakan tak terhingga menghancurkan seluruh ruang di sekitar mereka.
Namun, dari dalam kehancuran itu...
Aryuu masih berdiri.
Tidak ada satu pun luka di tubuhnya.
Aryuu (menatap tajam) : "Itu saja?"
Dia mengangkat tangannya.
BOOOOOOOM!!!
Dalam sekejap, jutaan pasukan langsung hancur menjadi abu.
Namun, para dewa tidak berhenti.
Mereka terus menyerang.
Aryuu... menyambut semuanya dengan senyum maniaknya.
Dia menebas, menghancurkan, memusnahkan, menelan, bahkan merekonstruksi serangan musuh menjadi serangannya sendiri.
Tebasan demi tebasan, ledakan demi ledakan—
Pertempuran ini tidak memiliki henti.
Namun, di balik kegilaannya...
Aryuu mulai berpikir.
Jika ini terus berlanjut...
Bumi—dunia tempatnya tinggal—akan merasakan dampaknya.
Aryuu (mendengus) : "Tch. Ini mulai merepotkan."
Tiba-tiba, seluruh medan perang membeku.
Para dewa, pasukan, bahkan waktu itu sendiri terhenti.
Sebuah tekanan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya memenuhi seluruh realitas.
Aryuu mulai berbicara.
Aryuu (tenang) : "Dengar, aku bisa membantai kalian semua sampai tidak tersisa, dan aku yakin kalian pun tahu itu."
Aryuu (menatap para dewa) : "Tapi aku tidak tertarik membuang waktuku untuk sampah seperti ini."
Dia menyimpan pedangnya.
Aryuu (dingin) : "Jika kalian tetap memaksa, maka aku tidak akan segan untuk menghapus eksistensi kalian selamanya."
Para dewa saling berpandangan.
Mereka tahu...
Jika Aryuu benar-benar serius, mereka semua akan musnah.
Dewa Takdir (menghela napas) : "Tch... Sang Anomali memilih untuk berdamai?"
Dewa Narasi (menggertakkan gigi) : "Kita tidak punya pilihan... Jika kita terus memaksa, kita hanya akan menjadi debu di tangannya."
Akhirnya, satu demi satu pasukan mulai mundur.
Para dewa, para pencipta, dan entitas yang tadinya bersiap untuk perang... perlahan menghilang dari medan pertempuran.
Hanya Aryuu yang masih berdiri di sana.
Aryuu (tersenyum tipis) : "Itu lebih baik."
Dengan satu gerakan tangannya, dia kembali membuka portal.
Saatnya kembali ke Bumi.
---
Setelah Perang...
Di Bumi, segalanya masih berjalan seperti biasa.
Manusia tidak menyadari apa pun.
Namun, di langit...
Sebuah bayangan hitam melintas.
Aryuu (menatap ke bawah) : "Hah... akhirnya bisa istirahat."
Dia berjalan kembali ke kehidupannya sebagai manusia biasa.
Namun, dia tahu...
Ini belum berakhir.
Sesuatu yang lebih besar sedang menunggu di balik bayangan.
Namun, untuk saat ini...
Aryuu memilih untuk menikmati waktunya di dunia ini.
Bab 11 - Perang Para Dewa & Kembalinya Sang Anomali (Tambahan)
Setelah pertempuran besar yang mengguncang seluruh realitas, Aryuu akhirnya kembali ke Bumi.
Namun, ada satu hal yang tidak ia sadari...
Dia telah menghilang selama lima hari.
---
Kembali ke Dunia
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya saat Aryuu berjalan santai di jalanan kota.
Langit tampak cerah, matahari bersinar lembut, dan kehidupan manusia berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang menyadari bahwa beberapa hari yang lalu, pertempuran terbesar dalam sejarah realitas baru saja terjadi.
Aryuu (menengadah) : "Hah... akhirnya bisa sedikit rileks."
Namun, saat dia hendak menuju ke akademi...
BRAK!
Tiba-tiba seseorang menabraknya dari samping.
Akeno Akame.
Mata gadis itu melebar begitu melihat Aryuu.
Akeno (terkejut) : "A-Aryuu?!"
Aryuu (miringkan kepala) : "Hah? Ada apa?"
Akeno langsung meraih lengannya dengan ekspresi marah dan khawatir bercampur jadi satu.
Akeno (menggertakkan gigi) : "KEMANA SAJA KAU SELAMA INI?!"
Aryuu berkedip beberapa kali, tidak mengerti dengan reaksinya.
