The Shattered Light-Chapter 200: – Pertarungan Terakhir: Cahaya dan Bayangan
Langit memerah. Fajar belum sepenuhnya muncul, tapi cahaya pertempuran telah lebih dulu menyala.
Benteng terakhir Ordo Cahaya menjulang di kejauhan—sebuah istana batu berlapis simbol keabadian yang kini mulai runtuh dimakan waktu dan perang. Di hadapannya, pasukan Kaelen berdiri tegak, menunggu aba-aba.
Tapi di sebuah celah sempit antara reruntuhan dan lembah dalam, dua sosok berdiri saling berhadapan. Tidak ada pasukan. Tidak ada saksi. Hanya dua kutub kekuatan yang pernah saling menyelamatkan, kini saling membinasakan.
Kaelen menatap Eryon. Jubah pria itu robek, namun tubuhnya masih berdiri tegak. Cahaya redup dan bayangan pekat berputar-putar di sekelilingnya, seperti dua kekuatan bertolak belakang yang berebut kendali.
“Aku sudah tahu ini akan berakhir begini,” kata Eryon. Suaranya tenang, tapi matanya menyimpan badai. “Kau datang, seperti yang kuduga. Sendirian. Demi kehormatan atau... demi pengampunan?”
“Bukan keduanya,” jawab Kaelen. “Aku datang untuk mengakhiri ini sebelum lebih banyak yang mati karena kesalahan kita.”
Eryon tertawa pendek. “Lucu. Karena aku pikir kesalahanmu adalah berpikir bahwa kau masih bisa menyelamatkan siapa pun.”
Kaelen mencabut pedangnya. “Mungkin aku tidak bisa menyelamatkan dunia. Tapi aku bisa menyelamatkan diriku... dari menjadi seperti kau.”
Serangan pertama datang tiba-tiba. Kilatan cahaya meledak di udara, menciptakan gelombang kejut yang mengguncang bumi di bawah kaki mereka.
Kaelen menghindar, lalu membalas dengan tebasan horizontal. Eryon menyambutnya dengan perisai bayangan, lalu melompat ke belakang, menyerang balik dengan energi gelap yang berdenyut.
“Dulu aku percaya pada Ordo,” kata Eryon saat mereka bertarung. “Aku percaya pada keseimbangan. Tapi saat dunia hanya memilih satu sisi, kau harus menjadi sisi lain. Bahkan jika itu berarti menjadi iblis.”
Kaelen menangkis, lalu mengirimkan hantaman energi murni ke arah Eryon. “Dan kau memilih menjadi iblis sepenuhnya, kan?”
Eryon menangkis. “Karena hanya iblis yang didengar dunia ini.”
Pertarungan berlangsung sengit. Setiap tebasan Kaelen penuh amarah yang tertahan, sementara setiap serangan Eryon seperti diarahkan untuk menguji batas emosinya. Pedang, bayangan, cahaya—semua menari dalam koreografi kematian yang memikat.
Namun di sela denting senjata, ada suara lain. Suara Lyra.
Ia datang dari sisi tebing, berlari dengan napas tertahan. “Kaelen! Jangan biarkan dia...!”
Tapi suara itu terlambat. Eryon menghantam Kaelen dengan ledakan bayangan yang menghancurkan tanah di bawahnya. Kaelen terlempar, jatuh menghantam batu.
“Lyra!” Kaelen berteriak saat melihatnya mendekat.
Eryon bergerak cepat. Dengan satu gerakan tangan, ia menahan Lyra di tempat, membekukannya dalam pusaran energi tak terlihat.
“Aku tahu dia akan datang,” ujar Eryon sambil mendekat ke Lyra. “Karena itulah aku menunggu. Bukan untuk membunuhmu, Kaelen. Tapi untuk mengambil yang paling kau jaga... agar kau tahu rasanya menjadi sepertiku.”
Kaelen berdiri perlahan, tubuhnya berdarah. “Kau menyentuh dia, dan aku...”
“Kau apa?” Eryon menyeringai. “Kau akan meledak lagi? Lupa lagi siapa dia? Sungguh ironi, bukan? Semakin kau mencintai seseorang, semakin besar kemungkinan kau akan kehilangannya dari dalam kepalamu.”
Kaelen gemetar. Emosi dan kekuatan dalam dirinya mulai mendidih.
Lyra menatap Kaelen dari pusaran yang mengurungnya. Ia hanya mengucap dua kata: “Ingat aku.”
Dan dunia berhenti.
Kaelen menutup mata. Ia menarik napas dalam-dalam. Dan kali ini, untuk pertama kalinya sejak lama, ia menolak kekuatan yang mencoba mengambil alih. 𝒻𝘳𝘦𝘦𝘸ℯ𝒷𝘯𝘰𝑣ℯ𝑙.𝘤𝑜𝘮
Ia tidak ingin kekuatan yang memaksanya melupakan.
Ia ingin bertarung sebagai manusia.
Ia membuka mata. Penuh cahaya. Tapi bukan cahaya dewa. Bukan kekuatan dari Relik. Tapi cahaya dari hati seorang manusia yang menolak dikendalikan.
“Aku tidak akan melupakan dia. Tidak lagi.”
Dengan satu teriakan, Kaelen berlari—bukan dengan kekuatan gelap atau terang, tapi dengan keberanian.
Serangannya menembus pusaran bayangan. Menebas pusaran di sekitar Lyra, mematahkan cengkeraman Eryon. Ia lalu menangkis serangan balik lawannya dengan ketenangan yang baru.
Eryon mundur, terkejut. “Apa yang kau lakukan?!”
Kaelen tersenyum, luka di wajahnya seperti tak terasa lagi. “Aku memilih untuk mengingat. Bahkan jika itu menyakitkan. Bahkan jika aku harus bertarung sebagai manusia biasa.”
Eryon meraung, lalu menghantam Kaelen dengan kekuatan puncaknya. Tapi Kaelen kini bukan sekadar Kaelen yang dulu.
Ia menghindar dengan presisi. Menyerang balik. Dan akhirnya, satu tebasan pedangnya menusuk dada Eryon—bukan membunuh, tapi menghentikan aliran kekuatan yang membuncah di dalam tubuh pria itu.
Eryon terjatuh, tubuhnya perlahan memudar, cahaya dan bayangan menguap bersamaan.
Kaelen mendekat, menatapnya. “Kenapa kau tak mengakhirinya sejak dulu?”
Eryon mengangkat kepala dengan sisa tenaganya. “Karena... aku ingin tahu apakah kau akan menjadi aku... atau tetap menjadi dirimu.”
Kaelen menatap kosong.
Eryon tersenyum lemah. “Dan ternyata... kau lebih kuat dari yang kukira.”
Tubuh Eryon lenyap dalam dentingan angin.
Langit cerah. Pasukan Kaelen berhasil merebut benteng. Perang besar itu, untuk saat ini, berakhir.
Lyra duduk di sisi Kaelen yang diam menatap reruntuhan.
“Apa kau ingat namaku?” tanyanya pelan.
Kaelen memandangnya. “Lyra.”
Ia tersenyum.
“Dan pita ini,” Kaelen mengeluarkan pita dari balik bajunya, “selalu menyelamatkanku.”
Lyra menggenggam tangannya erat.
“Selamat datang kembali,” bisiknya.