Aryuu (santai) : "Cuma pergi sebentar..."
Akeno (kesal) : "Sebentar? SEBENTAR KATAMU?!"
Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya.
Akeno (memelototi Aryuu) : "Kau menghilang selama lima hari, tahu?! Ibumu khawatir setengah mati, semua orang di kelas berpikir kau marah dan pergi karena kata-kata mereka! Bahkan aku..."
Dia menggigit bibirnya, seolah menahan emosinya sendiri.
Akeno (suara melemah) : "Aku juga... mengira kau tidak akan kembali..."
Aryuu terdiam sejenak.
New n𝙤vel chapters are published on freeweɓnøvel.com.
Dalam pikirannya, lima hari itu hanya terasa seperti beberapa saat saja.
Namun, di dunia ini, semuanya tetap berjalan normal... dan ternyata orang-orang di sekitarnya benar-benar mencarinya.
Aryuu (mendengus pelan) : "Hah... aku terlalu sibuk sampai lupa waktu rupanya."
Akeno menatapnya dengan ekspresi serius.
Akeno (menyipitkan mata) : "Jangan menghilang lagi tanpa kabar, mengerti?!"
Aryuu (tersenyum tipis) : "Baik, baik... aku mengerti."
---
Di Akademi Sihir
Saat Aryuu tiba di kelasnya, suasana langsung berubah hening.
Semua mata tertuju padanya.
Banyak dari mereka yang tadinya mencibirnya kini terlihat agak gelisah.
Bahkan wali kelasnya, seorang penyihir tingkat tinggi bernama Profesor Ragnir, menatapnya dengan ekspresi serius.
Profesor Ragnir (berdehem) : "Akhirnya kau muncul, Aryuu."
Aryuu (mengangguk santai) : "Ya, aku cuma sedikit sibuk."
Suara bisik-bisik terdengar di antara murid-murid.
Murid 1 (berbisik) : "Apa dia marah gara-gara kita menghina level mana-nya?"
Murid 2 (gemetar) : "Jangan-jangan dia punya kekuatan tersembunyi?!"
Murid 3 : "Aku dengar ibunya datang ke akademi untuk menanyakan keberadaannya..."
Wali kelas mendesah, lalu melipat tangannya.
Profesor Ragnir : "Lain kali, jika kau ada urusan penting, setidaknya beri tahu seseorang. Lima hari tanpa kabar membuat banyak orang mengira hal buruk telah terjadi."
Aryuu hanya mengangguk, tak terlalu peduli.
Namun, sebelum dia duduk, salah satu murid yang dulu sering mengejeknya—seorang bangsawan bernama Cedric van Albrecht—tiba-tiba berbicara.
Cedric (canggung) : "Uh... Aryuu... kau baik-baik saja?"
Aryuu (mengangkat alis) : "Tentu saja. Kenapa?"
Cedric (berdehem) : "Aku... kami... uh, mungkin kami terlalu keras padamu sebelumnya. Kami pikir kau sakit hati dan memutuskan pergi..."
Aryuu hanya tersenyum miring.
Aryuu (menatap Cedric) : "Sakit hati? Karena omongan kalian?"
Dia terkekeh pelan.
Aryuu (menyeringai) : "Aku tidak serapuh itu."
Cedric menelan ludah, lalu duduk kembali.
Akeno yang duduk di samping Aryuu hanya mendengus.
Akeno (berbisik) : "Lihat? Mereka semua merasa bersalah sekarang."
Aryuu (tersenyum tipis) : "Itu bukan urusanku."
Aryuu (berkata dalam hati sambil menahan tawa agar terlihat tidak peduli): "seru sekali melihat ekspresi mereka yang tadinya mengejek sekarang seperti memelas hehahaha!!"
Meskipun dia tidak peduli dengan pendapat orang lain, situasi ini sedikit menghiburnya.
Bagi mereka, dia hanyalah anak dengan energi mana paling lemah.
Tapi mereka tidak tahu... dalam lima hari itu, dia telah menghadapi ratusan juta dewa dan menghapus keberadaan mereka dari realitas.
Namun, tidak ada gunanya mengungkapkan kebenaran.
Untuk saat ini, Aryuu memilih untuk tetap berada dalam perannya sebagai manusia biasa.
Dia duduk dengan santai, menunggu kelas dimulai.
Namun, jauh di dalam hatinya...
Dia tahu bahwa ini hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.
---
(Bab 11 Tamat)
Bab 12 - Duel Akademi! Ujian Penentuan